
Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Sama seperti hari sebelumnya, Kinanti menyiapkan sarapan untuk Naresh. Ia berpikir mungkin hati pria itu akan luluh saat ia meminta izin lagi pagi ini. Rindunya sudah tak terbendung. Ia yakin, pagi ini Nyonya Anneline akan meminta izin juga kepada pria itu.
Setelah membasuh tubuhnya, Naresh memakai pakaian yang sesuai. Terlihat di cermin di bawah bola matanya, kantungnya menghitam sama seperti panda. Malam tadi ia tidak mendapatkan kualitas tidur yang nyenyak. Pikirannya memaksa untuk berjaga hingga dini hari mencari motif, mengapa Anneline menginginkan event biasa yang hanya diselenggarakan sembilan hari lagi. Ia merasa ada yang aneh, karena event lokal itu. Bagaimana bisa, seorang perempuan yang selalu berbelanja produk merek terkenal tapi ingin melihat event itu di Kota Milepolis yang jaraknya 5 jam perjalanan.
Sepertinya dia merencanakan sesuatu, tapi untuk apa?
Pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya. Hati dan pikirannya tidak tenang bahkan mewanti-wanti agar Kinanti menunda perjalanannya ke kota itu bersama Anneline. Ada ketidak-relaan yang selalu menyerang ketika ia ingin memberikan izin itu.
Naresh telah selesai merapikan jasnya. Ia harus bergegas menuju ruang makan. Ritual paginya, sarapan bersama kekasih tercinta. Entah pagi yang keberapa, yang jelas ia senang bisa menyantap makanan bersama Kinanti. Gadis unik pekerja keras yang menawan hatinya.
“Selamat pagi, Nona Mesum-ku!” Naresh tersenyum, ia mengacak-ngacak rambut Kinanti yang sedang menyiapkan piring di meja makan.
Seketika wajah Kinanti cemberut karena menerima julukan baru serta tangan usil Naresh yang suka sekali mengacak-acak rambutnya. “Aku bukan nona mesum!” Kini hatinya semakin kesal.
__ADS_1
Naresh tertawa, ia memang suka sekali menggoda Kinanti. “Jangan cemberut, nanti cantikmu hilang.” Ia duduk di kursi.
Kinanti memutar bola matanya yang malas. Pagi ini ia sudah disuguhkan denga rayuan receh. Segera ia menumpahkan nasi goreng dengan takaran dua sendok ukuran jumbo dan memberikan sentuhan terkahir dengan satu telur mata sapi.
Kinanti menyodorkan piring itu ke arah Naresh. Mereka hanya terpisah jarak meja. “Silakan disantap, Tuan Mesum.” Ia tersenyum dengan wajah imut yang dibuat-buat.
Naresh tahu kalau panggilan itu adalah pembalasan. Baginya, gadis ini memamg menyenangkan dan unik. Ia bangkit hingga kursi yang semula ia dudukin bergeser ke belakang menimbulkan suara gesekan. Tanpa sempat aba-aba, ia menarik kerah baju Kinanti hingga dia hingga jarak mereka sangat dekat sekali. Gerakan cepat ini menimbulkan sedikit guncangan di meja makan. Bentuk air dalam gelas yang berada di dekatnya beriak kecil, untung tidak sampai tumpah.
Jarak mereka sangat dekat. Kinanti dengan wajah terkejut lalu bergeming. Sepasang matanya menatap wajah pria yang menarik kerahnya. Naresh menutup matanya. Tujuan utamanya bukan pendaratan di bibir, melainkan hidung gadis itu. Ia sedikit menggit cuping hidung Kinanti dengan sebentar.
Hanya berselang lima detik saja, membuat perubahan yang luar biasa. Detakan jantung Kinanti memompa cepat. Ada rasa yang berdesir di kepalanya. Naresh membuka matanta dan melepaskan kerah baju gadis itu. Ia lalu duduk seperti biasanya dan mulai melanjutkan menyuap nasi goreng menu sarapannya pagi ini.
Kinanti juga kembali duduk. Rasa desiran itu masih terasa. Pipinya memerah akibat mendapat perlakukan dari Naresh. Ia tak menyangka jika ciumannya kali ini berbeda. Ia menatap pria itu, terlihat dia menganggap tidak terjadi apa-apa. Dia masih makan dengan lahap sesekali mengecek layar ponselnya yang terletak di samping piring.
“Mengapa tidak dimakan?” Naresh memergoki Kinanti yang hanya menatap dirinya dengan kesan bingung.
“I-iya.”Kinanti buru-buru menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
“Kak ....” Kinanti harus meminta izin itu kembali. Setidaknya ia harus berusaha agar waktu untuk pula semakin dekat dan ada kepastian.
“Iya, Nona Mesum-ku.” Naresh masih saja menggoda gadis itu. Ia suka panggilannya untuk Kinanti ini.
Kinanti menunduk. Ada rasa gentar yang membuncah dalam hatinya. Ia hanya bisa berharap agar pria ini sedang berbaik hati.
“Apakah aku boleh pulang ke Kota Milepolis hari ini?” Kinanti hati-hati menyatakan pertanyaan ini. Sebenarnya ia tidak yakin ini akna berhasil, terlebih malam itu Naresh sudah menolak.
Tak ada salahnya berusahakan?
Naresh menyudahi sarapannya. Ia meletakkan sendok dan garpu, tidak menyentuhnya lagi. Giliran ia menatap gadis itu. Baru saja ia merasakan romatika manis, tapi Kinanti seperti meminta lebih dari yang ia berikan.
__ADS_1
“Mengapa? Bukankah aku tidak mengizinkan?” Naresh balik bertanya. Ia sedikit kesal dengan Kinanti hari ini.
“Aku hanya ingin pulang.” Kinanti makin menunduk. Nyalinya menjadi ciut saat sepasang mata pria itu menikam tajam.
Jangan marah! Jangan kuasai dirimu dengan kemarahan. Jangan buat gadis itu ketakutan.
Naresh mengembuskan napas beratnya. Ia harus mengatur amarahnya, jangan sampai meledak-ledak. Ia tahu gadis itu sudah ketakutan setengah mati. Naresh memberi jeda yang cukup lama untuk ini.
“Apakah harus hari ini? Apakah kau takut dengan Anneline?”
Kinanti tidak bisa menjawab. Ia memang didesak oleh Anneline agar cepat untuk pulang. Walaupun begitu, ia juga ingin segera bertemu Ayah dan Reno.
Naresh mengulurkan tangannya mengelus lembut punggung tangan Kinanti, memberikan kenyamanan. Wajah gadis itu muncul menatap pria yang menyentuh tangannya. Ia merasa bahwa pria itu tidak marah.
“Bagaimana jika aku juga ikut?” ucap Naresh, “mungkin akhir pekan itu ingin aku akan berlibur sebentar di kota asalmu. Apakah Nona Mesum-ku ini bisa menunggu beberapa hari lagi? Aku akan menepati janji ini.”
Dan aku ingin menemui keluargamu, Kinanti. Aku akan melamarmu saat itu,bersabarlah sebentar lagi.
Mata Kinanti melebar, ia masih mencerna ucapan Naresh. Ia merasa Naresh bisa menepati janji ini. Seperti sihir, kepalanya mengangguk tanda ia setuju. Ada kepastian yang muncul menenangkan hati. Sebuah jaminan yang sangat nyata dan akan menjadi ikatan kepastian. Kinanti percaya itu.
“Terima kasih. Sekarang aku harus berangkat. Jangan takut kepada Anneline,dia pasti setuju.” Naresh bangkit dari tempat duduknya. Ia harus segera berangkat sebelum jam menujukkan keterlambatan yang tidak etis.
Kinanti menyambut kepergian Naresh. Hatinya terlalu senang karena sudah dapat dipastikan kalau akhir pekan yang akan datang, ia akan pulang ke Milepolis. Naresh senang bisa membuat gadis itu menemukan keceriaannya lagi. Setidaknya minggu depan ia bisa bersantai sambil mengawasi Anneline yang sangat berhasrat untuk pergi ke event itu.
Tak jauh dari rumahnya, Naresh berpapasan dengan adik iparnya. Ia yakin kalau Anneline datang menemui Kinanti dan lagi-lagi akan mendesak kekasihnya.
Ia menarik tangan Anneline. “Berhenti!”
Anneline bergeming. Cengkeraman tangan Naresh mendadak semakin erat. Aura kengerian tampak menguar dari diri pria itu.
__ADS_1
“Apa yang kau cari di Milepolis?”