Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 85


__ADS_3

Hari ini Ilham terpaksa menjemput Bu Tin yang sekarang tinggal bersama Bunda. Dalam dua minggu ini ternyata Bu Tin membantu toko kue milik Bunda. Sekarang rumah tangga Ilham sudah seperti laiknya pasangan pengantin pada umumnya. Bu Tin senang akhirnya ia bisa kembali ke rumah Ilham. Ditambah Bu Tin bisa membantu Farah dalam membuat paper craft untuk pesanan-pesanan pelanggan.


Kehidupan mulai berjalan dinamis hampir tidak ada masalah. Ilham sibuk dengan kedainya dari pagi hingga malam. Farah yang memiliki pekerjaan sampingan baru lalu pada mala akan belajar seperti biasanya. Dan Rahma yang masih tinggal menyatu dengan keluarga Farah. Si kecil Argian sudah tampak sehat dan tubuhnya berisi lemak, walau begitu ia tetap terlihat menggemaskan dengan kedua pipi yang mengembang seperti bakpau.


***


Pikiran manusia itu unik, kadang ia menggiring manusia dalam diam yang berakhir menjadi lamunan. Saat melamun mata kita hanya tertuju pada satu objek. Kita melihat benda itu, terdiam dan kadang tanpa mengedipkan mata. Raga kita berada di tempat itu, namun tidak dengan pikiran kita. Mata kita terbuka, namun yang kita lihat justru visualisasi dari penalaran yang terjadi di pikiran kita.


Sudah lebih dari tiga kali Akmal terlihat melamunkan sesuatu. Paling banyak Ilham yang memergokinya saat melamun, bahkan Ilham menyarakan agar Akmal pergi berlibur barang sebentar. Namun tetap saja Akmal hanya tersenyum tipis mendengar saran itu.


Beberapa hari ini pikiran apa seperti menyelisik ruang-ruang di sudut hatinya. Itu membuat Akmal tidak tenang, sepeti hidup dalam bayang-bayang. Setiap kali ia tertidur, pasti mimpi tentang percakapan di bawah pohon itu muncul. Lalu ia akan terbangun dengan keringat yang beercucuran mengalir deras.


Percakapan di bawah pohon rindung itu terus menghantui Akmal di setiap apapun itu. Percakapan di bawah pohon itu seperti mengandung janji yang harus segera ditunaikan. Janji itu tidak bisa ditawar maupun ditukar. Janji itu akan terus ada selama orang yang terikat di dalamnya masih bernapas. Janji-janji akan tetap ada walau terkikis masa.


Akmal membuka kedua matanya, ia mengembuskan napas panjang ke udara.


“Aku harus sesegera mungkin melakukan hal ini.”


***


Minggu sore dengan siluet cahaya senja yang menyinari sudut kota dan sedikit malu-malu di bali kaki cakrawala. Sore yang akan menjelang maghrib. Seorang pemuda dengan wajah yang basah setelah bersuci menghadap kiblat. Ia melakukan gerakan ibadah sebagai mana yang telah ditetapkan. Berdiri, membungkuk, sujud lalu duduk. Seperti itu sebanyak tiga kali. Ia berdoa memantapkan hatinya, menyebut nama Tuhannya. Begitu tenang dan damai.

__ADS_1


Ia masih terduduk disudut rumah ibadah, ia berdzikir untuk menenangkan apapun yang bergejolak. Ia menunggu waktu salat setelah ini untuk lebih memantapkan hatinya lagi. Waktu antara senja dan malam semakin terasa lalu berganti langit gelap. Ladang langit bertaburan kerlap-kerlip bintang.


Azan isya’ berkumandang. Si pemuda yang duduk di sudut rumah ibadah itu berdiri mengambil air untuk bersuci. Ia berniat lalu memulai untuk bersuci, segar dan dinginnya air membasuh sebagian anggota tubuhnya. Dirasa cukup suci, pemuda itu kembali memenuhi panggilan Allah yang berkumandang merdu memenuhi perjalan malam.


Pemuda itu berdiri di antara shaf para jama’ah. Ia memantapkan hatinya sekali lagi. Tiba Imam salat memimpin ibadah itu. Suara iman itu sangat merdu mengalun. Ia melantunkan surah al-fatihah dengan sangat tartil, membuat kemantapan hati berbicara kepada Sang Penciptanya.


Dalam gerakan salat yang berdiri, seakan tubuh banyak memikul dosa dan beban hidup. Kemudian membungkuk, beban itu sedikit berkurang massanya. Lalu bersujud, beban itu seakan sudah berguguran jatuh ke bawah. Pikiran dan hati sejajar, membuat lebih tenang. Pemuda itu bersujud, ia membisikkan doa dan permintaannya ke tanah, namun doa itu bisa di dengar oleh penduduk langit.


Dalam empat rakaat, pemuda itu selesai memenuhi kewajibannya. Ia berdoa lagi. entah doa ke berapa yang sudah ia panjatkan dalam malam ini. Lebih dari satu kali. Kemudia pemuda itu bangkit dan berjalan keluar dari masjid. Namun ada yang menarik perhatian pemuda itu, ia berjalan menuju sebuah kotak yang terbuat dari kayu. Ada sedikit celah di permukaan kotak kayu itu. Lantas pemuda itu mengeluarkan satu lembar uang yang berwarna merah yang bertuliskan 6 digit angka. Lalu ia kembali menuju perjalanannya, menjemput masa depan.


***


Ilham sudah pulang tepat pukul 19.30. Seperti biasa ia disambut dengan jelita-nya. Kemudia Ilham masuk ke kamar untuk membasuh dirinya, menghilangkan minyak serta kotoran yang menempel pada tubuh. Air yang membasuh badannya terasa nyaman dan sejuk. Ilham keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya yang sudah menyiapkan baju untukknya. Entah sejak kapan istrinya sudah tidak malu melihat Ilham yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Mungkin sudah terbiasa.


Suara deru mesin mobil terdengar berhenti di depan rumah Ilham. Bu Tin buru-buru membuka pagar untuk melihat siapa yang datang saat malam seperti ini. Ilham masih duduk di ruang tamu sedikit mengintip siapa yang datang, ia melihat Bu Tin berbicara dengan orang yang akan bertamu itu.


Sepertinya Bu Tin mengenal orang itu.


Farah juga mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Ia sangat memastikan bahwa itu bukan suara mobil suaminya. Karena penasaran Farah pun mencoba kelaur dari kamar Rahma menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, Farah melihat suaminya yang berusaha mengintip siapa orang yang berbicara dengan Bu Tin.


“Siapa Mas? Tumben malam-malam seperti ini ada tamu. Kenapa tidak langsung disuruh masuk oleh bu Tin?” Farah bertanya kepada Ilham.

__ADS_1


“Entahlah, sepertinya bu Tin mengenal orang itu. Sebentar biar Mas yang ke depan melihat siapa yang datang.”


Ilham berjalan menuju depan rumahnya. Ia sangat penasaran mengapa Bu Tin tidak kunjung mempersilakan tamunya masuk. Dari penerangan lampu depan rumah, Ilham hanya melihat bayang seorang pria yang kini sedang berbincang dengan asisten pembantunya.


“Itu siapa Bu Tin?” Ilham sedikit mengeraskan suaranya.


Ilhan seperti mengenal siluet pria itu, sangat tidak asing baginya. Ilham yang semula hanya berdiri di dekat ambang pintu, akhirnya berjalan lagi menuju pagar rumahnya.


Tidak mungkin itu Ray ‘kan?


Pikiran Ilham mulai was-was tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja buruk. Ia akhirnya mendekat Bu Tin. Farah yang tadi hanya terdiam di ruang tamu pun beranjak melihat ke depan rumah. Rasa penasarannya mendorong keinginan untuk melihat dari batas ambang pintu. Ia melihat Ilham dan Bu Tin sedang berbicara dengan seorang pria.


________________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2