Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 167


__ADS_3

Episode 167: Terobsesi Oleh Pesonamu


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Ujian gelombang pertama telah selesai. Farah keluar dari ruang kelas disusul peserta lainnya. Ia mengambil ponsel dari tas dan mulai menghubungi Balqis dan Jihan. Farah sudah diberitahu jika mereka akan menunggunya di kantin kampus.


Setelah beberapa menit tangan Farah lihai menenakan layar ponsel, pesan singkat terkirim kepada mereka. Sepuluh menit kemudian Balqis dan Jihan menghampiri Farah yang masih berdiri di depan ruangan ujiannya.


“Bagaimana ujiannya? Soalnya nano-nano, kan?” tanya Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Sepertinya tidak ada masalah. Lihat wajah Farah saja tidak tampak terbebani.” Balqis yang mewakilkan jawaban dari Farah.


Farah hanya tersenyum, ia merasa jika sahabatnya ini tidak berubah. Selalu saja mendebatkan hal-hal yang sepele. “Kita jadi jalan?” Farah membuyarkan pertikaian kecil mereka.


“Jadi dong!” Seperti biasa, Jihan selalu berapi-api.


“Kalau sekalian nonton bagaimana? Ada film terbaru lho ... katanya, sih, saat rilis hari pertama penontonnya puas. Aku jadi ingin menontonnya,” ujar Balqis.


“Rosewald, maksudmu? Bukankah itu film fantasi? Ah ... kurasa nonton film romansa saja atau film komedi juga bagus.” Jihan menjepit dagunya. Ia memang suka sekaloi film romansa. Baginya film sejenis percintaan itu membuat bisa merasakan bias kebahagiaan.


“Film cinta-cintaan mulu. Sekali-kali lah film fantasi. Jarang-jarang lho ....” Balqis menimpali.

__ADS_1


Farah hanya menggeleng karena sahabatnya bertikai lagi. “Sebaiknya kita langsung berangkat saja.”


Balqis dan Jihan setuju. Mereka bertiga berjalan beriringan membahas apapun yang terlintas. Sampai pada halte kampus, mereka masih saja bercerita heboh. Mungkin orang yang melihat ini akan geleng-geleng kepala karena merasa terganggu.


“Dua hari lagi pembukaan evant akan dimulai. Aku harap kalian datang ke bazar komunitasku.” Farah tersenyum. Ia duduk di antara Balqis dan Jihan di halte.


“Aku akan datan, Far!” ucap Jihan semangat.


“Insyaa Allah,” balas Balqis.


Bus yang dengan tujuan pusat perbelanjaan datang. Ada sekitar enam orang yang masuk ke dalam bus itu termasuk Farah. Hari ini bisa dibilang adalah hari yang menyenangkan. Ilham tidak ikut dalam perjalanan ini. Balqis dan Jihan senang, akhir ya bisa berkumpul seperti dulu tanpa ada orang lain.


Menempuh dua puluh menit perjalanan, bus itu berhenti di halte dekat pusat perbelanjaan. Farah, Balqis, dan Jihan berjalan beriringan. Tujuan mereka adalah resto yang berada di dalamnya. Mereka memesan junkfood untuk makan siang sebelum menonton film.


Balqis merasa ada yang tidak beres sedari halte. Ia beberapa kali menengok ke belakang memastikan sesuatu. Ia merasa tidak aman, karena instingnya mengatakan bahwa ada seseorang yang sedari tadi mengintainya.


Farah yang merasa ada kejanggalan dari kebiasaan sahabatnya. Ia juga memperhatikan kegelisahan Balqis.


“Balqis,” Farah memanggil. Tak ada jawaban darinya.


“Iya, ada apa?” Balqis tergagap.


“Kamu kenapa? Ada yang kamu pikirkan?” tanya Farah.


“Huh! Balqis memang sering melamun. Akhir-akhir ini tugasnya banyak dan bikin pusing,” sahut Jihan.


“Begitukah?” Farah bertanya sekali lagi.


Balqis mengangguk mengiyakan jawaban Jihan yang masih mengunyah makanannya. Ia meminum soda yang berada di dekatnya untuk menghilangkan insting yang jelek ini.


“Sepertinya kalian harus membahagiakan diri sendiri agar tidak terlalu stress memikikan tugas kuliah.” Farah menyarankan. Sekarang tangannya mencomot kentang goreng dengan rasa gurih yang enak.


***

__ADS_1


Karin telah berganti pakaian sesuai permintaan Ray. Ia telah duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Bosnya sendiri. Bahkan penampilan Karin bisa dibilang seperti orang yang ingin berkencan. Tidak memakai kemeja dan rok kantor, melainkan jumpsuit berbahan jeans, dipadu dengan kaus lengan panjang berwarna merah jambu. Ditambah dengan rambut yang dikucir cemol atas dengan rambut bawah yang tergerai. Tak ketinggalan kacamata tebal yang membingkai matanya agar terlihat sedikit cupu.


Ray juga mengganti pakaiannya yang sebelumnya memakai setelah jas rapi, sekarang ia memakai kaus putih yang dirangkap dengan kemeja berwarna biru berlengan pendek . Ia tampak lebih santai. Ia telah menerima informasi jika sasarannya telah terbidik dan masih dalam pengintaian. Ia hanya ingin bertemu dengan cara seperti ini.


“Kita akan kemana, Pak?” tanya Karin.


Pandangan Ray tetap lurus ke depan. “Pusat perbelanjaan. Aku harap saat bertemu dengannya, kau harus berakting seperti kekasihku, jika perlu panggil aku dengan sebutan kesayangan. Kau bisa melakukan hal itu, kan?”


Karin terdiam. Ia bingung dengan perannya kali ini. Dulu ia pernah berakting sebagai istri bosnya. Hanya sebagai pajangan di rumah karena ada tamunya yang datang. Tapi, kali ini ia harus jadi kekasihnya dan memanggil dengan sebutan kesayangan seperti sepasang kekasih. Sejujurnya, bagi Karin memanggil kata sayang ke pada pria adalah hal hanya tidak lumrah walaupun itu adalah kegiatan yang normal.


Ia tak suka kepada pria manapun walaupun memiliki kekayaan yang berlimpah atau wajah yang kelewat rupawan. Ia tidak suka itu.


“Akan aku coba, Pak.”


Mobil yang ditumpangi Ray dan Karin melaju menuju pusat berbelanjaan. Sopir cekatan memacu kendaraanya dan beberapa menit kemudian mereka sampai di basement. Ray dan Karin turun dari mobil. Jika diperhatikan lebin detail mereka tampak seperti seorang pria yang memiliki kekasih yang sedikit cupu. Bagi Ray apapun penampilan Karin, akan ia terima.


Mereka berjalan menuju tempat yang sudah ditandai oleh si pengintai yang ditugaskan khusus untuk mengikuti kemana Farah pergi. Sesekali Ray melihat posisi yang si pengintai berikan. Ray berjalan terlebih dahulu membuat Karin sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkahnya.


Tepat saat Farah sedang berjalan dengan dua perempuan lain. Tiba-tiba Ray berhenti membuat Karin menabraknya dari arah belakang.


“Aduh! Jangan berhenti mendadak, Pak!” protes Karin. Ia harus membetulkan letak kacamatanya yang miring karena menabrak punggung Ray.


“Dia sudah ditemukan.” Ray tersenyum.


Karin yang penasaran dengan perempuan yang mengusik hati Bosnya akhirnya mencoba mencari apa yang dipandaingi Ray. “Yang mana, Pak?”


“Itu.” Ray menujuknya dengan jari terlunjutknya. Meskipun memakai pakaian yang sederhana, baginya Farah tetap cantik.


Karin hanya melihat tiga orang gadis yang seumuran dan semua berhijab. “Di anara tiga perempuan itu, lantas yang mana?”


“Tengah.” Lagi-lagi Ray terpesona dengan istri Ilham. Di kepalanya sudah terbayang jika ia memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu barang sekejap, mungkin ia langsung berlari ke arah Farah dan memeluknya. Ia seakan meninggalkan akal sehatnya.


“Oke, mari kita datangi mereka.” Tanpa aba-aba Karin menarik lengan Ray dan langsung berlari ke arah tiga perempuan yang ditunjuk oleh bosnya.

__ADS_1


“Eh!” Ray hanya menurut. Ia sedikit sebal jika Karin melakukan hal dengan tiba-tiba, bahkan tidak dirancang dulu apa yang harus dia perbuat.


__ADS_2