Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 94


__ADS_3

“Saya tidak ingin ikut dengan Anda, Tuan!” Kinanti menggeleng, ia memang tidak mau ikut dengan Naresh.


Naresh sudah kehabisan cara untuk membujuk Kinanti untuk ikut makan bersamanya. Ia mengembuskan napas kekesalannya. Menurutnya, Kinanti adalah wanita yang tidak gampang terbuai dengan bujukan saja. Terpaksa Naresh harus memutar otak untuk menemukan cara agar Kinanti tidak menolak lagi ajakannya.


“Dari tadi sore hingga malam ini kamu belum makan, dan aku mengajakmu kemari untuk makan bersama, aku yakin pasti perutmu melilit karena lapar.”


Ucapan Naresh ada benarnya. Sedari sore hingga malam ini Kinanti belum makan, ia sudah merasakan perih pada ulu hatinya. Sejenak Kinanti berpikir tentang pria yang mengajaknya makan. Padahal mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu.


“Aku mau makan, tapi tidak di tempat seperti ini, Tuan.” Kinanti memohon. Sebetulnya ia memang tidak suka makan di tempat mewah dan mahal seperti ini. Kinanti merasa ini bukan gayanya.


“Lantas kamu ingin makan di mana?” Naresh mengerutkan dahinya. Ia tak habis pikir dengan penolakan dari Kinanti. Baru kali ini dalam hidupnya ia mendapat penolakan secara langsung dari seorang perempuan, padahal Naresh mengajak Kinanti ke restoran paling mewah dan paling favorit di Kota Milepolis.


“Ada satu tempat di mana menjual mie paling enak sekali.” Mata Kinanti berbinar, ia sudah membayangkan bagaimana lezatnya mie yang menjadi langgananya.


Mau tak mau akhirnya Naresh menyetujui keinginan Kinanti untuk makan di tempat mie favoritnya. “Baik, kita akan berangkat sekarang.” Naresh sudah duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil ini dan melaju ke tempat mie favorit Kinanti.


Kinanti berseru senang, ia telah sedikit melupakan wajah galak pria yang sekarang berada di sampingnya. Ia merasa pria yang bernama Naresh ini adalah orang yang baik, setidaknya pernyataan itu yang sekarang bersarang di pikiran Kinanti. Sekarang ia mengarahkan Naresh untuk menuju ke tengah kota tepatnya berseberangan dengan balai kota. Naresh pun mengikutinya, ia sedikit tahu tentang Kota Milepolis walau tidak sepenuhnya.


Akhirnya Naresh dan Kinanti sampai di tempat tujuan. Naresh tertegun saat turun dari mobil, ia tidak melihat bangunan restoran yang mewah atau cafe yang sudah ia bayangkan. Namun hanya bangunan tenda dari terpal dan gerobak dorong yang sering di sebut pedagang kaki lima.


Kinanti tersenyum dengan warung sederhana, ala kadarnya yang hanya buka di saat malam hari. Jangan tanya mengapa, yang jelas warung ini punya daya tarik tersendiri untuk Kinanti. Warung mie ayam yang sangat sederhana, namun selalu ramai pelanggan. Jangan tanya soal rasa, sudah bisa ditebak bagaimana rasanya. Bau yang tercium dari kuah mie yang bergejolak panas dan mengepulkan uap, serta racikan bumbu yang sangat lezat membuat air liur tidak berhenti menetes. Penggugah selera untuk makan bangkit, karean aroma dari warung itu menguar sangat kuat.


Kinanti tersenyum ke arah Naresh yang masih tertegun tidak bersuara. Kinanti yakin ini membuat ekspetasi dari Naresh sedikit ambyar. Ini bertolak belakang dengan realita yang ada. Sekarang ia berpikir berulang kali, apakah makanan di sini terjamin?


“Ini tempat favoritku, aku yakin Tuan akan menyukainya.” Tanpa aba-aba, Kinanti langusng saja mengcengkeram pergelangan tangan Naresh dan mengajaknya untuk segera mendekat ke warung sederhana itu.


Seperti sihir, Naresh melangkah sesuai tangan yang terjulur mengajaknya. Perempuan ini mencengkeram tangan Naresh tidak terlalu kuat juga tidak terlalu lemah. Kinanti sudah sampai pada gerobak dorong si pemilik warung.


“Pak, mie ayam double ceker dan sekalian es teh manis,” Kinanti mengangkat tangannya dan mengisyaraktkan dua jari yang berdiri, jari telunjuk dan jari tengah. Kinanti lalu menarik Naresh untuk mencari tempat duduk. Tak berapa lama, akhirnya mereka mendapat tempat duduk di deretan meja ketiga.


“Tuan, ini warung mie ayam terenak di kota ini,” Kinanti berkata penuh antusias. Berbeda dengan Naresh yang belum terbiasa makan dengan keadaan warung pinggir jalan ini.


Mengapa perempuan ini malah mengajakku ke tempat seperti ini! Bagaimana kualitas makanannya. Ternyata jiwa kampungannya masih ada. Aku harus mengajarkan beberapa hal agar dia bisa terpilih oleh Sang Ratu.


Naresh menghela napas. “Jangan memanggilku tuan, aku tak suka panggilan itu.”


“Jika aku memanggilmu kakak bagaimana? Kak Naresh?” Kinanti tersenyum, ia memperlihatkan deretan giginya.


Naresh terkejut.


Apakah aku tidak salah dengar? Perempuan yang bernama Kinanti ini memanggilku dengan sebutan kakak?


Untuk pertama kalinya ia merasakan panggilan itu lagi. Sudah lama sekali ia tidak menyandang jabatan ini. Sudah lama sekali. Naresh merasa ada sesuatu hal tidak bisa dijelaskan, ada rasa yang sudah lama gaungnya terdengar.


***


“Namanaya Naresh Yori Alvarendra,” ucap pria yang sudah ia anggap sebagai ayah.


“Jadi aku punya kakak? Yeay! Aku punya kakak! Namanya Kak Naresh!” ucap bocah kecil itu dengan kegirangan. Ia bersorak seperti menemukan hadiah terbesar dalam hidupnya.


Malam itu adalah malam di mana Naresh mengenal keluarga ayahnya yang lain. Tentu saja Naresh saat itu baru berumur delapan tahun. Sudah lama sekali. Malam itu, ia di bawa oleh ayahnya menuju rumah utama. Rumah yang sangat besar bak istana menurut Naresh.

__ADS_1


Seminggu sebelum itu, ibu dan calon adiknya meninggal dalam kecelakaan mobil saat menjemput si Naresh kecil yang berada di tempat les matematika. Ibunya yang tengah hamil terpaksa membawa mobil untuk menjemut dirinya. Malam itu adalah malam terburuk bagi si Naresh kecil.


Duka dalam kilas balik. Si Naresh Kecil hanya tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang tidak megah, namun cukup nyaman. Orang yang bernama ayah hanya menginjungi ia dan ibunya dua kali dalam sepekan. Ketika si Si Naresh Kecil bertanya tentang ayah yang tidak setiap hari hadir ibu hanya menjawab bahwa ayahnya memiliki kehidupan lain. Mungkin waktu itu Naresh kecil tak tahu apa maksud dari jawaban itu.


Setelah Naresh kecil di bawa dan tinggal di rumah utama yang megah itu, ia baru menyadari apa jawaban ibunya. Benar, ayah memiliki kehidupan lain yaitu istri yang cantik dan seorang anak lelaki yang umurnya sekitar lima tahun. Dan kenyataan yang Naresh terima adalah dia anak dari ibu lain di keluarga itu. Tak heran mengapa dia sedikit di perlakukan buruk tanpa sepengetahuan ayahnya.


Menurut cerita yang ia dengar, ibunya hanya menikah siri dengan pria yang ia sebut ayah. Pernikahan sah ayah hanya terjadi pada istri yang memiliki kuasa di rumah utama yang besar ini. Satu hal yang mungkin membahagiakan bagi Naresh adalah ia memiliki adik lelaki yang sangat lucu dan tidak pernah memperlakukannya seperti orang asing. Ia tumbuh bersama anak kecil itu walaupun semua dibedakan menurut kedudukan.


Ketika adik kecilnya tidur di kamar yang luas dengan kasur yang empuk dan mewah bersama ibu dan ayah, Naresh harus menerima kenyataan bahwa ia tidur di kamar sempit bekas gudang. Tak masalah baginya, yang penting ia bisa melihat adik kecilnya tumbuh dengan baik. Karena adik kecilnya yang pertama kali menyebutnya kakak.


***


Dua gelas es teh manis dan dua mangkok mie ayam doubel ceker dengan asap lezat yang mengepul telah tersaji di meja yang menjadi batas antara Naresh dan Kinanti. Sudah lama sekali ia tidak makan di suasana pinggir jalan seperti ini. Naresh sekilas melirik Kinanti yang sedang berdoa sebelum makan dan tangan yang sudah membawa sumpit.


“Silakan makan!” Kinanti berseru antusias.


Naresh hanya tersenyum melihat tingkah perempuan yang berada di hadapannya. Ia melihat perempuan itu sedang lahap menyeruput mie dari sumpitnya. Insting Kinanti mengatakan bahwa dirinya sedang diperhatikan. Benar saja, Kinanti melihat Naresh yang tersenyum melihatnya makan mie ayam.


“Ada yang salah Kak?”


Naresh menghentikan aksinya memandangi Kinanti. Dengan ragu-ragu ia menyendok kuah mie dengan potongan dadu ayam lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Ia sudah membayangkan rasa yang tidak enak. Namun setelah sesuap kuah itu masuk ke bagian pengecap, mata Naresh melebar, tak disangka rasa kuah mie dan potongan ayam itu terlihat begitu lezat. Pernyataan Kinanti tentang rasa mie ayam ini memang benar adanya.


Langsung saja nafsu makan Naresh meningkat, ia sudah mengambil sumpit dan mulai menyeruput mie yang berada di mangkok itu. Sesekali ia menambahkan saus untuk rasa yang sedikit lebih pedas.


Kinanti tahu, pasti Naresh sudah merasakan kenikmatan dalam semangkuk mie ayam ini. ia senang melihat pria yang berada di hadapannya begitu lahap memakan mie itu. Tiba-tiba Kinanti ingin menanyakan tujuan Naresh yang membuatnya harus mengelilingi hampir seluruh kota.


“Apa tujuan Kakak kemari? Apakah Kak Naresh sedang patah hati? Atau ditinggal pas sedang sayang-sayangnya?”


“Bisa tidak kalau makan jangan ngobrol dulu dan bertanya hal yang tidak penting?!” Naresh merasa kesal, bahkan kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun kepala. Bagimana tidak? Ia tengah asik menyantap mie ayam super lezat ini lalu ditimpa pertanyaan yang tidak penting itu.


“Maaf Kak, habisnya Kak Naresh memesan taksi-ku namun tidak memiliki tempat tujuan,” jawab Kinanti. Sebenarnya ia sedikit menyesal mengapa mempertanyakan hal konyol seperti ini.


Naresh menghela napas, ia harus menceritakan hal yang sebenarnya kepada Kinanti mengapa ia berada di Kota ini. “Sebenarnya aku ingin menjadikanmu kadidat untuk seseorang yang miliki kekuasaan tertinggi.”


Kinanti mengerutkan keningnya, ia sangat tidak memahami maksud dari Naresh. Kinanti memandangi Naresh yang sekarang mencoba menuangkan kecap kepada mie ayam yang baru separuh dimakan. Ia meminta penjelasan.


“Apakah kau tahu tentang keluarga elite yang berada di Kota Zen? Mereka sedang mencari orang yang akan mendampingi Sang Ratu dan itu harus perempuan muda dan belum menikah.” Setelah menjelaskan hal itu, Naresh kemudian mencicipi kuah mie ayam yang sudah ia aduk dengan sedikit kecap.


“Lalu apa hubungannya denganku? Bahkan mengapa Kak Naresh mengatakan hal demikian padaku? Aku semakin tak paham.”


Naresh yang tadi ingin menyumpit mie dan akan memakannya, namun urung dilakukan karena ada pertanyaan dari Kinanti yang harus ia jawab.


“Aku ingin kamu jadi kadidatnya. Dan aku sudah mengujimu untuk mengemudi mobil tadi. Itu jadi nilai tambah untukmu. Jangan tanya mengapa aku bisa mengetahui hal ini, Adnan sudah menceritakan tentangmu. Aku berharap kamu mau mengikuti seleksi ini. Jangan tanya soal pendapatan, di sana gajinya sangat besar bahkan kamu bisa mendapat fasilitas mewah,” Naresh menjelaskan panjang lebar dan ini saatnya ia memasukkan sumpit yang sudah menjapit beberapa helai mie yang siap mendarat di mulutnya.


“Mengapa harus aku? Jika aku tidak mau bagaimana? Aku tidak mengenal kakak, bisa saja kamu hanya seorang penipu!” Kinanti memicingkan matanya.


Naresh batal memasukkan sumpitnya yang penuh dengan mie, ia menjawab kalimat dari Kinanti, “Kita memang baru bertemu, tapi jangan pernah menyebutku penipu aku tidak sehina itu. Aku bekerja pada Sang Raja dan Sang Ratu, bahkan aku dipercaya untuk mencarikan Sang Ratu teman pendamping. Dan Sang Raja sendiri, lho yang mengutusku.”


Kinanti memandangi pria yang berada di hadapanya tengah sedang asik menyeruput mie yang tadi sempat tertunda masuk ke mulut. Ia sempat berpikir tawaran dari pria itu sangat menarik. Menurut Kinanti Kota Zen letaknya tidak begitu jauh dari kota ini. Dan yang jelas, ia sangat butuh uang untuk melunasi semua utang ayahnya.


Apakah pria ini bisa dipercaya? Apakah kata-katanya bisa dipegang?

__ADS_1


Sejenak Kinanti merenungkan hal ini.


“Kau bisa mempercayaiku sepenuhnya. Jika kau ragu tentang semua tawaranku, kau bisa bertanya pada Adnan.” Naresh akhirnya menghabiskan mie ayamnya. Ia tersenyum puas karena merasakan kelezatan walaupun makan di pinggir jalan.


Mata Kinanti terbelalak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Naresh.


Bagaimana bisa dia mengetahui isi pikiranku!


Naresh memandangi Kinanti, ia membersihkan daerah sekitar mulutnya dengan tissue. Kemudian ia menyeruput sisa teh yang es batunya sudah mencair dan sekarang rasanya sudah tidak manis lagi.


“Jangan menatapku seperti itu, aku yakin kamu belum sepenuhnya percaya denganku.” Naresh tersenyum menampilkan lengkungan manis kepada Kinanti.


“Jika kamu sudah selesai, mari kita pulang. Aku yakin kamu sangat lelah dengan hari ini,” imbuhnya lagi.


Akhirnya Kinanti memakan mie ayam yang tersisa di mangkoknya. Naresh sudah membayar semua yang sudah mereka makan. Lalu mereka akhirnya pulang ke tempat khursus mengemudi milik Adnan yang berada di Kawasan Pasar Grosir.


Letak Pasar Grosir tidak terlalu jauh. Naresh yang tadi mengemudi akhirnya berhenti di depan rumah yang menjadi tempat khusus mengemudi milik Pak Adnan. Naresh dan Kinanti turun dari mobil bersamaan. Pak Adnan sedikit terkejut dengan kehadiran Naresh yang bersama Kinanti.


“Hay Nan! Untuk hari ini setoran gadis itu aku yang akan membayarnya. Karena aku yang menyewa taksi ini hampir semalaman,” ucap Naresh.


Pak Adnan yang mengangguk. Kinanti akhirnya meminta izin untuk pamit pulang. Pak Adnan mengangguk.


“Hari yang menyenangkan! Besok akan aku pastikan kita bertemu lagi!” seru Naresh ketika Kinanti sudah berjalan jauh keluar dari pelataran tempat khursus mengemudi.


Dia perempuan yang menyenangkan!


____________


Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, vote dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😁


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


_________


Novel Rekomendasi saat menunggu Perempuan Pilihanku update :


Don’t Forget – Author Yu Aotian


Sebenarnya Cinta – Author F.A Queen


Diary Cookies – Author Ayu Rizky


Seventeen – Author Ripee


Ijinkan Aku Menyayangimu – Author Lendlz12

__ADS_1


__ADS_2