Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 207


__ADS_3

Episode 207: Dendam


Naresh sedang duduk di ruang tunggu. Hari ini Kinanti harus menjalani pembedahan kecil di perutnya. Perempuan tua yang kepalanya berdarah juga mendapat perawatan. Tadi, beberapa polisi meminta keterangan. Naresh menjelaskan apa yang ia tahu, hingga Jun berlari dari arah lorong. Sepertinya ada sesuatu yang akan disampaikan.


“Tuan!”


Naresh menoleh. Ia bisa tahu dari raut wajah Jun jika dia membawa berita buruk.


“Nyonya Fernando kecelakaan di perbatasan Kota Milepolis bersama seorang wanita.”


Seketika tubuh Naresh melemas. Hari ini, ia sudah menelan kepahitan karena Kinanti terluka. “Bagaimana keadaan dia sekarang?”


“Sudah dilakukan perawatan. Luka Nyonya Fernando tidak begitu parah, tapi kepalanya terbentur dan harus mendapat beberapa jahitan. Tapi ....” Jun menunduk. Berita ini sungguh buruk baginya.


“Tapi apa, Jun!” Naresh mendesak. Ia tak suka dengan kalimat terpotong walaupun menyakitkan.


“Wanita itu sedang kritis. Dan sekarang harus segera dilakukan tindakan.”


“Apakah walinya sudah datang?”

__ADS_1


“Dari kabar yang saya dengar, dia sedang menuju kemari, Tuan.”


“Antarkan aku ke ruangan itu.”


Jun mengangguk lalu berjalan di depan sebagai petunjuk jalan. Naresh mengikutinya dari belakang. Harusnya malam ini menjadi malam yang berkesan baginya, bagaimana tidak! Rencanannya untuk melamar Kinanti lagi-lagi tertunda. Banyak sekali musibah yang menjadi halangannya. Seperti sudah diskenario.


Mereka akhirnya menemukan ruangan Anneline. Naresh ingin melihatnya sebentar. Ia melihat perempuan itu masih tidak sadarkan diri. Dia terlelap dengan gaun putih yang berjejak darah entah dari darahnya atau dara orang yang ia sakiti.


“Tuan?” Jun membuyarkan lamunan Naresh ketika melihat Anneline.


“Iya,” jawab Naresh, ia menyusul Jun.


Setelah melewati beberapa lorong, barulah Naresh melihat pemandangan yang memilukan. Pemandangan yang pernah ia lihat saat masih kecil. Seorang pria dewasa yang terlihat kuat dan tangguh menitihkan air mata karena perempuan yang dicintainya terluka parah. Pemandangan itu sukses membuat mata Naresh ikut berair. Bagaimana tidak, kata Jun pria yang memakai kemeja warna biru itu adalah Ilham yang sedang meraung seperti putus asa. Dia menangis ketika dokter memutuskan untuk mengoperasi istrinya, ditambah keadaan perempuan itu diambang kematian.


“Tuan ....”


Jun menatap Naresh. Ia tak sanggup untuk mengganggu kesedihan seorang pria. Naresh menangkap signyal itu. Ia tahu bagaimana rasanya ada diposisi itu. Ayahnya juga pernah ada diposisi seperti itu. Kehilangan perempuan terkasih, sama seperti jantung yang ditusuk belati. Sakit, berdarah dan rasanya hampir mati.


“Biarkan dulu, Jun. Aku akan menunggu di ruangan Anne saja. Jika ada apa-apa beritahu aku.” Naresh meninggalkan tempat itu. Sebenarnya ia sedang menangis, tapi tidak etis rasanya menangis di depan orang banyak. Terutama di depan Jun.

__ADS_1


Naresh berjalan hingga memutuskan untuk menunggui Anneline. Kali ini ia bingung, bagaimana ia harus menghadapi semua ini. Bagaimana reaksi Fernando jika tahu istrinya sudah berbuat seperti ini. Sesekali ia memandangi wajah Anneline. Lugu, tapi dia bisa berbahaya bagi siapa saja, pikirnya.


Naresh mengembuskan napas panjang lalu menyadarkan punggunya ke sofa yang tidak terlalu empuk. Ia menatap langit-langit mengulang kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Kepalanya terlintas bayangan Sirena, Dom dan juga Ceo yang baru naik jabatannya. Semuanya meregang nyawa, lalu pikirannya melayang pada Kinanti yang terluka di perutnya. Ia yakin itu ulah Anneline. Tapi untuk apa? Misteri ini semakin keruh.


Lalu, Anne punya dendam apa dengan istri Tuan Ilham? Bukankah Anne tidak pernah keluar dari Kota Zen selama enam tahun, untuk apa dia melakukan hal ini. Mengapa Anne nekat mengendarai mobil padahal dia belum mahir? Mati bersama? Tapi mengapa? Apa salah perempuan itu? Mereka baru berkenalan seminggu ini! Aku yakin ada sesuatu yang sudah lama dipendam Anneline, sampai-sampai dia berani berbuat seperti ini.


Lagi-lagi kepalanya dipenuhi misteri.


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa

__ADS_1


ada di watpad yaaaa😂



__ADS_2