Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 184


__ADS_3

Episode 184: Kepribadian yang Hangat


Anneline sudah sampai di tempat penginapannya. Setelah sarapan, ia diantar oleh Ray menuju tempat ini sebelum Kinanti datang. Tentu Ray tak ingin berurusan dengan Fernando bersaudara. Berurusan dengan konglomerat dari Kota Zen sama saja mencari mati.


Anneline segera menuju kamarnya untuk merapikan rambutnya. Ia ingin menata rambutnya dengan mengepang. Ia sudah lama tidak melakukan hal ini. Rambutnya selalu diurai atau digelung sesuai acara yang akan dihadiri.


Hari ini seperti hadiah yang tak ternilai untuknya. Jiwanya merasa bebas seperti tidak akan ada yang melarangnya untuk melakukan sesuatu terhadap tubuhnya sendiri. Tak seperti biasanya, hari ini Anneline mengenakan sepatu yang tidak terlalu tinggi tapi membungkus keseluruhan kakinya.


Dering ponsel mengalihkan perhatian Anneline. Ia mengambilnya dari tas kecil. Sebuah panggilan video dengan nama Fernando. Sebenarnya ia malas sekali untuk menjawabnya, tak ada rasa yang menggebu-gebu di hatinya. Akhirnya Anneline memutuskan untuk mengabaikannya.


“Sebentar lagi kau akan sendirian Nando. Tak perlu lagi mengkhawatirkan aku.”


***


Kinanti berjalan lebih cepat dari biasanya. Hari ini ia telah menyewa mobil untuk mengantarkan nyonya besarnya jalan-jalan mengelilingi kota ini. Setelah melewati jalan setapak, ia sampai di rumah penginapan.


“Nyonya, aku sudah sampai.” Kinanti langsung masuk ke rumah. Pintu selalu terbuka. Ia melihat Anneline sedang duduk menatap kolam renang dengan memakan potongan buah apel.


Anneline menoleh menampilkan senyuman hangat. “Hai, Kinan.”


Kinanti tertegun, ia melihat nyonya besarnya sangat berbeda dari biasanya. Anneline yang selalu memakai baju gelap dan riasan full di wajahnya sekarang hanya memakai riasan yang sangat natural. Nyonya terlihat sangat muda.


“Kinanti, mengapa kau terus mandangiku? Ada yang salah?” Anneline menegur Kinanti karena sedari tadi dia tak berkedip sedikitpun.


“Ti ... tidak. Hanya saja Nyonya sedikit berbeda hari ini.” Kinanti menunduk.


“Bagaimana penampilanku? Apakah ada yang aneh?” tanya Anneline.


Kinanti menggeleng pelan. Ia tersenyum. “Anda terlihat sangat muda dan menawan.”


Anneline tersipu. Bahkan jika disandingkan dengan Kinanti mungkin banyak orang yang mengira bahwa mereka gadis dengan usia sebaya, padahal terpaut enam tahun.


“Kau juga cantik, Kinan.”


Penilaian Anneline tidak salah. Hari ini Kinanti memakai rok selutut berwarna hitam dengan motif kotak-kotak dan dipadu dengan sweter putih berlengan panjang. Ia yakin, Kinanti mencontoh gaya berpakaiannya saat di Kota Zen.


“Eh! Terima kasih, Nyonya.” Kinanti jadi salah tingkah. Nyonya besarnya jarang sekali memuji apalagi tersenyum.

__ADS_1


“Kinan, bisakah jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya? Aku risih jika panggilan itu dibawa sampai sini.” Anneline merajuk. Ia memang tak ingin dianggap nyonya jika di kota ini.


Kinanti tertohok. Sejak kapan Nyonya berubah seperti ini.


“Nyonya, apakah Anda sedang mabuk?” Kinanti takut-takut bertanya. Ia merasa perempuan yang sedang menyantap potongan apel ini adalah pribadi yang lain.


Anneline tertawa. Ia memang sudah mabuk tadi malam. “Kau merasa aneh ya?”


Kinanti buru-buru menggeleng. “Tidak, Nyonya. Maksudku, tidak Kak.”


Anneline tidak menjawab lagi, ia melanjutkan memakan buah kesukaannya. Hari ini ia ingin melepaskan semua atribut apapun yang berkaitan dengan Fernando. Ia tak ingin dipanggil nyonya dan tak ingin diperlakukan seperti biasanya. Ia ingin mengulang kembali bagaimana menjadi Anneline yang dulu.


“Kak Anne, bagaimana jika kita jalan-jalan mengelilingi kota ini. Saya sudah menyewa mobil,” ujar Kinanti.


Tangan kanan Anneline menjepit dagunya berpikir. “Aku mau, tapi bisakah jangan pakai mobil?”


Kinanti mengerutkan keningnya. “Hah? Lalu ....”


“Aku mau naik bus!” seru Anneline.


Kinanti tertegun, ia tidak menyangka jika Anneline meminta hal ini. Ia tidak marah ketika mobil yang ia sewa tak jadi dipakai, toh ia menyewa dengan uang dari kartu debit yang diberikan oleh Naresh.


“Aku ingin mengelilingi kota ini dengan bus. Toh, pembukaan eventnya masih nanti siang. Aku ingin merasakan berpanas-panasan menunggu bus itu di halte.” Anneline menegaskan lagi. Pokoknya hari ini ia ingin merasakan perjalanan yang berbeda.


“Baik, Kak.” Kinanti tahu keputusan yang sudah dibuat Anneline tidak bisa diganggu gugat. Ia harus menurutinya, sebab jika tidak dia akan nekat.


“Mari kita berangkat sekarang.” Potongan buah apel telah tandas. Piring itu sekarang bersih hanya ada garpu di atasnya. Ia segera mengambil tas selempang, memasukan semua barang keperluannya.


“Kita berangkat Kinan!” serunya sangat antusias.


****


Anneline dan Kinanti berjalan hingga menemukan halte. Terlihat sekali Anneline yang sangat bersemangat sampai suhu sepanas ini ia masih berseri. Kinanti hanya tersenyum melihat kepribadian nyonya besarnya saat ini.


Mereka duduk di halte dengan papan yang bertuliskan HALTE 281. Kondisi halte yang baik dan sedikit panas. “Kak Anne tidak apa-apa seperti ini?”


Anneline menggeleng. “Apakah kau tahu cafe terpopuler di sini?”

__ADS_1


“Ada, kafe milik Pak Ilham. Ayah saya bekerja di sana sebagai petugas keamanan,” jelas Kinanti.


Demi mendengar kata Ilham, hatinya terlonjak bahagia. “Aku ingin ke sana!”


Kinanti hanya menggangguk. Ia sempat kaget karena semangat Anneline jauh berbeda. Aura yang dia bawa seperti dirinya yang lain.


Apakah di rumah besar itu dirinya sedang tertekan? Hem ... entahlah. Tak ada yang tahu pasti.


Sebuah bus koridor 3F berhenti di halte yang ditempati Anneline dan Kinanti. Mereka langsung menaikinya, Kinanti harus menempelkan kartunya dua kali karena Anneline tak memiliki kartu pembayaran khusus untuk naik moda transportasi ini.


Awalnya Anneline cukup kesulitan. Akhirnya ia terbiasa, sudah enam tahun ia tak pernah menaiki kendaraan umum. Keadaan bus koridor 3F tidak sesak. Semua penumpang mendapat jatah tempat duduk masing-masih. Sedari menaiki bus ini, Anneline terlihat sangat senang sekali. Mungkin Kinanti yang merasa dia sedang naik bersama anak kecil yang baru pertama kali menaiki bus.


Bus berjalan tidak begitu cepat hingga Anneline bisa melihat berbagai bangunan dan jalan yang di lalui kendaraan besar ini. Ia girang bukan main seperti melepaskan rasa kanak-kanaknya. Bahkan tak segan menyikut Kinanti untuk menunjukkan bangunan yang menurut dia unik.


“Mungkin jika pakai mobil tak akan seseru ini,” ucap Anneline.


Bus berhenti di halte depan cafe milik Ilham. Anneline dan Kinanti akhirnya turun. Mereka segera menyeberang jalan untuk sampai di cafe itu.


Sesampainya di pelataran cafe, Anneline terpukau dengan bangunan itu. Cafe ini milik Ilham? Dia mewujudkan mimpiku? Jadi selama ini dia masih mengingatku?


Dada Anneline terasa sesak karena ada kerinduan yang membuncah. Jika Ilham berdiri di hadapannya ia ingin sekali langsung memeluknya. Tak peduli dengan tatapan orang di sekitar.


“Ayo, Kak.” Kinanti terpaksa harus menyadarkan Anneline yang sedang terpesona dengan berbagai hal seperjalanan tadi. Ia bisa memaklumi karena Di Kota Zen tentu hal ini jarang ada. Keadaan kota itu lebih keras karena adanya persaingan bisnis.


Anneline hanya menurut. Ia berjalan menjajarin Kinanti yang masih menarik tangannya.


“Kinanti,” suara seorang pria sedang memanggil dua perempuan yang berjalan beiringan.


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa


__ADS_2