
Farah sampai di halte bus, ia melihat Ray dengan gaya yang merakyatnya. Hari ini Farah sedang tidak bersemangat untuk kabur dari Ray, ia membiarkan Ray yang menyapa dirinya.
Mengapa hari ini Farah terlihat muram?
Ray melihat Farah yang sangat kacau meskipun penampilannya rapi. Ia melihat mata Farah yang sembab.
Sepertinya dia habis menangis semalaman.
Farah duduk di ujung halte berusaha menutupi raut wajahnya dengan menunduk berusaha tidak menggubris Ray yang berada di sampingnya.
Ray membuka kotak bekal yang ia bawa, menyodorkan roti isi coklat kepada Farah.
“Ini, aku tahu kamu sedang bersedih. Ini makanlah,” ucap Ray sambil menyodorkan sepotong roti isi coklat kepada Farah.
Farah hanya memandang lelaki yang menyodorkan roti isi coklatnya.
Mengapa dia selalu baik, tapi aku selalu mengabaikannya.
“Kamu enggak mau? Tenang ini enggak ada racunnya. Aku membuatnya sendiri! Kalau nggak percaya ini aku buktikan.” Ray menggigit ujung roti yang berbentuk segitiga dan mengunyahnya.
“Benarkan ini tidak ada racunnya. Aku tahu kamu belum sarapan dan ini aku buat khusus untuk kamu.” Ray menyodorkan kotak makanannya kepada Farah.
Farah memang tidak sarapan, ia sudah tidak berselera makan sejak kemarin malam. Farah merasa Ray baik tidak memaksa seperti dulu.
Dia membuat roti ini untukku?
Farah melihat ada tiga plester yang menempel di tangan Ray. Farah yakin Ray memang berusaha membuat roti ini dengan susah payah. Ia menghargai usaha Ray, dan mengambil sepotong roti yang berada di kotak makan yang Ray sodorkan untuknya.
Ray melihat Farah mengambil sepotong roti yang ia buat tadi dan memakannya. Tiba-tiba bus koridor 2A berhenti di halte itu. Farah tidak bergegas untuk naik, ia masih diam di tempatnya.
“Kamu tidak naik bus?” tanya Ray yang melihat bus koridor 2A yang sudah meninggalkan halte itu.
“Aku ingin menghabiskan roti isi coklat ini,” jawab Farah yang masih sibuk menggigit roti.
Ray tak percaya dengan jawaban Farah. Ia tertegun melihat Farah yang masih memakan roti isi coklat yang ia buat. Ray juga menyodorkan satu cup yang berisi susu segar.
Farah dan Ray menikmati sarapan mereka di halte. Sesekali Ray mencuri pandang, melihat Farah yang sedang menikmati roti itu. Farah sudah habis dua potong roti rasa coklat dan keju. Ia juga telah menghabiskan satu cup susu segar yang Ray bawa.
“Terima kasih ya Pak Ray atas sarapannya,” ucap Farah sopan.
__ADS_1
“Itu terlalu formal, panggil saja aku Ray.”
“Terima kasih Ray, roti isi coklatmu sangat lezat.” Farah tersenyum.
Untuk pertama kalinya Ray melihat Farah tersenyum tulus hanya untuk dirinya. Ia merasa sangat bahagia.
“Aku minta maaf untuk perkenalan pertama kita, dan aku sering kurang ajar terhadapmu,” ucap Ray.
Farah hanya mengangguk pelan.
“Aku harap kita bisa jadi teman.” Ray tersenyum lebar.
Farah tidak menjawab. Bus koridor 2A berhenti di halte dekat gapura perumahan. Farah langsung menaiki bus itu dan duduk di dekat pintu. Itu tempat duduk favoritnya.
Ray menyusul Farah dan duduk berhadapan dengan Farah. Ia memandangi Farah, namun yang dipandangi mengalihkan wajahnya untuk menatap jendela.
Farah kembali muram. Ia teringat bagaimana kabar Ilham sudah. Farah sangat berharap agar Ilham hari ini pulang. Ia mencoba menghubungi Ilham. Masih sama tidak ada jawaban.
Cepat sekali senyumnya pudar, apa dia memiliki masalah? Atau jangan-jangan dia memiliki hutang?
Ray mencoba menerka-nerka dalam pikirannya.
Halte dekat perguruan tinggi itu sepi menyisakan Farah dan Ray. Farah mendongak melihat langit, hangat mentari tidak menyetuh kota ini. Mendung itu seperti muramnya Farah.
Ray masih terdiam merasa ingin berbicara lebih banyak dengan Farah. Ia sudah melihat pudarnya senyuman perempuan itu. Ia berharap perempuan itu baik-baik saja.
“Kenapa masih di sini? Bukankah ada perusahaan yang harus kamu pimpin?” ujar Farah melihat Ray yang masih berada di halte itu.
“Memang, tapi aku memiliki pekerjaan baru yaitu mengantarkan temanku agar selamat sampai tujuan,” jawab Ray
“Apakah kamu akan melakukan hal ini setiap hari? Kamu memiliki banyak waktu dan uang untuk apa kamu repot-repot mengantar aku?”
“Karena aku menyukai pekerjaan ini.”
Farah tidak melanjutkan percakapan ini, ia melangkah dari halte itu. Untuk sampai ke kedai ia harus menyeberangi jalan raya. Farah berjalan dengan pandangan ke depan namun pikirannya tidak berada di situ.
Farah tidak menyadari ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, mobil itu sudah menekan klakson dengan nyaring. Farah tidak mendengarnya, telinganya sudah sesak dengan suara-suara yang muncul dari pikirannya yang melayang entah di mana.
Ray melihat itu. Ia berteriak, “FARAAHH ...!”
__ADS_1
Dengan sigap Ray menarik tas Farah sehingga tubuh Farah ikut tertarik. Ray berusaha untuk menjauhkan tubuh Farah dari jalan raya itu. Seperkian detik, Ray menyelamatkan Farah. Mereka terjatuh di pinggir jalan. Punggung Ray membentur trotoar. Farah terseret namun tidak terluka kondisinya masih kaget. Ray melakukan aksi heroik itu.
Farah bangun dan melihat Ray meringis kesakitan karena punggung Ray menbentur trotoar demi menyelamatkan Farah.
“Ray! Ray, kamu tidak apa-apa?” tanya Farah panik. “Ray ...!”
Farah menangis melihat Ray yang masih terkapar di dekat trotoar.
Farah mengutuki dirinya yang ceroboh tidak melihat mobil yang melaju bahkan ia melamun saat menyeberang jalan. Farah menangis.
Ray malah tertawa walaupun ia merasakan kesakitan. Farah menghentikan tangisannya ketika melihat Ray yang masih bisa tertawa.
“Kamu nggak apa-apa kan Ray? Atau kita harus ke rumah sakit?” tanya Farah panik.
“Kamu mengkhawatirkan aku ya?” Ray yang tertawa namun juga merasa sakit.
Ray berdiri untuk memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. “Aku tidak apa-apa, tidak perlu dikhawatirkan.”
Farah menunduk, ia merasa bersalah kepada Ray. Mungkin jika hari ini Ray tidak mengikutinya, pasti Farah sudah mengalami kecelakaan.
“Terima kasih telah menyelamatkanku,” ucap Farah.
Ray tersenyum. “Aku antar sampai cafe.”
Farah tidak menolak. Ray menyeberangkan Farah dan mengantarkannya sampai di pelataran cafe. Beruntung cafe masih dalam keadaan sepi tidak banyak orang yang tahu jika Farah diantar oleh seorang pemilik perusahaan kontruksi yang terkenal.
“Terima kasih Ray, dan aku minta maaf karena sering mengabaikanmu,” ucap Farah.
Ray tersenyum. “ Iya, selamat bekerja. Jangan lupa tersenyum Nona Cantik. Nanti aku akan kembali lagi.”
Farah tersenyum menatap wajah Ray.
Sebenarnya lelaki ini memiliki banyak cinta, namun dia mencintai perempuan yang salah.
Setelah mengatakan itu, Ray berlari keluar dari pelataran cafe.
Farah memandangi sosok lelaki yang telah menyelamatkanya itu pergi, dan menuju halte dekat kedai. Ia merasa bersalah karena sudah mengabaikan Ray beberapa hari ini.
“Semoga Ray lekas tahu, bahwa perempuan yang sedang dia ikuti ini sudah bersuami,” guman Farah.
__ADS_1