Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 81


__ADS_3

Kehidupan selalu berjalan menggiring semua manusia untuk bergegas melangkah ke depan. Tidak peduli apakah manusia itu diam di masa ini atau manusia itu masih ingin di titik masa lampau. Dia tidak menunggu manusia-manusia yang tidak bisa menerima kehadiran laju waktu yang perputarannya cepat.


Sudah lima hari Ilham tidak pulang ke rumahnya, ia masih berada di Kota Numa. Sudah lima hari juga Ilham tidak bertemu dengan Farah. Walaupun setiap menjelang tidur selalu menghubungi Farah melalui sambungan videocall rasanya tetap saja kurang. Secanggih apapun teknologi abad ini, rasa rindu hanya bisa hilang jika pertemuan itu terjadi. Saling memeluk, bergandengan tangan, tertawa bersama dan memperhatikan senyuman manisnya. Hanya itu obat dari rasa rindu. Pertemuan.


Kedai Numa hampir rampung dalam tahapnya. Sebentar lagi kedai ini akan besar seperti kedai sebelumnya. Tidak salah dalam pemilihan lahan, dan lebih menguntungkan kedai ini dekat dengan perguruan tinggi swasta dan ada perkantoran. Bisa di bilang ini jantungnya Kota Numa.


Ilham merebahkan dirinya pada ranjang, ia telah selesai melepaskan secuil rindu kepada sang pemiliknya. Ilham selalu ingin menatap dengan lekat pemilik rindu yang ia cintai. Dulu Ilham tidak pernah merasakan rindu dalam penantian yang membahagiakan, sekali agaknya setiap waktu rindu selalu berbisik untuk segera kembali pulang ke peraduannya. Teringat, Ilham sering sekali menolak apapun yang Farah berikan, tapi sekarang? Bisa dibilang, cinta datang karena terbiasa, seperti novel yang mula benci jadi rindu.


Ilham tersenyum menatap langit kamar. “Selamat kamu telah memenangkan hatiku, Farah.”


****


Malam semakin larut, ibu bulan masih menyebarkan keindahan sinar lembutnya di cakrawala langit gelap semakin elok terlihat. Farah belum tidur, ia masih menyisir rambut gelombang panjangnya. Ia teringat bahwa yang sering menyisir rambutnya sebelum tidur adalah Ilham. Sekarang ia harus melakukan sendiri kegiatan itu.


Farah memandangin dirinya dari pantulan cermin, rambutnya sudah sangat panjang dan tentu lebat. Ia sangat suka jika suaminya bisa mengelus-elus puncak kepalanya. Farah mengembuskan napas kecewa. Ternyata rindu pun memiliki tuannya, rindu ingin segera kembali pada tuannya. Tangan Farah tidak cukup panjang untuk menggamit dengan erat tangan besar milik Ilham. Ia rindu sosok lelakinya.


Farah berjalan gontai menuju ranjangnya. Ia merebahkan tubuhnya, menghempas jatuh dalam daerah empuknya kasur. Sesekali Farah menolek pada sisi ranjang yang kosong. Ranjang itu sangat lebar dan muat untuk dua orang. Namun lima malam ini ranjang itu hanya terisi satu sisi bagiannya saja. Sisi lain sedang tidak berpenghuni. Sesekali tangan Farah meraih sisi ranjang yang tidak berpenghuni itu. Nihil tidak ada yang bisa ditangkap kecuali udara.


Farah mengembuskan napasnya lagi, lalu ia menatap langit-langit. Kamar ini terasa sepi bagai mengheningkan angin. Setiap sudutnya hanya terlihat kosong melompong tanpa gelak tawa. Farah membetulkan letak bantalnya karena ada perasaan tidak nyaman, kemudian kembali merebahkan tubuhnya lagi. Sekarang perasaan tidak nyaman itu muncul kembali. Untuk kedua kalinya Farah membetulkan letak bantalnya, menepuk-nepuk agar kembali empuk. Namun hasilnya nihil, tidak ditemukan kenyamannya di sana.


Sebagus apapun sebuah bantal, yang selalu membuat nyaman adalah tidur di bahu sang suami. Dan sepertinya Farah sudah candu tidur dalam bahu Ilham. Kebiasaan yang sering mereka lakukan, seperti ritual saat tidur. Jika tidak dilakukan kurang afdal rasanya.


Untuk kedua kalinya Farah mengembuskan napas. Ia memaksa kedua bola matanya untuk tenggelam dalam kelopaknya. Farah memaksa untuk tidur meskipun rasa kantuk tak kunjung datang. Ia mengubah posisi tidurnya menghadap kanan, dirasa tidak nyaman Farah kembali mengubah posisinya menghadap ke kiri. Seperti itu terus, karena kantuk tidak segera datang.

__ADS_1


Rindu sangat bergerilya menapaki setiap jengkal raga dan pikiran ini. Rindu begitu kurang ajar, dia meriaki pada Farah yang merasa ada bagian yang tidak utuh. Ternyata rindu juga memiliki tuan, dan dia ingin segera kembali bertemu dengan tuannya. Agaknya rindu itu perasaan yang rumit. Iya sangat rumit. Rindu itu seperti ibu yang sedang ngidam, jika tidak segera dituruti banyak perasaan yang menyimpang muncul seperti gelisah, amarah yang labil, bahkan sampai bisa merusak apa yang dinamankan mood.


“Kapan mas Ilham pulang?”


Untuk kesekian kalinya Farah mengembuskan napas panjangnya. Ah digelayuti rindu itu menyebalkan, dan Farah merasakan hal yang menyebalkan seluruh dunia ini. Farah langsung saja menarik dirinya dengan selimut hingga menutup kepalanya.


“Akhh! Mengapa harus LDR sih? Lelah dengan rindu!” guman Farah.


Tiba-tiba Farah mendengar sesuatu, ia menajamkan telinganya agar bisa menangkap suara itu. Lenyap. Suara itu lenyap. Lalu Farah mendengar suara jeritan, ia dengan saksama mendengar suara itu. Ini bukan halusinasi!


“Aaakkkh! Sakit! Tolong!”


Benar saja ini suara milik Rahma. Farah segera bergegas menuju kamar Rahma. Ia kaget karena Rahma sudah tergeletak di lantai. Cairan bening mengalir di sela kedua kakinya. Rahma merintih kesakitan.


Farah bingung dengan keadaan ini. “Bukankah tanggal kelahirannya masih seminggu lagi?”


Rahma mengeleng. Wajahnya sudah sangat memucat, keringat bercucuran mengalir deras. Farah lansung kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Ia harus menelepon Akmal. Suara rintihan Rahma kian lama makin terdengar keras dari kamar Farah.


“Pokoknya Kak Akmal segera ke rumah. Penting!” Farah langsung menutup teleponnya sesaat Akmal menyaguhi permintaan istri bosnya. Farah segera mengambil jilbab yang praktis dipakai.


Farah berlari kembali menuju kamar Rahma, ia mengemasi beberapa potong baju bayi berserta kain bedung. Rahma masih merintih kesakitan. Tak lama kemudian Akmal datang, ia menggendarai mobil.


Farah langsung membukankan pintu dan pagar rumahnya. Sesegara mungkin Akmal membawa Rahma ke rumah sakit. Akmal melihat Rahma yang masih merintih kesakitan. Terlihat dengan jelas wajah Akmal yang begitu sangat cemas. Tanpa pikir panjang, Akmal langsung menggendong tubuh Rahma,. Farah membawa tas yang berisi perlengkapan bayi, ia berlari mendahului Akmal untuk membukakan pintu mobil.

__ADS_1


Setelah Rahma masuk ke dalam mobil, Farah kembali harus bergegas mengunci pintu rumahnya. Lalu masuk ke dalam mobil. Akmal dengan sigap menekan pedal gas, ia sedikit memacu kecepatannya laju mobil ini. Farah menenangkan Rahma di kursi penumpang belakang Akmal.


Akmal sekilas melihat raut wajah pucat yang sedang basah bercucuran keringat dari kaca mobil yang terpasang di depan pengemudi. Kaca yang difungsikan untuk melihat keadaan belakang.


Aku mohon, bertahanlah!


Akmal dalam ambang perasaan paniknya.


Tak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Akmal melesat cepat masuk ke dalam halaman rumah sakit. Sesampainya Akmal langsung memanggil perawat untuk membantu Rahma yang akan melahirkan. Dengan sigap kedua perawat itu membaringkan Rahma ke brankar. Kedua perawat itu mendorong brankar ke dalam ruang Verlos Kamer (ruang persalinan).


Adminstrasi untuk Rahma sudah diselesaikan oleh Farah. Saat ini Farah dan Akmal menunggu di luar ruang bersalin. Farah duduk di kursi yang telah di sediakan. Hanya Akmal yang berjalan mondar-mandir dengan penuh kecemasan, seperti suami yang gelisah saat istrinya akan melahirkan.


______________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2