
Episode 215: Air Mata
Ray terdiam ketika melihan kondisi Anneline. Perempuan itu memang tidak terluka berat seperti Farah. Tapi di dalam jiwanya sedang terluka hebat. Bahkan Naresh harus tega memborgol tangan Anneline pada besi ranjangnya.
“Haruskan kamu melakukan seperti ini pada Anne?” Ray menatap Naresh penuh protes. Ia menganggap tindakan ini cukup tidak manusiawi.
Karin yang melihat pemandangan itu langsung bersembunyi di balik punggung Ray, tidak berani berkomentar. Ia melihat wanita ular itu sedang jatuh dalam kekalahanya.
“Anneline tadi sempat sadar dan menyerang Jun. Pihak rumah sakit mengatakan jika Anneline harusnya tidak dirawat di sini.” Naresh menunjuk seprai putih yang bercak darah berwarna kecoklatan. “Dia bahkan melepaskan infus yang terpasang di tangannya dan hampir mencoba bunuh diri dengan pisau buah.”
Ray tahu maksud ucapan Naresh. Semua tersirat alasan mengapa tangan Anneline diborgol. Ia menyesal melibatkan banyak orang dalam memenuhi egonya.
“Hari ini aku mendapat laporan. Anneline adalah otak dalam di balik dua pembunuhan.” Naresh mendesah berat. Terlihat banyak sekali beban yang harus dipikul seorang diri dengan masalah-masalah seperti ini. “Masih banyak sekali misteri baru yang bermunculan, pun banyak fakta yang terungkap. Sampai saat ini Fernando belum tau masalah ini.”
Ray bisa merasakan keresahan Naresh. Apakah ia pantas disalahkan atas kejadian ini? Ray hanya menutup matanya. Mungkin ia hanya bisa membantu meringankan penderitaan Anneline dengan cara mempertaruhkan harga dirinya.
“Sepertinya aku harus segera pamit, Yori.” Ray telah menggenggam tangan Karin, bersiap pergi dari kamar inap ini.
__ADS_1
“Iya. Saya harus berterima kasih padamu, Tuan Wijaya. Jika bukan karenamu, Ilham pasti menuntut Anneline.”
Ray mengangguk lalu pergi meninggalkan Naresh dan Anneline di kamar itu. Karin harus menyesuaikan langkak kaki Ray yang berjalan begitu cepat. Lagi-lagi ia harus menahan rasa sakit di kakinya.
Ray mendapatkan mobilnya kembali. Kali ini Karin tak harus memesan kendaraan, karena ia akan pulang bersama bosnya. Karin menatap manik mata Ray yang menyimpan sesuatu yang amat besar dan membuatnya sakit.
Mobil berjalan sedikit kencang. Karin bisa merasakan ada kemarahan dalam diri bosnya. Dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di kantor. Karin masih bungkam tak berniat untuk bertanya membiarkan Ray dalam ketepurukan.
Tepat saat Ray ingin menutup pintu ruanganya, Karin menahan. “Ada yang ingin saya ambil di meja kerja Bapak.”
Ray membuka lebar pintu itu membiarkan sekertarisnya masuk. Tapi Karin langsung menutup pintu dan menatap Ray.
Ray menatap Karin. “Jadi kamu bandel ya? Mengintip tanpa seizinku.” Ray berjalan menuju kursinya. Hari ini harga dirinya telah hancur, bahkan sekertarisnya pun tahu. Ia bingung mau ditaruh mana wajahnya.
Karin yang merasa pertanyaannya tidak dijawab akhirnya mendekati bosnya. Ia tak mau orang yang ia anggap panutan harus mengalah selemah ini. “Katamu, semua harus diperjuangkan secara tuntas! Halalkan semua cara agar keinginan kita bisa tercapai!” Urat leher Karin terlihat. saat ini ia benar-benar marah dengan bosnya.
“Aku sudah kalah Karin. Tak ada yang bisa diperjuangkan lagi,” jawab Ray. Ia bahkan sudah malas harus berdebat dengan sekertarisnya.
__ADS_1
“Ini bukan Pak Ray yang aku kenal! Pak Rayhan Wijaya yang aku kenal itu orangnya sangat gigih memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya!” Karin berkacak pinggang.
Tiba-tiba satu air mata menetes dari mata Ray. Ia sedikit terisak. “Ini sudah jadi keputusanku, Karin.”
Tiba-tiba Karin memeluk Ray. Ia yakin, untuk saat ini pria ini ingin menangis. “Jika Pak Ray ingin menangis, saya siap untuk menyembunyikannya.”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa