Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 31


__ADS_3

Hari ini Farah memakai hijab yang lebih panjang dari biasanya, ia juga membawa semprotan cabai kalau pria kemarin masih mengejarnya. Sungguh itu menakutkan bagi Farah.


Ia meminta kepada Akmal agar ia dioper menjadi pelayan di lantai berapa pun asal jangan lantai empat. Bahkan Farah juga bersedia dioper di bagian dapur. Akmal mengiyakan permintaan dari Farah. Tidak di dapur melainkan di tempatkan di lantai dua sebagai pelayan juga. Farah berterima kasih kepada Akmal.


Sampai siang ini Farah tidak menemukan kesulitan di lantai dua ini. Memang banyak sekali pengunjung di lantai dua dibanding lantai lainnya. Karena konsep lantai dua ini sedikit berbeda dengan lantai lainnya. Ketika lantai tiga dan lantai empat memiliki kursi, berbeda dengan lantai dua, pengunjung di haruskan untuk duduk di karpet. Lesehan namanya.


Dengan konsep perdesaan maka arsitektur lantai dua banyak menggunakan kayu jati dan bambu untuk daya eksotisnya. Biasanya lantai dua ini ramai karena banyak pengunjung dari kalangan mahasiswa yang memesan kopi dan password wifi yang sudah disediakan di kedai ini.


Kaum elite lebih menyukai memesan meja di lantai tiga atau lantai empat karena arsitektunya bergaya lebih mewah dibanding lantai lainnya. Dan bisa disewa untuk pesta-pesta terbatas.


Farah bersyukur sampai saat ini, ia belum bertemu dengan pria itu.


***


Seorang pelayan datang menghampiri Ray yang baru saja duduk di kedai milik Ilham. Ia memilih tempat seperti biasanya, duduk di dekat jendela. Ray sudah memandang seisi lantai empat ini tapi tidak menemukan apa yang ia cari.


“Maaf Tuan Ray ingin pesan apa?” tanya seorang pelayan perempuan dengan sangat genitnya. Pelayan itu sudah berdandan dengan dandanan yang menggoda, dan memakai parfum yang sangat wangi sehingga dari jarak jauhpun wanginya sudah tercium.


Ray memandangi pelayan itu, ia merasa muak karena ia telah banyak melihat perempuan yang berdandan seperti itu dan memakai parfum sangat wangi di kelab malam yang menyediakan wanita untuk ditiduri.


“Saya ingin dilayani dengan pelayan yang sopan, ia berhijab dan memakai rok bukan celana. Kamu kenal perempuan itu?” tanya Ray kepada pelayan di depannya.


“Farah maksud Tuan,” jawab pelayan itu.


Semua pelayan di kedai ini tahu ciri-ciri pelayan yang disebutkan oleh Ray, hanya Farah yang memakai rok untuk bekerja, semua karyawan-karyawati disini memakai celana walaupun ada yang berhijab. Farah mengecualian karena perintah dari Ilham.


Oh namanya Farah


“Iya, sekarang dia tidak masuk?” tanya Ray.


“Farah sudah dipindahkan di lantai bawah,” jawab pelayan itu.


Ray akhirnya bangkit, ia segera berjalan menuju tangga. Ia ingin ke bawah, mencari di lantai bawah.


Pelayan yang sudah berdandan dan memakai parfum yang sangat wangi itu kesal, padahal ia berharap agar Ray yang tajir itu mengajaknya untuk malam ini sebagai teman kencan.


***


Farah sudah sibuk dengan pekerjaanya. Mengantarkan kopi pesanan para pelanggan di lantai dua. Ia bolak balik dari meja barista ke tempat pelanggan yang memesan kopi.


Ray sudah berkeliling ke lantai tiga, sedikit lenggang. Namun tak juga menemukan Farah. Ia turun ke tangga menuju lantai dua.


Ray melihat lantai dua, ramai sekali banyak mahasiswa yang bergerombol untuk mengerjakan tugas maupun hanya nongkrong. Ia melihat sekeliling lantai dua ini tidak menemukan Farah. Ray terus membujuk hatinya untuk singgah di lantai dua ini.

__ADS_1


Ray mememukan meja kosong di bagian pojok dekat dengan pagar bambu. Ia duduk sendirian. Tiba-tiba ada pelayan pria yang menghampirinya.


“Maaf Mas mau pesan apa?” tanya pelayan pria yang memakai apron coklat seperti barista.


“Dua cappucino,” jawab Ray.


Lalu pelayan pria itu menyodorkan secarik kertas.


“Ini apa?” tanya Ray.


“Itu pasword wifi disini Mas,” jawab pelayan pria itu.


Ray mengembalikan kertas itu, “Maaf kuota internet saya unlimited dan mungkin lebih cepat dari jaringan wifi disini. Jadi saya tidak membutuhkan ini.”


“Baiklah, mohon di tunggu sebentar pesanan akan segera datang.”


Dasar!! Sok borjuis! Mentang-mentang tanggal muda, menolak passoword wifi di sini.


Batin pelayan pria kesal.


Pelayan pria itu meninggalkan Ray. Ia tak tahu kalau Ray adalah pemilik perusahaan terkenal di kota ini karena Ray berpakaian sama seperti mahasiswa lainya tidak mengenakan setelan jas bermerk mahal. Dengan pakaian ini Ray berharap bisa menemukan Farah. Ia bisa berbaur dengan pelanggan kelas menengah lainnya.


“Mbak Farah tolong antar dua cappucino ini ke pelanggan yang memakai kemeja biru itu,” pinta salah seorang barista.


Farah mengangguk, ia membawa nampan berisi dua cappucino dan berjalan menuju meja pojok dekat pagar bambu. Pelanggan berkemaja biru itu sibuk memandangi layar ponselnya.


Suara ini?


Ray lalu mengalihkan pandangannya ke pelayan perempuan yang membawa dua cappucino pesanannya.


Farah melihat Ray. Dia?! Mengapa dia bisa di sini?


Farah terkejut atas kehadiran Ray.


“Kita bertemu lagi Nona. Semesta ternyata suka berkonspirasi untuk mempertemukan kita,” ujar Ray saat tahu kalau pelayan itu Farah.


Farah tidak menggubris Ray, ia menyodorkan dua cappucino dihadapan Ray. Ia harus segera pergi dari meja itu.


“Sebentar jangan pergi dulu. Akan aku bayar berapapun yang kamu mau asal Kamu mau minum cappucino ini. Kamu minta berapa? Satu juta? Sepuluh juta? Seratus juta? Atau satu miliar? Sebutkan nominal yang kamu butuhkan,” kata Ray yang membuat seluruh pengunjung yang berada di lantai dua menadang ke arah mereka.


Farah melihat semua pengunjung, barista dan para pelayan di lantai dua sedang memandangi mereka.


Ada salah satu pelanggan yang berbisik. “Mengapa bukan aku saja yang di tawari, cuma minum cappucino itu dapet duit!”

__ADS_1


Farah menarik nafas panjang, “Maaf, pekerjaan saya hanya mengantarkan pesanan pelanggan di kedai ini. Permisi,” kata Farah meninggalkan meja yang di tempati Ray.


Farah risih dengan para pelanggan yang yang masih memandanginya. Ia menunduk lalu kembali ke meja barista.


Kali ini usaha Ray gagal. Ia tidak akan berhenti sebelum perempuan berhijab tadi menjadi miliknya.


Semakin kamu menolak, semakin aku penasaran denganmu.


Mata Ray masih memandang perempuan yang menolaknya.


“Maaf Bang, boleh saya minum kopi ini? Hehehe ... saya ingin seperti mbak tadi, cuma disuruh minum dapet uang. Saya butuh uang Bang untuk beli skincare biar glowing gitu,” ucap salah satu pelanggan wanita yang membuyarkan lamunan Ray.


Ray hanya menatapnya dengan tatapan menusuk, namun pelanggan wanita tadi sudah meminum habis cappucino itu. Berharap segera mendapat uang dari Ray.


***


Pukul sembilan malam, jam kerja Farah telah selesai. Ia berjalan keluar dari kedai menuju halte. Sekarang Ia sangat berhati-hati, Ia sering memandang keadaan sekitar, menengok kanan kiri memastikan Ray tidak muncul seperti kemarin.


Farah sudah berada di halte bus, Ia masih waspada terhadap keadaan sekitar, jangan sampai Ray mendadak muncul. Ia gelisah mengapa bus belum juga datang.


Farah berdoa agar perjalanan pulang malam ini tidak ada yang menganggunya. Ia juga sudah mempersiapkan segala hal, seperti semprotan cabai, kalau-kalau Ray muncul dan berbuat hal yang mengerikan, ia bisa menyemprotkan air cabai ini ke wajah Ray.


Jam menunjukan pukul 21.15, Farah masih menunggu bus yang tak kunjung datang. Ia semakin gelisah merasa malam ini semakin mencekam. Di halte itu hanya ia sendiri, walaupun di halte itu kondisi penerangan memadai namun ia masih takut seperti kejadian kemarin.


Ia berdoa meminta perlindungan. Akhirnya Farah menyerah, ia ingin memesan taksi atau ojek online. Ia tidak ingin berlama-lama di halte ini. Farah mencari ponselnya. Ia mengaduk-aduk isi tasnya.


Farah menemukan ponselnya. Namun naas daya baterai di ponselnya habis. Ponselnya mati. Ia tersadar akan sesuatu. Ia bisa meminta Akmal untuk memesankan taksi atau ojek online melalui ponselnya.


Farah bangkit dari duduknya, ia berniat kembali ke kedai untuk meminta bantuan Akmal.


“Farah ...!” panggil seseorang.


Farah terkejut dan berteriak. “Aaaakkk ...!”.


Pasti penasarankan kelanjutannya? hahhahah


Karena di Noveltoon tidak bisa mengedit footnote jadi akan aku artikan kata yang mungkin asing di sini.


Borjuis : kelas masyrakat dari golongan menengah keatas(biasanya dipertentangkan dengan rakyat jelata.) kata kita bisa menyebutnya sok tajir, sok kaya, kek gitu.


Semoga bermanfaat.


Terima kasih telah menjadi pembaca setia novel pertama saya.

__ADS_1


Salam hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2