Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 198


__ADS_3

Episode 198: Kado


“Huuh!” Naresh mengembuskan napas beratnya. Ia bersadar di kursi penumpang bagian belakang. Sementara Jun mengemudikan mobil ini. Mereka baru saja menghadiri dua pemakaman sepagi ini. Naresh memberi peristirahatan yang terakhir untuk Sirena dan Ceo-nya.


“Semua telah terungkap, Jun. Tak kusangka jika pelaku pembunuhan ini adalah Dom.” Naresh sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Dom, salah satu sopirnya yang melakukan dua pembunuhan ini. Tapi pelaku ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia.


“Saya juga tidak menyangka, Tuan Yori. Saya kasihan terhadap sahabat karib saya, mengapa dia tega membunuh. Jika dia disuruh, lantas disuruh oleh siapa?” Jun juga merasakan kesesakan yang sama. Selama ini ia berteman dengan seorang pembunuh. “Dom meninggal setelah istrinya di meninggal dalam koma.”


“Apa mungkin jika Dom membunuh untuk uang? Aku rasa gaji untuk dia cukup untuk itu semua. Tapi mengapa dia mau melakukan pekerjaan keji ini?”


Banyak pertanyaan yang merasuki Naresh akhir-akhir ini. Jun bisa melihat betapa kusut dan terpuruknya tuan mudanya. Ia bisa merasakann tubuh dan pikirannya terkuras habis hingga tanpa sadar Naresh tertidur. Jun memutuskan untuk tidak mengganggu tuannya. Hari ini ia ditugaskan untuk mengantar Naresh ke Kota Milepolis.


“Bersabarlah, Tuan. Hari ini akan jadi hari yang baik.”


Jun tetap fokus mengemudi. Ia bisa memprediksikan akan sampai saat malam hari.


****


Sebuah mobil hitam dengan stiker khas taksi online di bagian depan untuk membedakan antar kendaraan pribadi atau kendaraan yang mengangkut penumpang, itu berhenti di depan halte. Anneline yang memesannya sore ini. Ia sedikit gugup karena baru kali ini dia pergi tanpa ditemani siapapun.


“Dengan Mbak Anneline, ya?” tanya sopir taksi online itu.


“Iya, Tu—maksudku, iya Pak.” Anneline sedikit salah mengucap. Ia lupa, panggilan Tuan sangat jarang di sini. Ia juga sudah lama tidak memanggil dengan sapaan ‘pak’.


“Silakan masuk,” titah sopir taksi online itu.


Anneline sedikit kikuk. Ia terbiasa di bukakan pintu oleh maid ketika di Kota Zen. Sekarang ia harus membukakan pintu mobil untuk dirinya sendiri. Cukup lama Anneline mengerti kondisi semacam ini.


Setelah Anneline mantap duduk di belakang kemudi, Anneline menarik napasnya berusaha setenang mungkin. Hari ini hatinya cukup gelisah dan ada ketakutan yang luar bias hebat.


“Mbaknya bukan asli sini ya?” tanya sopir taksi online itu yang sudah melajukan mobilnya menjauh dari tempat semula.


Lagi-lagi pertanyaan dari sopir itu membuat Anneline tekesiap. Ia lebih gugup dari biasanya. Jika di Kota Zen, ia tak akan mendapat basa-basi semacam ini.

__ADS_1


“Saya dari luar kota, Pak.” Anneline menjawab cukup lama seakan kosakata di kepalanya menghilang sekejap. Ia menjadi lebih lamban jika melakukan semuanya sendiri. Bahkan untuk merencanakan sore ini saja ia harus berbohong kepada Kinanti lagi.


“Oh ya, Mbaknya mau ke mana? Soalnya di alamat Mbaknya tertera kurang jelas. Ini mau ke taman kota?” Sopir itu membuyarkan kegugupan Anneline.


“Eh! Sa-saya ingin ke toko peralatan dapur.”


“Mbak mau beli apa? Sepertinya Mbak kelihatan bingung. Tenang Mbak, saya pasti antar kemana tujuan Mbak.” Sopir itu bisa membaca mimik muka penumpangnya yang terlihat kebingungan dan ketakutan. Entah apa yang dipikirkannya.


“Saya baru saja pindah dan tidak punya kartu bus karena masih berstatus sebagai orang baru. Saya butuh peralatan dapur, Bapak bisa mengantarkan saya di mana bisa membeli peralatan dapur?” Anneline merasa sopir yang terlalu ramah ini, lebih tepatnya terlalu berisik.


“Oke saya antarkan ke toserba ya, Mbak.” Sopir itu melajukan mobilnya dan berbelok ke jalan yang sedikit sempit.


Anneline hanya mengangguk mengiyakan. Ia hanya melempar pandangannya ke jalan.


Lima belas menit kemudian. Mobil taksi yang ditumpangi Anneline berhenti di sebuah toko yang lumayan besar. Sekarang saatnya mengambil selembar uang dari dalam tasnya. Tapi tangannya tiba-tiba menyentuh benda yang tak asing. Ia memejamkan mata, untuk menahan mengeluarkan benda itu.


Sopir yang sedikit curiga dengan gelagat penumpangnya yang kebingungann mengaduk-aduk isi tasnya. Ia takut jika penumpang itu tidak bisa membayar. “Ada masalah, Mbak?”


Sopir taksi online pun melongo kaget saat penumpangnya memberikan uang ratusan ribu. Padahal ongkos argo hanya dua puluh ribu, tapi penumpangnya memberikan lima kali lipat dari yang seharusnya diterima.


Anneline menatap toserba yang lumyan besar. Jantungnya makin berdegup kencang. “Aku harus mencari apa yang kubutuhkan.”


Anneline tahu, sebentar lagi malam. Ia memutuskan tetap mencari benda yang ia inginkan. Di keramaian, ia merasa sangat takut. Bukan karena berbaur dengan banyak orang, tapi di tas yang ia selempangkan terdapat satu revolver yang tabungnya berisi satu peluru. Ia membawanya dari Kota Zen saat berangkat seminggu yang lalu. Sekarang ia harus berhati-hati dan bersikap setenang mungkin.


Anneline berjalan menuju rak yang menjual peralatan dapur. Tepat berdiri di barisan pisau, bibirnya membentuk lengkungan senyuman yang sulit diartikan. Matanya melihat kilauan pisau yang bisa memantulkan bayangannya sendiri. Tanpa pikir panjang, Anneline mengambil sebuah pisau yang sangat tajam. Ia langsung menuju kasir untuk membayarnya.


Proses pembayaran membuat Anneline tertarik dengan salah satu karyawati yang sedang membungkus kado. “Apakah saya bisa memesan untuk membungkus kado di sana?” tanya Anneline sambil menujuk karyawati yang ia maksud.


“Benar, Kak. Kakak hanya tinggal bayar kertas kado nanti teman saya yang akan membungkusnya,” ucap kasir perempuan itu.


Setelah pembayaran selesai, Anneline langsung membawa pisau yang ia pilih ke tempat pembungkusan kado. Ia harus menunggu seorang ibu muda yang nada bicaranya sangat tinggi. Sekali lagi kesabaran harus ia rasakan. Setelah lima menit kemudian, ibu muda itu telah mendapatkan apa yang dia mau. Selanjutnya adalah Anneline. Ia menodongkan pisau yang baru dibeli, si karyawati sedikit terkejut melihat pisau yang dibungkus kantong plastik disodorkan padanya.


“Aku ingin pisau ini dibungkus dengan kotak kado yang indah,” ucap Anneline tanpa ragu.

__ADS_1


Karyawati pembungkus kado menelan salivanya. Memang jarak antara wajahnya pisau yang terbungkus itu begitu jauh, tapi tatapan perempuan itu seakan ingin memangsanya. “I-iya.”


“Saya mau pakai kotak kado terbaik, karena, ini hadiah untuk teman saya.”


Si karyawati pembungkus kado mengangguk. Ia mengambil kotak kado dengan motif warna teal. Dengan cekatan si karyawati itu meletakkan pisau itu ke dalam kotak. Ia merasa aneh dengan sikap perempuan berambut panjang yang memesan pisau untuk kado.


Apa ada yang memberikan kado untuk temannya tapi isinya pisau?


Pikiran si karyawati berkelana. Tapi tangannya harus membungkus kado itu dengan rapi. Tak sampai lima menit, kado itu siap berpindah tangan. “Ini Kak. Kadonya sudah jadi.”


Anneline mengangguk. Ia memberikan uang sebesar seratus ribu kepada si karyawati pembungkus kado. “Terima kasih.” Ia buru-buru mengambil kota kado yang berisi pisau itu dan memasukkannya ke dalam tas selempang. Setelah itu, Anneline bergegas pergi dari toserba ini. Ia harus segera memesan taksi.


Si karyawan pembungkus kado itu tertegun karena uang ya diberikan jumlahnya terlalu banyak. Niat hari ingin mengejar, tetapi perempuan itu sudah pergi. Bayangannya pun sudah tak tampak.


“Ah sudahlah. Namanya rejeki, enggak boleh nolak.” Si karyawati pembungkus kado itu mengambil uang seratus ribu untuk dimasukkan ke saku celananya. Ia mengganti yang itu dengan uangnya yang berjumlah lima ribuan.


_________________________


Hai, apa kabar?


Kuharap kabarmu baik. Terima kasih sudah menunggu kelanjutan cerita ini. Aku yakin, kakak-kakak pembaca pasti kaget melihat novelku dengan strip END. Nggak apa-apa, aku memang sengaja mengantur akan tulisan dicover telah tamat. Tak perlu risau, jika kakak-kakak sudah “memfavoritkan” novel ini, pasti ketika update episode baru, kakak akan menerima pemberitahuan.


Saya beberapa hari ini merasa kecewa karena, novel jarang sekali mendapat promosi. Iya, mungkin isi ceritanya jauh berbeda dengan kebanyakan. Novel romance kok ada scene pembunuhan. Aneh! Tidak biasa! Enggak logis!


Enggak apa-apa, kan settingnya bukan di indonesia. Tapi kota yang memang hanya ada di pikiran author. Aku mengucapkann banyak terima kasih pada kakak-kakak yang masih setia membaca novel ini. Kuharap bisa setia sampai akhir.


Jangan lupa Like, komen dan vote ya. Jika belum rating novel, kasih 5 bintang. Ngenes amat cuma dpt 4,3 doang🤣🤣🤣


Terima kasih,


Salam hangat


Ilamy Harsa.🍀

__ADS_1


__ADS_2