
Pukul 20.45, Farah akhirnya mendekati meja pesanan. Ia ingin memesan french fries dan dua gelas coklat dingin. Mendengar pesanan itu, para karyawati yang sedang berkumpul pun tertawa. Mereka menyangka bahwa Farah akan memberikannya pada seorang pria yang ‘disangka’ kekasihnya Farah.
“Untuk siapa Mbak? Untuk pacaranya ya?” goda kasir itu.
“Bukan.”
“Lalu pria yang setiap waktu selalu mengantarkan dan menjemput Mbak Farah itu siapa? Pasti calon suaminya ya?” tempat pesanan itu dipenuhi oleh gelak tawa beberapa karyawati.
Farah bergeming, ia hanya ingin menunggu pesanannya lalu segera pulang.
Di sisi lain Akmal sedang memperhatikan atau mungkin lebih tepatnya mengawasi istri bosnya. Ia tahu tabiat Ray, bahwa dia tidak akan melepaskan apapun yang sudah menjadi targetnya. Akmal tahu bahwa sudah 4 hari ini bahwa Farah selalu pulang bersama dengan Ray. Bahkan berangkat ke kedai juga bersama Ray. Akmal tak habis pikir, mengapa Pak Ilham seakan tidak peduli dengan keselamatan istrinya.
Setelah pesanan Farah selesai dibuatkan, ia lalu pamit kepada teman-teman karyawatinya. Farah memang pulang lebih awal dibanding karyawati lainnya, ini perintah langsung dari Ilham. Farah keluar dari kedai dengan membawa dua kantong kresek yang berisi dua cup es coklat dan french fries. Farah membawa makanan itu untuk Ray. Ia tahu Ray memang orang kaya, bahkan Ray bisa membeli satu restoran french fries.
Farah melakukan hal ini karena wujud rasa terima kasihnya kepada Ray. Dia telah menyelamatkan Farah saat di Kota Numa. Farah tak sabar ingin segera menemui Ray di halte yang biasa Ray jadikan tempat untuk menunggu kepulangannya.
Farah berjalan menuju halte dekat kedai. Ia sedikit kecewa mengapa Ray belum hadir, rasanya ada yang ganjil. Tidak biasanya Ray telat untuk menunggunya di halte itu.
Mungkin Ray sedang banyak pekerjaan.
Farah memutuskan untuk menunggu bus. Ia memandang lurus ke depan, hanya beberapa mobil yang berlalu lalang. Pikirannya menjalar kepada suaminya. Farah berharap suaminya segera pulang.
__ADS_1
***
Ray sedang menunggu waktu yang tepat, ia melihat jarum jamnya. Setelah energinya terkuras untuk mengeluarkan rasa amarah ini, Ray berniat untuk untuk melakukan apa yang sudah ia pikirkan. Raga dan pikirannya masih bercampur keangkaraan. Ia masih ingin mengeluarkan lagi energi iblisnya.
Ia keluar menuju rumahnya, mengendarai sendiri salah satu mobil mewahnya. Ia sudah tak tahan dengan nafsu iblis ini, dan semua ini hanya karena satu perempuan yang bernama Farah. Ray mengedarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat.
Tempat tujuan Ray adalah halte yang biasa ia kunjungi untuk menunggu Farah pulang. Dari kejauhan ia tahu ada perempuan yang sedang duduk sendirian di halte. Persis seperti yang ia inginkan. Ray melesatkan mobilnya menuju halte itu.
Farah sedikit terkejut dengan mobil mewah yang tiba-tiba berhenti di depannya. Terdengar decit cakram rem dari mobil itu. Farah sedikit waspada terhadap seseorang yang berada di mobil itu. Ia sudah menyiapkan seprotan cabai di tasnya.
Ray keluar dari balik kemudi mobil itu. Farah sedikit tenang karena itu bukan orang jahat melainkan Ray, teman baiknya.
Farah tersenyum melihat sosok Ray berjalan mendekatinya di halte.
Untuk pertama kalinya, Ray tidak menyapa Farah. Sorot matanya tajam, menusuk sosok puan di hadapannya. Ia muak harus berbaik hati seperti malaikat. Kendali tubuhnya sudah dipenuhi angkara kemurkaan.
Farah menyodorkan dua kantong plastik yang berisi french fries dan es coklat kepada Ray. Ray mendekati Farah, ia mengambil kantong itu dari tangan Farah. Dengan tersenyum licik, Ray membuang makanan itu dengan kasar.
Farah terperanjat dengan tindakan Ray. Ia merasa ada hawa tidak baik yang menyelimuti Ray.
Mengapa Ray jadi seperti ini?
__ADS_1
Farah bergidik ngeri melihat sorot mata Ray yang tajam, ia sempat mencium aroma minuman keras yang menguar dari tubuh Ray.
Apakah dia sedang mabuk?
Ray berjalan perlahan membuat Farah harus melangkah mundur. Sampai-sampai Farah terduduk di kursi halte.
“Ray, mau apa kamu?!” Suara Farah bergetar ketakutan. Ia pernah merasakan hal seperti ini di dalam mimpinya.
Ray tetap mendekat, ia mencengkram tangan Farah sangat kuat. Ia menarik Farah dengan cara yang kasar.
“Sakit Ray! Lepaskan tanganku!” pekik Farah.
Ray tidak bersuara, matanya masih menyorot tajam. Wajahnya tak dihiasi dengan senyuman.
“Ray, jangan paksa aku!” suara Farah menjerit. Naas keadaan sedang sepi. Tidak ada yang menolong Farah.
“Ikut aku sekarang!” Ray membentak Farah agar dia berhenti memberontak.
Sekarang Farah ketakutan. Ia tidak bisa melepas cengkraman tangan Ray. Tindakan Ray kali ini lebih kasar. Ia sudah tidak peduli lagi dengan rintihan belas kasih yang Farah perlihatkan.
Tiba-tiba ada sosok lelaki yang meneriaki Ray. Farah tidak bisa melihat siapa lelaki itu. Cahayanya terlalu gelap.
__ADS_1
“Lepaskan perempuan itu! Jangan sakiti dia!” seru lelaki itu.