
Bulan yang bulat sempurna menggantung indah di langit, menggantikan sang surya yang sudah pulang kembali ke ufuk timur. Ray kembali menyesap anggur merah. Ia berada di balkon kamarnya. Ray memang sengaja ingin menikmati luka ini bersama anggur merah yang diminum di bawah sinar ibu bulan.
Ray tahu ada seseorang yang membuka pintu kamarnya, dia adalah pelayan setianya. Pak Sudiro datang memberitahukan bahwa gaun yang dipesan Ray sudah sampai.
“Letakkan di dekat cerminku.”
Pak Sudiro mengangguk. Ia menyuruh dua pelayan yang mengangkat gaun putih dan meletakkannya di samping cermin. Kemudian mereka bergegas pergi meninggalkan Ray.
Ray berjalan menuju gaun putih yang sangat indah itu. Ia menyukai modelnya. Ray beberapa kali ia memutari gaun putih yang berdiri tegak itu.
“Aku harap kau memakainya dan bersanding denganku,” Ray tersenyum penuh makna.
***
Ilham pulang ke rumahnya. Ia melihat istrinya yang tersenyum sambil memegang vas bunga yang berisi mawar merah.
Farah mendapatkan mawar merah itu dari mana?
“Assalamu’alaikum,” Ilham mengucapkan salamnya.
“Wa’alaikumussalam.” Farah tersenyum. Ia memang menunggu suaminya di ruang tamu.
Farah menghampiri suaminya, dan mencium punggung tangan Ilham. “Apakah Mas ingin langsung makan atau mandi dulu?”
“Kita makan malam dulu.”
Farah tersenyum, untuk pertama kalinya ia bisa makan malam satu meja dengan suaminya. Ia menyiapkan semua hidangan ini untuk Ilham. Farah juga melayani suaminya dengan baik.
Dalam lubuk hati Ilham, ada penyesalan yang baru ia rasai sekarang. Dulu ia sangat membenci perempuan yang menyiapkan makan malamnya ini. Bahkan ia berani meninggalkan dia sendiri.
Farah dengan perasaan yang bahagia menyiapkan semua keperluan makan malam suaminya. Dan Farah mengambil vas bunga yang berisi mawar merah. Ia meletakkannya di tengah meja makan untuk hiasan.
Ilham melihat airmuka Farah yang sangat bahagia mendapatkan seikat bunga itu. Ilham masih menalar siapa yang berani memberi bunga kepada istrinya.
“Mas Ilham, terima kasih sudah mengirim seikat bunga mawar ini. Jujur ini mengingatkanku pada hari pernikahan kita.” Farah menunduk, ia tersipu malu. Airmukanya mendadak merah seperti tomat.
Bukan aku yang mengirimkannya. Sepertinya Farah salah sangka.
“Aku juga senang menerima kartu ucapan ini.” Farah menunjukkan kartu ucapan yang berwarna biru aqua dan ada gambar pelangi kepada Ilham. Farah tampak senang.
Ilham terdiam, ia merasa tidak pernah mengirim semua hadian ini untuk Farah.
Apakah ini perbuatan dari Ray?
Ilham merasa tersayat hatinya. Pedih sekali melihat perempuan yang ‘baru saja' ia cintai merasa bahagia dengan hadiah dari orang lain, terlebih dari Ray. Bahkan senyuman Farah selalu mengembang yang tercipta dari seikat bunga dan kartu ucapan itu.
__ADS_1
Makan malam ini hanya terdengar suara piring yang beradu dengan sendok dan garpu. Pemandangan indah satu-satunya yang bisa Ilham rasakan adalah senyuman Farah yang terus terpancar. Bagi Ilham ini adalah pemandangan yang baru walaupun dalam keadaan tidak baru. Iya mereka sudah menikah selama tiga bulan ini. Tiga bulan waktu yang bisa dikatakan sangat lama untuk Ilham memahami perasaannya sendiri. Tiga bulan waktu yang terbuang percuma untuk menyelami keberadaan Farah. Dan lima hari, waktu yang sangat singkat namun mampu mengubrak-abrik kehidupan yang ia sebut saat ini ‘kehidupan rumah tangga.’
Makan malam itu selesai, kecantikan Farah masih belum usai. Bagaimana Tuhan bisa membutakan mata Ilham, jika perempuan yang bersamanya kini adalah perempuan yang sangat mulia walaupun usianya jauh dari kata dewasa. Bisa disebut perempuan yang menggemaskan.
“Mas Ilham, aku siapkan air hangat untuk mandi ya,” ucap Farah membuyarkan lamunan Ilham tentang betapa menggemaskan istrinya dan rumah tangga yang baru saja muncul dalam hatinya.
“Tidak perlu, terima kasih.” Ilham bangkit dari tempat dudunya dan berjalan menuju kamar miliknya sendiri.
Farah membersihkan semua peralatan makan yang sudah di gunakan dan membersihkan meja makan. Ia harus belajar untuk tes masuk perguruan tinggi malam ini.
Dalam guyuran air yang Ilham rasakan, sejenak menghilangkan kepenatan dalam pikirannya. Ia masih memikirkan tantangan dari Ray.
Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Ray?
Entahlah.
Ilham membasuh dirinya. Ia merasa segar karena tubuh yang lengket dan kotor sudah hilang tergantikan rasa nyaman setelah mandi. Masih dengan rambut yang basah, Ilham menuju dapur. Ia ingin membuat minuman hangat.
Mata Ilham tertuju pada gadisnya yang sedang meraut pensilnya. Wajah Farah terlihat sangat menggemaskan jika ia sedang kebingungan mencari jawaban dari soal tes itu. Ilham tertawa lirih. Sekarang ia duduk di dekat Farah, membuat gadis itu sedikit terkaget.
Farah memandang Ilham dengan wajah yang tersipu, rona merah muncul di pipinya. Ia tak menyangkan akan sedekat ini. Ia melihat Ilham mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
“Mas Ilham ingin minuman hangat?” tanya Farah.
“Boleh request?” seiring pertanyaan itu muncul wajah Ilham mendekat lebih dekat dengan wajah Farah, membuat Farah sedikit memundurkan tubuhnya.
“Dua coklat hangat.” Setelah kalimat yang muncul itu, Ilham kembali menarik wajahnya. Ia mengambil ponselnya dan memainkan benda kecil itu.
Kecanggungan yang menguar kuat diantara mereka. Buru-buru Farah pergi untuk membuat coklat hangat.
Ilham mengirim pesan pada Akmal, kalau besok kegiatan kedai dia yang menghandle kedai. Besok Ilham harus bertarung. Ia tidak tahu pasti apakah ia bisa pulang. Mengingat waktu dulu ia pernah berkelahi dengan Ray.
Ilham tahu, bahwa tidak ia saja yang yang mencintai Anneline. Ray juga ikut mencintai Anneline. Dan pertarungan itu terjadi, Theo yang menjadi wasitnya. Pertarungan itu sungguh berkesan, karena setelahnya Ray dan Ilham sama-sama penuh dengan luka. Mereka juga di bawa ke rumah sakit.
Ilham masih mengingat saat berada di satu ruangan bersama Ray, mereka sama-sama tergolek lemah. Saat itu Anneline langsung masuk dan mendekati Ilham. Ia menangis kencang melihat kekasinya penuh dengan luka pukulan, biru lebam. Ray melihat itu, ia iri mengapa hanya Ilham yang Anneline tangisi.
Untuk pertama kalinya Anneline marah, ia memarahi Theo dan juga Ray. Anneline mengganggap mereka melakukan hal yang bodoh dan juga sia-sia. Lebih lacurnya, Anneline memarahi Ray, karena Ray yang membuat acara pertarungan ini. Ia tidak terima kekasihnya menjadi kesakitan karena Ray.
Walaupun begitu, hubungan persahabatan Ilham dan Ray tidak pernah renggang. Ilham memberi pengertian pada Anneline, bahwa lelaki setidaknya pernah merasakan pertarungan walaupun hanya sekali seumur hidupnya. Ilham akhirnya memaafkan Ray. Hubungan mereka bertiga menjadi baik lagi dalam sudut pandang Ilham. Bukan dari sudut pandang Ray. Dan kali ini Ray juga mengirimkan tantangan itu kepada Ilham.
Sudah lama sekali, enam tahun yang lalu.
“Ini Mas, coklat hangatnya.” Farah menyodorkan secangkir minuman coklat. Aromanya sangat lezat.
Ilham hanya tersenyum. Mesin pemindai ingatan masa lalu sudah di matikan untuk sementara waktu. Sekarang ia melihat gadisnya yang sedang duduk di sampingnya. Ilham tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
__ADS_1
“Apakah kamu ingin berkuliah?” tanya Ilham. Ia melihat Farah tetap berkutat dengan soal-soal itu.
Sejenak Farah diam. Ia sedikit takut jika tidak diperbolehkan suaminya untuk berkuliah.
Dengan ragu-ragu Farah bertanya, “Apakah Mas Ilham akan melarangku untuk berkuliah?”
Ilham tersenyum, ia membelai puncak kepala Farah yang tertutup hijab. “Tidak. Aku mendukungmu, sayang.”
Mata Farah melebar. Pertanda, apakah ia tidak salah dengar? Baru saja Ilham memanggilnya dengan kata sayang.
Sepertinya dia belum pernah menjalin suatu hubungan asmara. Lihat! Dipanggil sayang saja sudah merasa tersipu.
Ilham menahan tawanya. Ia suka wajah Farah yang tiba-tiba memerah.
Farah mengalihkan pandangannya ke lembar soalnya, ia juga menenggak coklat hangatnya. Ia benar-benar sesak bernapas karena panggilan sayang dari Ilham.
“Farah ....” Ilham memanggil namanya dengan sangat lembut. Membuat Farah menoleh dan memandangi wajah suaminya.
Aku tidak tahu, apakah besok aku masih bisa melihatmu atau tidak. Aku berharap Allah selalu melindungi hubungan kita. Maaf aku baru memulainya saat ini.
Ilham mendekati wajah Farah. Mungkin ini nuansa cinta yang harusnya sudah terjadi, namun Ilham baru ingin melakukannya. Ia mendekati Farah, semakin dekat. Ilham hanya ingin merasai bibir Farah.
Farah sedikit menelan salivanya, ia tahu Ilham akan mendekatkan bibirnya. Ini pertama kalinya Farah akan merasakan nuansa manis rumah tangganya. Farah bergidik hingga ia memutuskan menutup matanya. Ilham semakin dekat, hanya tinggal beberapa senti lagi. Semakin dekat.
Ponsel Ilham yang berada di atas meja berbunyi nyaring sekali. Seketika Farah membuka mata dan sedikit menghindar. Ilham juga kembali dalam kesadarannya. Ia juga menghindar.
Perusak suasana!
Ilham memaki dalam hatinya. Ia sadar yang menelpon ini adalah Akmal.
“Iya,” Ilham menjawab panggilan yang membuat rusak suasana romantisnya.
“Iya Pak Ilham, saya siap melaksanakan perintah,” jawab Akmal di seberang sana.
Harusnya tidak perlu menelpon! Cukup balas pesan saja.
Ilham sedikit mendengus kesal.
“Iya, terima kasih.” Ilham memutus sambungan teleponnya.
Sekarang Farah dan Ilham terdiam. Mereka berkata dalam pikirannya. Kecanggungan hadir kembali di tengah mereka. Jam dinding tetap berjalan. Mungkin jika dia hidup, dia akan tertawa melihat dua anak manusia yang saling diam dalam bara cinta.
Farah membereskan kertas-kertas dan alat tulisnya, lebih baik ia tidur. Ilham mengetahui bahwa istrinya sudah berkemas. Mungkin jika nuansa cinta itu berhasil, ia tidak akan secanggung ini.
“Maaf Mas. Sudah malam, Farah ingin tidur.” Farah bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
Ia berjalan menuju kamar milikknya. Ilham juga mengikuti Farah di belakang. Sesampainya di ambang pintu kamar Farah, tiba-tiba Ilham menghentikan langkah Farah. Ia juga menutup pintu kamar milik Farah.
“Mulai sekarang, kita tidur bersama layaknya suami istri.”