Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 110


__ADS_3

Selamat membaca ..


Sudah tiga minggu ini Kinanti bekerja di kediamaan Keluarga Fernando. Selama tujuh hari ini, Kinanti selalu diperlakukan baik oleh Nyonya Fernando, entah angin apa yang merasukinnya. Sang nyonya sudah tidak menyiksa batinya seperti tempo hari yang lalu, bahkan mengangap Kinanti selayaknya perempuan yang sama sepertinya. Dia juga telah mengajak Kinanti untuk berbelanja atau menemaninya melakukan perawatan tubuh dan wajah rutin.


Kinanti merasa perilaku yang berbeda itu karena Naresh dalam tujuh hari ini tidak melakukan perjalanan ke luar kota, ia hanya bekerja di perusahaan lalu kemudia sore akan pulang. Siang yang terik ini Kinanti merasakan kemurahan hati Nyonya Fernando. Ia dibebas tugaskan siang ini, karena malam ia harus menemaninya dalam pesta. Sekarang ia menuju ruang cuci dan berpikir mungkin ada pekerjaan yang bisa ia bantu, terutama Kinanti ingin membantu Bibi Saka. Benar saja, ternyata beliau sedang menjemur selimut yang sangat berat. Kinanti membantu sebisa mungkin.


“Sepertinya nyonya besar sudah menerimamu Kinan,” ucap Bibi Saka di sela-sela menjemur selimut yang sangat tebal.


“Sepertinya begitu?” Kinanti merasa tak senang, ia seperti dikurung dalam sebuah tempat yang tampak baik dari luar, tapi tidak baik di dalamnya.


Bibi Saka yang melihat ekspresi Kinanti yang tampak tidak bersemangat, pasti ada pemicunya. “Apakah Kinan tidak betah mengabdi di sini?”


Kinanti menggeleng kepalanya, tidak menjawab. Ia bisa masuk kemari karena terjerat perjanjian utang dengan Naresh dan sepertinya ia tidak bisa bebas keluar masuk dengan seenaknya. Sekarang Bibi Saka mengajak Kinanti untuk duduk di bawah pohon apel yang sangat rindang dan paling besar yang mengelilingi halaman untuk tempat menjemur ini. Angin sepoi hadir memaikankan anak rambut milik Kinanti begitu sejuk.


“Apakah Nak Yori belum menyatakan perasaannya padamu?” tanya Bibi Saka.


Kinanti menatap Bibi Saka yang sedang menikmati bersandar di pohon apel yang besar itu. “Perasaan?”


“Sepertinya kamu tidak tahu siapa sebenarnya Yori itu. Dalam aturan yang tertulis, jika seorang laki-laki dalam keluarga ini membawa seorang perempuan maka dia adalah perempuan pilihan. Namun mengapa kau malah harus jadi pendamping adik iparnya?” Bibi Saka tersenyum. Angin berhembus, dedauan ikut menari hingga ada yang berguguran.


“Nyonya Fernando adik ipar dari Kak Naresh?” Kinanti mengulangi kalimat dari lawan berbicara.


“Tuan Yori dan Tuan Fernando adalah sepasang Kakak beradik.” Bibi Saka menjelaskan.


Kinanti baru tahu kebenaran ini, ternyata ini jawaban dari pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan kepada pria yang bernama Naresh itu.


“Pantas saja, dia tidak suka disebut dari golongan maid. Tapi mengapa dia tunduk kepada Tuan Fernando? Jika Naresh itu anak laki-laki tertua mengapa dia harus menjadi bawahan adiknya?”


Banyak pertanyaan yang berseliweran yang muncul di kepala Kinanti. Saking seriusnya memikirkan hal ini, ia tak sadar bawah Bibi Saka sudah pergi dari tempat itu karena Naresh yang semula ingin bergabung, tapi ia malah meminta Bibi Saka pergi dari tempatnya dan dengan cepat ia duduk di sebelah Kinanti.

__ADS_1


“Sepertinya kau merindukanku?” Naresh mendekatkan wajahnya memamerkan deretan gigi yang rapi.


“Aaaaaaaaaaaa!!” Kinanti berteriak kaget. Ia tak menyangka mengapa bisa orang yng baru ia bicarakan muncul di sampingnya.


“Diam! Kau berisik sekali,” Naresh terlihat memegang telinganya, memeriksa apakah suara terikan ini membuat gendang telinganya masih ‘baik-baik saja’.


“Habisnya Kakak muncul dengan tiba-tiba.” Kinanti menenangkan debaran jantungnya.


Naresh mengulas senyum manisnya, dam sedikit merapikan rambut Kinanti agar lebih rapi. Jantung Kinanti berdegup makin tak karuan. Sentuhan Naresh mampu membuat ia kehilangan kefokusan. Makin lama wajah Naresh kian memikat sepasang mata dara ini. Aroma tubuh maskulinya pun menyeruak masuk ke hidungnya memberikan pengenalan aroma yang baru.


“Maaf ya aku baru bisa bertemu denganmu, aku terlalu sibuk dengan dunia pekerjaan hingga menghiraukanmu.”


Kinanti menggeleng, ia merasa tidak pantas untuk diprioritaskan. Ia hanyalah daun kering yang terhempas jatuh ke tanah.


Naresh hari ini merasa senang, ia diperbolehkan untuk pulang karena pekerjaannya telah selesai. Kesempatan ini tidak mungkin disia-siakan oleh Naresh, langsung saja ia menghampiiri gadis yang setiap malam mengganggu jam tidurnya.


“Tanyakan saja.” Naresh memandang langit biru dengan gumpalan awan putih yang berjalan melamban digiring angin.


“Berapa gajiku dalam sebulan saat menjadi pendamping Nyonya Fernando?”


Pertanyaan semacam itu adalah hal yang lumrah bagi seorang pekerja. Namun Naresh justru berpikir bawah Kinanti mungkin kekurangan uang untuk keluarganya. “Sekitar 30 juta dan itu sudah bersih.”


Ternyata banyak sekali, tak kusangka akan seperti ini. Tapi resiko kerjanya lumayan menguras batin.


“Sangat banyak sekali, sepertinya itu cukup untuk membayar uang yang sudah aku pinjam kepadamu, Kak. Mungkin setelah satu bulan ini hutangku lunas dan aku bisa kembali pulang ke daerah asalku.” Kinanti telah membayangkan ia kembali ke rumah kecilnya, bertemu dengan ayah dan juga Reno.


“Apakah kau berniat untu kembali?” suara Naresh terdengar berbeda dengan tadi yang sangat riang sekali.


“Iya, aku ingin pulang ke rumahku sendiri dan menjadi sopir taksi online lagi. Sudah lama sekali aku tidak berkeliling menggunakan mobil milik Pak Adnan.” Kinanti tertawa menikmati kenangan yang ingin ia ulangi lagi.

__ADS_1


Namun tidak bagi Naresh yang menatapnya tanpa senyuman. Matanya seakan menyala tentang ketidaksukaan tentang apa yang diucapkan oleh Kinanti. Tanpa ragu ia meringkus tubuh gadis itu dan membuatnya terbentur dengan pohon apel yang besar ini.


Kenapa Kakak melakukan hal ini?


Naresh terpaksa menekan tubuh Kinanti jauh lebih sakit dari sebelumnya. “Siapapun yang sudaha ku bawa kemari, tidak bisa keluar dengan mudah!” Naresh mendesiskan kalimatnya dalam kengerian.


“Bukankah jika setelah selesai semua hutangku padamu, maka perjanjian kita selesai,” Kinanti meringis berusaha menahan rasa sakitnya.


“Dengar ya ... aku berkuasa penuh atas dirimu dan itu adalah suatu hal yang mutlak.” Naresh melepaskan tanganya. Ia bangkit dan pergi menjauh dari tempat itu membawa amarahnya. Pria ini memang tidak menampakkan kemarahannya di depan Kinanti.


Aku punya alasan tersendiri mengapa kau tidak boleh pergi dari sisiku.


Kinanti mengelus kedua pundaknya memeluk dirinya sendiri. Ia hanya melihat sosok pria yang mendadak berubah kasar itu sudah menjauh dari tempat ini. Seketika air matanya mengalir membentuk jejak yang jelas di pipi mulusnya lalu buru-buru menghapusnya. Sekarang ia tahu mengapa Naresh membawanya. Sangat jelas bahwa dia akan menjadikannya sebagai budak.


Aku hanya ingin pulang dan kembali ke kehidupanku yang sebenarnya. Aku tersiksa di sini dengan masa lalu yang sering menghantuiku. Masa lalu yang tak pernah aku tahu siapa pemiliknya. Aku sangat tersiksa.


Kinanti tidak bisa menahan tangisnya.


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author😁🙏


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.🤗


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀

__ADS_1


__ADS_2