
Akmal sudah menemukan nama yang cocok untuk bayi laki-laki Rahma. Dengan melihat bulan yang bulat itu sebagai acuannya. Akmal berjalan kembali duduk di dekat Rahma yang sedang terbaring. Ia melihat wajah kelelahan milik Rahma. Akmal tahu, senista apapun Rahma di masa lalu dia tetap sahabatnya yang hidup bersama dalam panti asuhan. Sama-sama tidak memiliki keluarga, tidak mengerti kasih sayang dalam satu ikatan keluarga yang utuh.
“Aku sudah menemukan nama yang tepat untuk bayimu,” ucapan Akmal membuat Rahma menoleh ke arahnya.
“Siapa Akmal?” Rahma menatap wajah Akmal dengan lekat di setiap lekukannya. Sudah lama sekali ia tidak sedekat ini dengan sahabatnya.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, Farah berjalan menuju tempat di mana Rahma terbaring. Ia telah selesai menjawab panggilan telepon dari Ilham. Farah tersenyum, walaupun air mukanya menyembunyikan rasa kantuk.
“Mana dedek bayinya?” Farah bertanya sangat antusias.
“Masih dimandikan Mbak Farah,” jawab Rahma.
“Siapa namanya?” Farah masih tetap antusias, ia merasa mempunyai adik baru.
Rahma hanya terdiam, ia memandangi Akmal. Pandangan Rahma mengisyaratkan bahwa yang menjawab pertanyaan dari Farah adalah Akmal. Farah lalu menoleh ke pada Akmal, meminta jawaban atas pertanyaannya.
“Namanya Argian,” ucap Akmal.
“Argian?!” Farah masih mencari makna dari nama yang baru saja diucapkan oleh Akmal.
“Iya, Argian Candra Hengkara.” Akmal tersenyum penuh kebanggaan.
Rahma terkejut dengan nama yang kelak akan disandang oleh bayinya. Ia tidak percaya Akmal membuatkan nama untukn bayinya. Nama yang sangat indah, namun Rahma tidak mengerti mengapa Akmal berani menambahkan nama belakang untuk bayinya.
Hengkara? Mengapa Akmal memberi nama belakangnya sebagai pelengkap nama bayiku? Dia bukan ayah dari bayiku.
“Argian Candra Hengkara? Nama yang sangat bagus! Aku suka dengan nama itu.” Farah tersenyum memperlihatkan gigi rapinya. Namun Farah sangat tidak tahu tentang fakta ini. Selama ini Farah hanya mengenal bahwa nama Akmal ya hanya Akmal, ia tidak tahu jika nama lengkap Akmal adalah Akmal Hengkara.
Rahma dirawat di rumah sakit selama dua hari. Ia cepat sekali untuk pulih. Bahkan si baby Argian pun nampaknya sehat dan bisa di bawa pulang. Farah sudah menyiapkan ranjang bayi yang terletak di sudut kamar Rahma. Akmal yang mengantar pulang ibu dan Bayi Argian.
Sesampainya di rumah Rahma dengan hati-hati berjalan menuju kamar, Akmal yang menggendong buah hati Rahma. Nampak jelas dari raut wajah Akmal yang bahagia sakali menggendong bayi Argian. Terkadang Farah harus berebut dengan Akmal untuk menggendong si kecil Argian, ia terlampau gemas yang pipi chubby Argian. Rahma hanya tertawa melihat tingkah perebutan yang mirip seperti anak kecil yang sedang berebut sebuah permen.
__ADS_1
Ilham sudah memberi pesan bahwa ia akan lebih lama lagi di Numa karena urusan pekerjaan. Dalam hati kecil Farah sebenarnya kecewa namun apa boleh buat, ini keputusan dari suaminya. Walaupun hati Farah ada secuil kekecewaan namun ia memiliki sedikit lebih banyak kebahagiaan. Benar secuil kebahagiaan itu hadir di rumahnya. Farah senang jika melihat bayi Argian tertidur lelap karena telah kenyang meminum Asi.
Bayi Argian tertidur dengan manisnya, ia sekarang di jaga oleh kedua perempuan. Begitu tenang dan damai. Farah yakin suatu hari Argian akan tumbuh menjadi anak yang bisa membahagiakan banyak hati.
Kedatangan Argian di dunia ini membuat Rahma merasakan dua perasaa sekaligus. Perasaan bahagia karena Argian lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kehadiran Argian membuat Rahma memiliki keluarga baru, ia ditemani oleh malaikat kecil yang menggemaskan. Perasaan yang mengiringi kebahagiaan adalah perasaan sedih yang timbul karena alasan-alasan yang Rahma putuskan sendiri. Ia bersedih karena si kecil Argian lahir tidak memiliki ayah. Ibunya belum pernah menikah dengan pria manapun, ditambah Argian adalah anak hasil menjual diri. Perasaan sedih dan merasa bersalah itulah yang sekarang dirasakan Rahma di salah satu sudut ruang hatinya.
Semenjak kedatangan Argian di rumah Farah, Akmal jadi sering berkunjung. Hampir setiap hari Akmal berkunjung dengan dalih ingin melihat si kecil Argian. Nampaknya ia begitu menyukai anak kecil, bahkan Akmal sudah terlatih untuk mengganti popok bayi atau memandikan bayi yang masih mungil itu. Bahkan Farah sendiri masih takut-takut untuk memandikan bayi. Lihat! Sekarang Akmal sedang memakaikan baju untuk si kecil Argian, kemampuan yang tidak semua lelaki bisa melakukannya.
***
Ilham pulang tepat pada hari ke-sepuluh, ia melebihkan tiga hari dari perjanjian tujuh hari dengan Farah. Tidak apa-apa, Farah bisa memakluminya. Sekarang setiap sudut rumah ini dipenuhi oleh tangisan bayi. Ilham tidak keberatan soal itu. Bahkan sebelum tidur, Ilham melakukan ritual kesukaannya yaitu menyisir rambut panjang gelombang milik istrinya.
“Siapa nama bayi itu.” Ilham bertanya, tangannya dengan lincah menyisir rambut milik Farah.
“Namanya baby Argian Candra Hengkara, Mas.”
Mendengar nama Hengkara, tangan Ilham terhenti untuk menyisir rambut milik Farah. Ia sangat tertegun dengan nama belakang bayi berjenis kelami laki-laki itu. Ia cukup lama berpikir, menalar kemungkinan-kemungkinan yang bisa bisa menguatkan atas pertanyaannya.
Farah merasakan gerakan menyisir Ilham terhenti. Ia menoleh ke belakang melihat suaminya yang melamun memikirkan sensuatu. Airmuka Ilham memang terlihat seperti menerka-nerka mencari jawaban yang menurutnya harus sangat logis.
“Ada yang Mas pikirkan? Tentang kedai di Numa ya?” Farah bertanya menyadarkan Ilham dari ‘kegiatan melamunnya’.
Ilham hanya menggeleng.
“Mas baby Argian itu lucu banget, aku suka pipinya chubyy itu.” Farah merasa gemas membayangkan ia bermain pipi bulat milik Argian.
“Mengapa kita tidak membuatnya sendiri?” tanya Ilham.
Farah kaget dengan pertanyaan yang keluar dari bibir Ilham. “Mas ingin sekarang?” tanya Farah malu-malu, ia menundukkan kepalanya.
Ilham tertawa kecil. “Memangnya kamu sudah siap?” Ilham mengelus puncak kepala Farah.
__ADS_1
“Aku masih dalam keadaan datang bulan.”
Ilham tersenyum menatap lekat wajah istrinya. “Tidak perlu terburu-buru, anggap saja kita berpacaran dulu.”
***
Seperti biasanya Akmal ingin menengok si kecil Argian. Ia juga membawakan satu kota penuh dengan salad buah. Akmal sudah mengkantongi izin dari Ilham. Bahkan bosnya pun juga menitipkan dessert box yang penuh dengan coklat untuk istrinya di rumah. Nampaknya satu hari tanpa melihat si kecil Argian rasanya ada yang kurang.
Tak butuh waktu lama, Akmal sampai di rumah Ilham. Ia dipersilakan masuk oleh Farah. Akmal memberikan dessert box dengan penuh coklat itu kepada Farah, ia bilang bahwa itu dari bosnya. Farah tersenyum menerima hadiah kecil yang suaminya kirimkan kepadanya. Akmal berjalan menuju kamar Rahma, ia sedang menunggui Argian yang sudah tertidur pulas.
“Kak Akmal, saya ke dapur sebentar untuk membuatkan Kak Akmal minum,” ucap Farah seraya ia pergi menuju tempat tujuannya.
Di kamar itu Rahma yang sedang duduk di dekat ranjang bayinya. Akmal hanya mendekati ranjang bayi, ia mengusap dengan lembut kepala bayi Argian. Rahma hanya memandangi perbuatan Akmal, ia merasa bahwa Akmal sepertinya terlalu menyanyangi Argian.
“Mengapa kamu memberikan nama belakangmu untuk bayiku?” tanya Rahma memecah keheningan di antara mereka.
“Apakah ada larangan yang mengantur itu semua?” Akmal berbalik bertanya kepada Rahma. Ia masih mengusap lembut pipi chubby milik Argian. Bayi ini sunggu tidur dengan ketenganan yang luar biasa.
“Argian bukan anakmu, dia lahir karena kesalahanku. Aku bahkan tidak tahu siapa ayah kandungnya. Kau tak perlu repot-repot menambahkan nama belakang untuk bayiku.” Sudut mata Rahma basah, ia menahan air matanya sebab ia tidak ingin menangis.
“Aku tidak keberatan membagi namaku untuk malaikat kecil ini.”
____________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
__ADS_1
Ilamy Harsa🍀