Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 39


__ADS_3

Ray masih mengingat Anneline selama ini. Beberapa hari yang lalu ia sempat bertemu dengan perempuan ini di Mall Kota Zen.


Namun Ray tidak berniat mengejarnya, ia hanya ingin beranjak pergi dari luka yang digoreskan oleh kelembutan seorang perempuan yang bernama Anneline.


Masih terekam jelas bagaimana Anneline suka bercerita tentang yang dia sebut lelaki es yang menyejukkan.


Anneline mengenal lelaki es itu saat ia duduk di bangku SMA barunya.


***


“Hay Ray, aku bawakan cookies buatan ibu,” ucap Anneline saat memasuki kamar Ray.


Ray sudah terbiasa dengan kelakuan Anneline yang selalu masuk ke kamarnya tanpa ucapan permisi. Anneline sudah duduk di jendela kamar Ray. Dan itu tempat favorit Ray untuk mengamati kegiatan Anneline saat di kolam renang.


“Terima kasih Anne,” jawab Ray yang masih sibuk mengerjakan tugas di meja belajarnya.


“Ray, Aku ingin menceritakan rahasiaku padamu. Tapi kamu harus berjanji jangan menyebar luaskan rahasia ini kepada siapapun termasuk bang Theo,” pinta Anneline.


Ray menyudahi kegiatannya, ia sekarang sudah berbalik badan menghadap Anneline.


“Aku menyukai seseorang Ray,” Anneline mulai bercerita.


Ray gugup mendengar pernyataan itu.


Siapa yang di maksud Anne?


“Siapa?” tanya Ray.


“Dia, lelaki es yang menyejukan hati.”


“Siapa nama lelaki itu?” Ray bertanya kembali. Namun Anneline bergeming, wajahnya memerah.


Sebenarnya Ray menaruh hati pada Anneline, sejak Theo mengajak Ray untuk datang ke rumahnya. Mereka bertentangga.


Ray suka melihat Anneline memakai baju putih abu-abunya menunggu angkutan umum. Terlihat sangat manis. Ray selalu memperhatikan Anneline saat ia membaca buku di dekat kolam renangnya.


***


Ray selalu memastikan halte yang bus ini lalui. Namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Sebentar lagi ia turun di halte dekat perguruan tinggi yang berseberangan dengan cafe milik Ilham.


Benar ia tidak menemukan Farah. Ia terduduk lemas di halte dekat perguruan tinggi. Ray melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam 05.30 sepagi ini ia sudah melakukan perjalanan dari terminal hingga sampai di halte ini.


Sesuai keputusan hatinya, Ray akan menunggu beberapa bus yang akan melewati halte ini. Banyak yang tak menyangka bahwa seseorang yang duduk menyendiri di halte dekat perguruan tinggi itu adalah Ray pemilih perusahaan konstruksi yang kaya raya.


Ia masih menunggu bus kloter berikutnya.


***

__ADS_1


Farah berangkat menuju kedai. Ia sudah hampir sampai halte bus dekat gapura perumahaan. Tiba-tiba Farah tersandung hampir terjerembab karena tali sepatu kiri yang tidak bersimpul dan terinjak oleh kaki kanan.


Farah membetulkan tali sepatunya, mengikatnya dengan kencang supaya simpul tali itu tidak mudah terurai. Setelah selesai, Farah sadar kalau dia sudah ketinggalan busnya. Akhinya ia menunggu bus kloter berikutnya.


15 menit menunggu, bus akhirnya datang. Farah naik ke bus itu dengan tujuan kedai milik Ilham. Farah berharap agar pagi ini ia tidak terlambat. Ia sudah mengirimkan pesan singkat pada Ilham untuk meminta izin bekerja di kedai. Namun Ilham belum membalasnya hingga sekarang. Farah sedikit gelisah.


Tak terasa Farah sudah sampai di halte bus dekat perguruan tinggi. Ia turun dari bus koridor 2A. Farah sedikit terkejut ada seseorang yang duduk di halte tempat pemberhentiannya. Farah merasa tidak asing dengan sosok pria yang duduk itu.


Ray.


Farah yang terkejut melihat Ray dengan penampilan barunya.


Ray mengenal perempuan yang baru saja turun dari bus itu. Ia tersenyum.


Tidak sia-sia aku menunggu.


Dalam hati kecil, Ray bersorak gembira karena penantiannya tidak mengecewakan.


“Selamat pagi.” Ray tersenyum menyapa Farah yang baru saja turun dari bus.


Farah tidak menjawab sapaan Ray. Ia hanya bertingkah seolah tidak mengenal Ray. Farah melangkahkan kaki menyeberang jalan raya untuk menghindari Ray. Ia hanya ingin segera masuk ke kedai.


Ray merasa terabaikan. Akhirnya Ray mengikuti Farah.


Namun Farah tetap saja tidak menggubris. Akhirnya Ray nekat untuk menghadang Farah. Ia bergerak lebih cepat hingga Farah menghentikan langkahnya memasuki pelataran kedai.


“Minggir, Saya harus bekerja! Anda sudah menganggu saya sepagi ini. Tolong segera pergi!” tegas Farah.


Farah sudah membawa semprotan cabai. Kalau Ray berani macam-macam, Farah tinggal menyemprotkan air cabai ini ke wajah Ray.


“Oke, aku akan pergi. Tapi ingatlah ini. Jika kamu bersedia menjadi kekasihku, aku akan menjamin semua kebutuhanmu apapun itu. Selamat pagi dan aku akan kembali lagi nanti, ” ucap Ray.


Setelah Ray berbicara kemudian ia pergi ke arah halte dekat kedai Ilham.


Farah masih terpaku di tempat. Ia melihat di sekelilingnya berharap tidak ada yang melihat kejadian ini. Beruntung ini masih pagi, belum banyak orang yang datang ke kedai. Lalu Farah segera bergegas masuk ke kedai untuk melaksanakan tugasnya.


Pertemuan Farah dan Ray di ketahui oleh Akmal. Sebenarnya Akmal hanya ingin membersihkan halaman pelataran kedai. Ketika mengetahui Ray dan Farah berjalan menuju arah kedai, Akmal bersembunyi di balik semak-semak yang berada di dekat pos keamanan kedai itu.


Akmal semua mendengar percakapan antara Farah dan Ray. Akmal bahkan terkejut dengan pernyataan dari Ray.


Apakah Pak Ilham tahu soal ini? Apa Mbak Farah akan berbohong lagi tentang ini?


***


Farah bekerja seperti biasanya. Para karyawati yang sebelumnya melakukan penyiksaan kepada Farah sudah dikeluarkan dengan paksa oleh Akmal, dan telah berganti dengan tenaga kerja yang lebih muda dan berkelakuan baik. Farah mulai bekerja dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam.


***

__ADS_1


Ilham telah sampai di Kota Zen. Ia menempuh lima jam perjalanan. Sekarang ia harus memesan kamar hotel untuk menginap selama beberapa hari kedepan di Kota Zen.


Ilham memiliki waktu tujuh hari untuk mencari keberadaan Anneline di Kota Zen, kota besar yang luasnya lima kali dari kotanya sendiri. Ia sudah menyusun rencana dari mana ia menyisir kawasan ini.


Mulai hari ini Ilham akan mencari disetiap pusat perbelanjaan di kota Zen. Ilham sangat berharap agar ia bisa bertemu dengan Anneline apapun yang terjadi.


***


Pukul 21.00. Jam kerja Farah telah berakhir. Ia harus segera pulang ke rumah. Bu Tin sudah cuti untuk beberapa minggu kedepan. Ilham masih sibuk dengan kedai barunya, jadi hanya Farah yang berada di rumah.


Farah berjalan menuju halte bus dekat kedai. Ia mengawasi sekitar, Ia sangat takut jika Ray tiba-tiba muncul. Farah duduk di halte sendirian. Ia tetap waspada terhadap keadaan sekitar.


Benar saja Ray muncul entah dari mana dan sekarang duduk di halte itu. Farah bersiaga dengan semprotan air cabainya.


“Selamat malam. Lihat rembulan itu cantik seperti perempuan yang berada di sampingku.” Jari Ray menunjuk ke bulan yang tengah gompal itu lalu menunjuk lagi ke arah Farah.


Semua wanita jika di perlakukan seperti ini pasti akan tersanjung luar biasa. Namun berbeda dengan Farah. Ia malah semakin terganggu dengan kehadiran Ray.


Farah lalu fokus ke ponselnya. Ia berusaha mengabaikan Ray yang sedang berbicara. Farah membuka aplikasi di ponselnya, ia memesan taksi online tanpa sepengetahuan Ray.


“Apa yang kamu inginkan sekarang, uang? Emas? Mobil? Rumah? Atau apa? sebutkan, aku akan menuruti semua permintaanmu, bahkan jika kamu meminta apapun dan saat ini juga akan aku lakukan,” ucap Ray.


Farah memandang Ray. “Aku ingin Anda pergi dari tempat ini,”


“Untuk permintaan ini, aku tidak bisa melakukannya. Aku akan tetap disini mengikutimu untuk memastikan kamu pulang dengan selamat. Dan aku akan naik bus bersamamu,” ujar Ray.


Tak lama kemudian taksi online pesanan Farah sudah sampai di tempat. Ray menghampiri mobil itu.


“Bapak sedang mencai alamat ya?” tanya Ray kepada sopir itu.


“Maaf ini pesanan atas nama mbak Farah?” Sopir itu mengkonfirmasi pesanan di aplikasinya.


“Iya Pak benar, saya Farah yang pesan taksi online bapak,” jawab Farah yang langsung masuk ke dalam mobil.


“Apa?! kamu yang pesan taksi ini! Buka! Buka pintunya!” Ray mengetuk-ngetuk jendela mobil.


“Maaf Mbak, temannya tidak ikut masuk?” Sopir taksi online itu bertanya dengan bahasa yang sopan.


“Jalan saja Pak! Dia bukan teman saya,” jawab Farah.


Taksi itu melaju meninggalkan Ray.


Ray masih tak percaya apa yang di lakukan Farah, ia berlari mengejar taksi itu semampunya.


Farah mengetahui jika Ray mengikuti taksi ini. “Pak sopir, mohon agak lebih cepat dan lewat jalan yang itu ya. Nanti saya tambah tipnya dua kali lipat,” ucap Farah.


Sesuai permintaan penumpangnya taksi itu menambah kecepatan. Ray tidak kuat untuk mengikuti taksi itu. Ia sangat lelah sampai-sampai nafasnya putus-putus mengejar taksi itu.

__ADS_1


“Aku kurang beruntung malam ini,” guman Ray.


__ADS_2