Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 79


__ADS_3

Ilham menghempaskan tubuhnya di ranjang mess yang berada di belakang Kedai Numa. Ia memang sengaja membangun mess untuk karyawan yang berasal dari daerah yang jauh lalu mengadu nasib di Kota Numa. Bangunan kedai kedua Ilham ini berbeda dengan bangunan kedai yang berada di Milepolis. Jika kedai di Milepolis, mess berada di atas, berbeda dengan kedai di Numa yang letak messnya berada di belakang kedai. Luas tanah di sini lebih besar dibandingkan kedai di Milepolis.


Ilham mengembuskan napasnya ke udara, ia memejamkan sepasang matanya. “Hari ini adalah hari yag sangat melelahkan.”


Ilham melepas kemejanya, ia bergegas untuk membasuh diri agar lebih segar. Setelah merasa nyaman, Ilham mengempaskan tubuhnya lagi ranjang. Ia mengambil ponsel yang berada di meja samping ranjangnya.


Entah mengapa hati ini sangat merindukannya.


“Semoga dia belum tidur.” Ilham membuka layar ponselnya. Ia mencari nomor milik kekasihnya. Ia mencoba menghubungi kekasihnya melalui sambungan videocall.


Ponsel Farah berdering cukup keras, ia telah selesai salat lalu bangkit mengambil benda kecil yang berbunyi itu. Farah melihat ada panggilan videocall dari suaminya. Hampir tidak percaya tapi itulah yang ia lihat sekarang, suaminya menghubunginya. Farah menjawab panggilan itu dengan menggeser layar ke atas. Terlihat wajah Ilham memenuhi ponselnya.


“Assalamu’alaikum Jelitaku,” Ilham menyapa Farah.


“Wa’alaikumussalam Mas.” Farah tersipu mendengar panggilan ‘jelita’ sebagai panggilan kesayangan dari Ilham.


“Jelita-ku makin hari makin cantik saja. Sudah makan?” tanya Ilham, ia menampilkan senyumannya memandang kamera depan ponselnya.


“Sudah.” Farah menggeleng, ia menampilkan senyum terbaiknya.


“Oh ya, jika bagaimana keadaan temanmu, Rahma? Apakah sudah merasa ada kontraksi atau masih nyidam?”


Pertanyaan yang diajukan suaminya sedikit mengejutkan Farah. ia merasa ada yang janggal mengapa suaminya mengetahui seluk-beluk tentang perempuan yang sedang mengandung.


Mengapa Mas Ilham menanyakan kondisi mbak Rahma?


Ada perasaan yang tidak jelas terlintas di benak Farah. Perasaan itu sangat menggangunya. Tanpa sadar Farah sedikit terdiam di sambungan videocall itu, Ilham memperhatikan ada yang aneh terhadap istrinya yang tiba-tiba terdiam.


Cemburu?!


“Apakah kamu sakit, sayang?” Ilham berusaha mencairkan jeda diam Farah.

__ADS_1


“Tidak Mas, hanya aku sedikit mengantuk.” Farah berkilah, ia terpaksa sedikit berbohong.


“Sepertinya sudah malam sekali. Segera tidur jelitaku.”


“Iya Mas,” balas Farah.


“Jangan lupa, tetap siaga karena kehamilan yang sudah memasuki bulan kesembilan bisa saja melahirkan kapanpun. Bahkan bisa saja di luar tanggal prediksi. Pokonya kalau temanmu Rahma sudah merasa ada kontraksi di perutnya langsung bawa ke rumah sakit. Jika aku belum pulang, hubungi Akmal. Selamat malam jelitaku.” Ilham berkata manis sekali di bagian ucapan selamat malam.


Farah hanya tersenyum dan mematikan sambungan video call itu. Ia menyelimuti tubuhnya agar segera tidur. Saat ini pikirannya resah, ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan dalam benak Farah.


Beberapa kali Farah mengembuskan nafasnya untuk menenangkan hatinya. Ia mencoba mencari alasan yang kuat tentang ‘mengapa suaminya begitu peduli terhadap mbak Rahma’. Perlahan Farah memejamkan matanya. Terekam jelas bagaimana kegelisahannya mengiring pada cerita yang pernah Rahma ungkapkan beberapa waktu yang lalu.


Segar sekali ingatannya. Rahma bercerita bagimana dia bertemu dengan pria yang terlihat berusia 30 tahun. Minuman yang di campur dengan obat tidur, pagi yang terlihat hanya dua amplop yang berisi uang dan surat.


Tidak mungkin itu Mas Ilham ‘kan?


Mata Farah terbuka lagi, ia melihat langit kamarnya. Pikiranya sangat liar menalar apa yang menjadi kegelisahannya. Ia sangat tahu guratan-guratan yang tercetak jelas pada wajah suaminya, terlihat seperti usia 30 tahun, walaupun sekarang Ilham masih berumur 26 tahun.


Tiba-tiba Farah mengelus perutnya, ia tidak sedang hamil. Sentuhan bercinta pun belum pernah ia rasakan selama menjadi seorang istri. Kepuasan batin? Rasanya bagi Farah masih terlalu tabu. Dan Farah tidak tahu mulai dari mana.


Selama ini Ilham hanya menyisir rambut Farah, berpelukan dan mencium kening miliknya. Itu dilakukan karena dorongan perasaan sayang bukan perasaan berahi cinta yang mungkin sudah ia rasakan.


***


“Akmal sudah tidur belum ya? Ah hubungi saja dari pada nanti jadi beban pikiran.” Ilham mengetuk kembali layar ponselnya mencari nama Akmal. Ada yang harus ia perbincangkan kepada Akmal masalah Rahma.


Persis seperti dugaannya. Dalam satu panggilan telepon, Akmal langsung mengangkatnya.


“Ada yang bisa saya kerjakan Pak?” seru Akmal di seberang sana.


“Ada. Oh ya pastinya kamu sudah tahu bahwa kehamilan Rahma sudah memasuki usia sembilan bulan. Kamu harus siaga.”

__ADS_1


Akmal masih mencerna kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh bosnya. “Siaga? Untuk apa?”


“Jika Rahma merasakan kontraksi dalam perutnya, segeralah datang ke rumah. Antar Rahma langsung ke rumah sakit sebab istriku tidak bisa menyetir mobil, mungkin dia akan ikut panik ketika melihat orang yang akan melahirkan.”


“Baik Pak, saya akan melaksanakan tugas dari Pak Ilham.”


“Terima kasih.” Ilham menutup sambungan teleponnya. Ia mematikan ponselnya agar tidak terganggu dengan suara dering ketika ada telepon atau pesan yang masuk.


Ilham kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Ia sudah menelepon Akmal, ia sangat yakin jika Akmal dapat mengatasi hal ini. Ilham tidak mau istrinya ikut panik karena melihat Rahma yang akan melahirkan.


“Setidaknya Akmal bisa di andalkan. Semoga kamu tidak panik Jelitaku, sebab dulu aku pernah panik melihat orang yang akan melahirkan,” guman Ilham.


Benar, Ilham pernah sangat panik ketika kakak iparnya akan melahirkan. Saat itu Damar sedang pergi keluar bersama Bunda membeli barang-barang kebutuhan. Damar tidak merasa khawatir, karena istrinya akan melahirkan sekitar satu minggu lagi. Itu perkiraan dari dokter kandungan. Tak disangka saat kakak iparnya hamil besar akhirnya merasakan kontraksi yang teramat sangat di bagian perutnya. Dia mengerang kesakitan, dan di rumah Bunda hanya ada Ilham, Yu minem dan Pak Parmin.


Tentu saja Ilham langsung pucat dan panik melihat kaki kakak ipanya sudah mengeluarkan air ketuban. Akhirnya tanpa menunggu Damar, Ilham bersama Pak Parmin mengantarkan istri Damar ke rumah sakit terdekat. Yu Minem menunggu di rumah agar bisa mengabarkan kepada Bunda dan Damar jika istrinya akan melahirkan.


Itu sebabnya mengapa Ilham sangat mengkhawatirkan perempuan yang sedang hamil. Ia sedikit tak habis pikir dengan permintaan Farah yang terbilang baik tapi sedikit memaksakan. Ilham menguap, ia sedikit mengantuk. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuknya.


Waktunya tidur.


Selamat malam.


________________________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa


__ADS_2