Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 19


__ADS_3

Alarm alami dalam tubuh Farah akhirnya bekerja juga, sudah beberapa hari ini Farah bangun pukul tiga pagi, waktu pertama memang susah, rasanya masih terkantuk-kantuk. Mungkin akan terbiasa jika kegiatan sering dilakukan sesuai jam yang sama.


Hari ini Farah tetap memasak untuk sarapan dan makan siang untuk Ilham. Seperti biasa bu Tin membantu Farah. Ia tak akan menyerah sampai Ilham mau menyantap bekal makan siang darinya.


Hari ini Farah mengagendakan meminta izin libur satu hari. Menurut peraturan yang diberikan oleh Akmal, tertulis bahwa Farah boleh mengambil hari liburnya selain di hari minggu. Besok adalah hari kamis.


Disela waktu sore yang sedikit senggang Farah ingin bertemu Akmal di ruangannya. Farah sudah memiliki janji dengan dokter kandungan. Farah juga sudah menghubungi Rahma agar besok Rahma bisa mempersiapkan diri. Hanya izin dari Akmal yang belum ia dapatkan.


“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, permisi Kak. Mohon waktunya sebentar,” salam Farah ketika masuk ke ruangan Akmal.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Masuk, ada apa ya Mbak Farah ke sini?” tanya Akmal, seraya mempersilahkan Farah untuk duduk.


“Maaf Kak Akmal, saya ingin mengajukan izin, bahwa besok saya ingin mengambil hari libur saya,” jelas Farah.


Akmal tidak langsung menjawab, ia menimang permintaan Farah. Lalu ia memeriksa kalendar kecil yang berada di mejanya.


Mbak Farah hampir seminggu ini tidak mengambil hari libur.


“Memangnya Mbak Farah mengajukan permintaan hari libur karena alasan apa?” tanya Akmal.


“Saya sudah ada janji dengan dokter spesialis kandungan.”


“Baiklah, berhubung besok hari kamis, Mbak Farah boleh izin libur satu hari,” balas Akmal tersenyum sambil meletakkan kalendar kecil itu.


Farah akhirnya berhasil mendapatkan izin dari Akmal. Senyum merekah di lengkungan manis milik Farah. Ia mohon diri untuk melanjutkan sisa pekerjaanya.


***


Setelah dipastikan semuanya selesai, Ilham menghembuskan nafas lega. Ia bisa beristirahat setelah beberapa hari harus menyelesaikan permasalah tanah untuk pembangunan kedai cabang barunya. Ilham sudah mendapatkan lokasi, semua administrasi, serta serah terima kepemilikan tanah secara legal hukum sudah selesai. Dua hari lagi pembangunan kedai akan berjalan.


“Sudah beberapa hari ini aku tidak tahu kondiisi kedai dan kamu Farah,” guman Ilham pada dirinya sendiri.


Ilham lalu menelpon Akmal untuk meminta laporan keadaan kedai beberapa hari ini.


“Hallo, Akmal!” Ilham membuka percakapan.


“Iya Pak, ada yang bisa saya kerjakan?” jawab Akmal di seberang.


“Bagaimana kondisi kedai beberapa hari ini?” tanya Ilham.


“Kedai baik-baik saja Pak, tak ada yang perlu dikhawatirkan.”

__ADS_1


Ilham bersyukur memiliki manager seperti Akmal yang bisa dipercayai.


“Oh ya Pak, selamat ya Pak,” kata Akmal lagi sambil sedikit ada rasa kegirangan.


“Selamat? Selamat untuk apa?” tanya Ilham tak mengerti.


“Selamat, sebentar lagi Pak Ilham akan jadi seorang ayah.”


Apa yang dikatakan Akmal barusan benar? Farah mengandung? Bagaimana bisa, bukankah aku bahkan belum menyentuhnya hingga saat ini?


Ilham bingung dalam pikirnya.


“Tahu dari mana kamu Mal?” tanya Ilham.


“Lho Pak Ilham belum tahu? Tadi mbak Farah sempat meminta izin untuk cuti sehari karena ada janji dengan dokter spesialis kandungan Pak,” jawab Akmal.


Ini benar atau tidak? Akan tetapi Akmal selalu menyampaikan hal dengan jujur, lalu bagaimana ini bisa terjadi?


“Oke kalau begitu, terima kasih Mal,” Ilham mengakhiri percakapan.


“Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bahkan dia tidak mengatakan apapun! Dan besok dia sudah ada janji dengan dokter kandungan.” Ilham yang bingung dengan pernyataan Akmal.


Jarak antar lokasi kedai baru dengan rumanya bisa ditempuh tiga jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Sungguh Ilham dibuat kalut atas pernyataan Akmal tadi. Ia harus meminta penjelasan langsung dari gadis itu.


***


Jam kerja Farah telah habis, sekarang ia segera pulang. Ia menunggu besok untuk mengantarkan Rahma memeriksakan kandungannya.


“Aku sudah tidak sabar untuk besok,” gumannya antusias.


Farah menaiki bus dari kedai menuju rumah. Sesampainya di halte dekat gapura perumahan, Farah memutuskan untuk membeli hand body lotion di minimarket dekat halte itu.


Farah masuk ke minimarket itu dan ada perempuan yang menutup sebagian wajahnya menyusul di belakang Farah. Ia perlu waspada terhadap wanita yang memakai masker itu. Farah hanya harus membeli apa yang ia butuhkan, lalu bayar dan segera pulang.


Tidak disangka ternyata perempuan yang memakai masker tadi membuat sedikit keributan. Ada salah satu penjaga minimarket itu mengetahui bahwa perempuan yang memakai masker hitam tadi sedang menguntit beberapa barang di minimarket.


Adu cekcok antara perempuan bermasker hitam dan dan penjaga minimarket itu terdengar lantang di ruangan minimarket yang lumayan luas ini. Semua pengunjung minimarket kaget dan melihat keributan itu.


Ternyata salah seorang pengunjung minimarket adalah polisi yang sedang bebas tugas, lalu mendatangai keributan itu. Penjaga minimarket ini mengancam perempuan bermasker hitam.


“Ayo mengaku! Benarkan kamu menguntit barang disini! Ayo mengaku! Dasar pencuri!” bentak si penjaga minimarket itu.

__ADS_1


“Aku bukan pencuri! Aku akan bayar kok!” jawab perempuan bermasker hitam yang sudah dilepas paksa oleh penjaga minimarket itu.


“Kalau memang adik bukan pencuri, silahkan bayar barang-barang yang adik ambil tadi,” ujar polisi itu.


Farah melihat semua kejadian itu. Farah tahu kalau perempuan itu mencuri. Sekarang dia terlihat pucat saat disuruh membayar barang yang dia ambil. Farah menuju meja kasir itu.


“Maaf Pak, maaf Kak ini sepupu saya. Dia tadi ikut bersama saya. Kebetulan kita punya daftar belanjaan yang berbeda,” Farah menjelaskan.


Kasir, penjaga minimarket, dan pak polisi itu menatap tidak percaya bahwa perempuan bermasker hitam tadi bukan pencuri.


“Dik, kalau mau ambil barang yang kamu inginkan harusnya bawa keranjang yang sudah disediakan,” ucap Farah kepada perempuan bermasker hitam itu.


Perempuan bermasker hitam itu mengangguk mengiyakan semua apa yang dikatakan Farah.


“Maaf kak, dia bukan pencuri. Tolong total belanjaanya berapa?” kata Farah kepada kasir minimarket itu.


Farah membayar semuanya total barang yang perempuan bermasker hitam ambil. Penjaga minimarket itu lalu meminta maaf kepada perempuan bermasker hitam itu. Pak polisi tadi juga kembali untuk berbelanja. Keributan itu lenyap.


Setelah selesai pembayaran Farah menggandeng perempuan bermasker hitam itu keluar dari minimarket. Hari ini Farah bukan melindungi seorang pencuri, tapi melindungi perempuan yang nekat menguntit barang demi keluarganya. Farah tahu perempuan bermasker tadi hanya mengambil susu, sosis dan sekaleng sarden.


Setelah keluar dari minimarket, perempuan bermasker hitam itu menangis.


“Mengapa, kamu melindungiku? Bukankah kamu juga tahu kalau aku mencuri?!” perempuan itu terisak.


“Setelah ini jangan mencuri lagi,” jawab Farah,“Ini belanjaanmu. Aku tahu, kamu pasti membutuhkan ini untuk keluargamu,” lanjut Farah.


Perempuan itu mengambil kantong kresek pemberian Farah. Ia malu kepada Farah. Nampaknya dari segi umur mereka sebaya.


“Terima kasih. Lain kali jika aku punya uang, akan aku ganti uangmu,” kata perempuan itu.


“Tidak perlu. Aku ikhlas membantumu. Namaku Farah, nama kamu siapa?”


“Namaku Kinan,” jawabnya singkat.


Farah teringat, Ia mengambil secarik kertas dan bolpoint menuliskan namanya sendiri beserta nomor teleponnya.


“Ini, jika kamu butuh teman untuk bercerita atau perlu bantuan bisa telepon aku,” kata Farah menyerahkan secarik kertas kepada Kinan. Dan Kinan menerimanya.


“Aku pulang dulu ya, semoga kita bertemu kembali. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaruh,” salam perpisahan Farah.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” jawab Kinan.

__ADS_1


__ADS_2