Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 102


__ADS_3

Ruangan yang tenang dengan lantai pualam yang memberi kesan mewah. Di sana ada jendela super besar dengan bingkai yang berupa pahatan seni yang menakjubkan. Di baliknya ada seorang lelaki yang tengah duduk di sebuah kursi khusus, dia menatap pemandangan yang tersadi di jendela itu. Hamparan taman yang yang elok dan ada sebuah kolam dangkal yang ditumbuhi bunga seroja. Itu adalah tempat favoritnya. Tiba-tiba seorang laki-laki bermata hitam masuk ke ruangan itu. Memang dia sudah di tunggu oleh seseorang yang duduk menata jendela yang besar itu.


“Akhirnya kau datang juga,” ucap pria yang masih menatap jendela. Kemudian ia menekan tombol yang berada di kursinya. Seperti benda yang bergerak, kursinya berbalik membaut pria itu mantap melihat seseorang yang sedang ia nantikan kedatanganya.


“Maaf, ada apa Tuan Fernando? Apakah ada pekerjaan yang harus saya lakukan?” ucap pria yang masih berdiri tegak, tampak terlihat ia sedang berusaha menghormati orang yang berada di hadapannya.


“Mengapa Anda menanggilku seperti itu? Apakah Anda lupa jika aku ini adikmu?” pria itu merasa panggilan itu sedikit menusuknya.


“Ini peraturan yang dibuat oleh ibu untuk kita, Tuan.”


“Kak Naresh, tidakkah kau rindu memanggilku adik? Aku sudah lama merindukan panggilan itu, Kak.” pria yang bernama Fernando menatap kakaknya dengan penuh ironi.


“Maaf, itu kenyataan tak bisa aku pungkiri. Itu adalah peraturan yang mengikat kita.” Di sudut hati Naresh ada rasa yang tidak bisa dijelaskan.


Pria yang bernama Fernando tahu betul tentang peraturan yang telah dibuat oleh ibunya sendiri. Ia sangat membenci peraturan itu. Mesin pemindai ingatan tak pernah mati, ia masih ingat saat ayahnya meninggal dunia, semua aset keluarganya jatuh ke tangan istrinya. Naresh yang sebagai anak dari ibu lain yang baru saja datang masuk ke dalam rumah ini sudah dianggap sebagai musuh perebut hak milik Fernando.


Naresh dan Fernando adalah saudara se-ayah. Mereka tumbuh bersama dengan dalam bangunan yang sama. Selama ayah mereka hidup, Naresh dan Fernando saling menyayangi sebagai kakak-adik. Naresh tidak peduli dengan kondisi Fernando yang memang lahir dengan keadaan yang tidak sempurna. Begitupun Fernando, ia senang memiliki kakak laki-laki. Namun di balik itu semua, selalu ada tokoh yang membenci apapun hal baik.


Sang ibu yang menganggap Naresh—anak tirinya yang secara fisik sempurna, menjadi penghalang anaknya untuk mendapatkan hak waris. Dari perasaan ketakutan inilah, dia kerap kali memperlakukan Naresh berbeda dengan anak kandungnya dan berbuat tidak manusiawi. Namun Naresh selalu kuat, ia bertahan karena anak yang cacat itu adalah adiknya.


Saat mereka tumbuh menjadi remaja, ibu tiri meminta agar Naresh tidak tinggal di rumah besar ini melainkan tinggal dengan para maid. Usulan itu ditolak sang ayah. Sebagai jalan keluarnya, sang ayah membangunkan lagi rumah kecil yang berada di dekat kolam bunga seroja. Sejak saat itu Naresh sempurna dipisahkan dengan Fernando.


Hingga sang ayah kembali pulang ke pangkuan Tuhan, sang ibu tiri makin bengis terhadap Naresh. Meskipun begitu, dia tetap tidak bisa mengusir Naresh dari rumah itu. Dalam surat wasiat yang ditinggalkan sang ayah menyatakan Naresh memiliki hak di rumah ini dan perusahaan kelurganya, walaupun Fernando yang akan memimpin perusahaan itu secara bersyarat.


Naresh menerima semuanya, ia tidak menuntun yang lebih dan ia tetap tinggal di rumah kecilnya. Hal ini dimanfaatkan oleh ibu tiri, ia menikahkan Fernando yang masih sangat muda dengan anak pengusaha juga. Hingga akhir hayatnya, ia tetap meminta hal yang sangat tidak wajar yaitu agar Naresh memanggil adiknya dengan sebutan tuan dan dirinya harus menjadi pembantu yang paling setia. Fernando menyetujui hal itu.


“Aku dengar Kakak memberikan seorang pendamping untuk istriku?” tanya Fernando memecah keheningan.


“Benar.”


Fernando tersenyum, “Bolehkah aku menemui pendamping istriku? Tapi sebelumnya aku ingin berterima kasih, Kakak sudah membantuku.”

__ADS_1


Naresh hanya menampilkan lengkungan manisnya. Ia hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.


“Sebentar lagi aku akan pergi, mungkin dalam waktu yang cukup lama. Aku akan menalakukan serangkaian tes dan operasi untuk membuatku berjalan. Kakiku akan hadir dalam wujud bionic. Aku menantikan saat itu, aku sangat ingin mendaki gunung atau berjalan-jalan tanpa menggunakan kursi ini. Lalu aku bisa berdansa dengan istriku.” Fernando membayangkan dirinya berdiri tegak. Baginya hal ini adalah keajaiban yang harus terwujud sebelum ajal menjemput.


Dalam sudut hati Naresh, ini adalah pemintaan adiknya. Ia sangat tahu bahwa Fernando memang dimanjakan di keluarga ini, tapi kata tidak sempurna melekat pada fisiknya dan ini sangat berdampak pada kehidupan yang dia jalanin saat ini.


“Maaf, apakah perbincangan kita sudah selesai?” tanya Naresh, ia teringat kepada Kinanti yang sendirian dalam pekenalan nya dengan nyonya Fernando.


“Kenapa begitu terburu-buru, Kak?” Fernando merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasa tidak biasanya Naresh meminta hal yang seperti disegerakan.


“Saya ada urusan yang sedikit mendesak,” jawab Naresh cepat.


Fernando tertawa renyah, ia tahu bahwa kakaknya sedang mengkhawatirkan sesuatu. “Silakan Kak, terima kasih atas bantuanmu.”


Naresh hanya mengangguk, ia segera mungkin keluar dari ruangan yang berlantai pualam, menyisakan Fernando yang duduk sendirian. Sekarang ia berlari untuk sampai ke kolam renang, sebab ada sesuatu yang berharga baginya.


Ruangan yang tenang berlantai pualam itu hanya dihuni oleh satu orang. Benar, Fernando lebih menyukai kesendiriannya. Ia sadar sepenuhnya jika ia memiliki seorang istri yang cantik. Kehidupan yang jauh dari kata kurang, bahkan dia memimpin sendiri perusahaannya walau bekerja dari rumah. Jika ada keperluan untuk meeting, ia selalu mengandalkan Naresh.


Fernando menerima wanita itu, ia berharap bisa berbagi cerita, tapi kenyataan berkata lain. Ada harga nyawa yang harus ia tanggung karena permintaan istrinya dan sampai sekarang tidak ada yang mengetahui harga nyawa itu.


***


Nyonya Fernando meletakkan novelnya di rak buku yang berdiri manis di sudut kamarnya. Ia memang sangat menyukai buku. Baginya ini adalah hobi yang paling sakral. Ia telah melupakan semua masa lalunya, ia melupakan namanya, melupakan keluarganya bahkan ia ingin melupakan kehidupannya yang ia jalani saat ini. Nyonya Fernando memang membunuh waktu lampau yang telah ia lalui kecuali dua hal, buku dan cinta pada lelaki es yang menyejukkan hati.


“Apakah kita punya kesempatan untuk bertemu lagi?” Ia menghela napas, ada kerinduan yang selalu berteriak di kepalanya.


“Apakah kau juga merindukanku?”


____________


Jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet like dan beri rating 5 bintang ya ... karena ini GRATISS.😁

__ADS_1


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__________


Hay maaf ya baru sempat update 🤣🙏


Mungkin beberapa episode yang akan datang saya akan selalu beralih setting tempat, tapi aku yakin cerita ini tidak bisa dilewatkan begitu saja😁


Bagi kalian yang bertanya-tanya sebenernya ini tuh menceritakan siapa sih?🤔 Saya yakin pertanyaan semacam ini yang sering berseliweran saat membaca kisah ini.


Tidak apa-apa, 😉


Saya selaku Author ingin menyampaikan bahwa novel ini masih on going yang belum tahu kapan selesainya. Saya memang membuat alur lamban, karena apa? saya hanya ingin membuat kisah yang berdasarkan pada kenyataan yang merujuk “Mengapa tokoh ini bisa bersikap seperti ini? Atas dasar apa tokoh bisa melakukan hal seperti ini?”😊


Bukankah sebelum episode ini, kalian sudah membaca bagian lima hari saat Ilham di Kota Zen beserta kisah-kisah jatuh cintanya Ray pada Farah?😃


Tak tanggung-tanggung dari eps 37 – eps 65 (padahal hanya menceritakan kejadian lima hari, hahahahha) dengan tambahan lima episode penyelesai konflik (pertarungan Ilham dan Ray) eps 66 – eps 70. Jika ditotal ada 33 episode. Wahhhhh banyak banget 😂😂


Bukankah itu alur yang lamban? Nah mungkin kali ini akan seperti itu tapi akan dibuat lebih kompleks lagi.


Saya belum bisa jika menuliskan kisah yang langsung cepat lalu selesai dan banyak selingan percintaan dan kebucinan, karena novel ini tidak hanya menampung kisah-kisah semacam itu, tapi ada pesan dan kisah lain yang tersirat yang ingin Author sampaikan kepada pembaca. 🤗


Novel ini agaknya jauh dari ekspetasi kalian. Tidak apa-apa, Author maklumi. Hehhehe😅


Terima kasih untuk kamu sudah membaca kisah ini ....

__ADS_1


Have a nice day ....


__ADS_2