Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 195


__ADS_3

Episode 195: Penjelasan dari Anneline


Anneline menyeka matanya yang sedikit berair sebelum sempat buliran air matanya jatuh. Ia tak suka kesedihan ini terus menggerayang di hatinya dan membuat sekumpulan air mata yang bisa membuatnya lemah. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan.


“Aku dipaksa menikah dengan Fernando. Semua terjadi tepat satu minggu setelah saat aku pergi meninggalkan kota dan kamu. Ayah memberikanku kepada keluarga Fernando. Selama aku di sana, aku diajarkan untuk beradaptasi di lingkungan yang serba teratur. Aku dipersiapkan oleh menjadi seorang pasangan hidup untuk pria pewaris semua aset keluarga. Aku pernah mencoba untuk kabur, tapi selalu tak ada jalan.”


Ilham menyadari bahwa sekarang Anneline sering sekali menyeka air mata yang belum tumpah. Ia yakin bahwa perempuan ini sedang menyembunyikan luka-lukanya dan dia malu kalau harus menangis di tempat seperti ini.


“Ann, selesaikan makananmu. Setelah itu, kamu boleh melanjutkan ceritanya.”


Anneline mengangguk. “Aku sudah selesai.”


Prediksi Ilham benar, Annneline tidak akan habis dua mangkuk es krim sundae.


***


Dering ponsel yang meraung membuyarkan konsentrasi Farah yang sedang membaca novel. Ia menutup bukuanya dan beralih pada ponsel yang terus memanggilnya minta untuk segera disentuh. Layar ponselnya menampilkan nama Kinanti yang sedang memanggil dirinya. Tanpa pikir panjang, Farah menjawab panggilan itu.


“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, iya Kinan?”


“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Maaf, aku ganggu enggak? Takutnya aku telepon malam-malam malah ganggu.”


“Enggak ganggu kok, memangnya ada apa, Kinan?”


“Gini Farah, aku mau ajak kamu jalan-jalan. Kemana pun kamu mau, soalnya aku sudah sewa mobil, tapi sampai hari ini Kak Anneline tak pernah pergi. Alhasil mobilnya cuma numpang parkir di depan rumahku.”


“Kak Anneline jarang keluar rumah ya?”


“Kalau dibilang jarang sih, kurang tepat. Sekali keluar pasti cuma belanja kebutuhannya sendiri. Itu saja dia sering sekali tidak mau dijaga.”


“Seperti itu. Memangnya kamu mau ngajak aku kemana?”


“Sesuka hatimu Farah, pas waktu senggang saja. Jangan lupa, kasih tahu Pak Ilham jika aku mengajakmu. Oke!”

__ADS_1


Farah tersenyum, ia bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik.


***


Ilham memakirkan mobilnya di taman hijau kota yang berlokasi tak jauh dari kediaman elit para orang kaya. Ia pikir, inilah tempat yang cocok untuk Anneline menjelaskan semuanya saat ia menghilang enam tahun lalu, lebih tepatnya terkurung di Kota Zen selama enam tahun.


Ilham dan Anneline akhirnya memilih duduk di kursi taman. Sudah tentu, Ilham yang menjaga jarak, bahkan ia harus mengenakan masker agar tidak banyak orang yang tahu.


Anneline menarik napasnya. Ia sudah lebih tenang dibanding saat di kedai. Mungkin, ia bisa leluasa menangis di sini. “Aku lanjtukan ceritaku.”


Ilham mengangguk. Momen ini yang ia tunggu, penjelasan dari Anneline.


“Aku menikah dengan Fernando di sebuah kastil tua. Pernikahan itu digelar tertutup, hanya tamu tertentu yang boleh masuk. Jika ditanya, apakah aku bahagia jawabannya adalah tidak. Enam tahun aku bersama pria cacat itu tak pernah ada perasaan cinta di antara kami.”


Anneline membuka kancing atas bajunya. Ilham yang sadar akhirnya memalingkan wajah. Terlihat di bagian dada tas ada bekas luka sayatan yang sudah lama sekali.


“Dulu di tubuhku, tepatnya di sini.” Anneline menunjukkan bekas lukanya. “Ibu mertuaku memasangkan sebuah chip kecil yang berfungsi mendeteksi kemana aku pergi. Semula aku tak menyadarinya, dan berusaha kabur dari rumah itu dengan mengelabuhi penjaga. Tak lama kemudian, mereka berhasil menangkapku. Ibu mertuaku marah besar, tapi Fernando tak pernah tahu akan hal itu. Hingga pada akhirnya aku sadar ketika dia selalu membawa tablet, ternyata benda itu untuk mendeteksi keberadaanku.”


Anneline menjeda ceritanya. Ia terisak lalu mengancingkan kemejanya lagi.


Ilham tercekat. Ia bisa merasakan betapa berat beban yang selama ini dipikul Anneline. Ia merasakan kesedihan yang sama. Ia mengambil sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya kepada perempuan di sebelahnya itu.


Anneline menerima sapu tangan pemberian Ilham. Ia menghapus air mata dan membuang ingus yang sebenarnya adalah air mata yang merembes dan keluar melalui hidung. Air mata kesedihan.


“Aku ditemukan tepat setelah alat itu mengirim signyal pada Fernando. Semua orang terkejut dan langsung membawaku ke rumah sakit. Para dokter datang dan mengoperasiku. Aku kehilangan banyak darah. Aku sadar dalam waktu tiga hari setelah operasi. Badanku terasa lemas, hanya ada Fernando yang duduk menatapku. Kuderngar dari beberapa maid yang ikut menjagaku, Katanya, Fernando sangat terpukul atas kejadian ini. Dia meminta agar tak perlu lagi memasang alat pendeteksi, karena aku juga bagian dari dirinya. Tapi, menurutku semua hanya sia-sia. Sejak saat itu, aku meminta kamar untukku sendiri. Fernando menyetujuinya dan membiarkanku merasakn hidup.” Anneline tertawa getir. Ia menangis dan merasakan sesuatu yang ringan. Seperti ada beban yang dipindahkan.


“Cerita yang panjang. Apakah Theo dan orang tuamu tidak pernah menjengukmu, Ann? Mengapa mereka tak ada diceritamu?” Ilham mulai curiga, mengapa keluarga Horation bisa membiarkan hal ini. Ia tahu, jika Anneline adalah anak gadis kesayangan mereka. Mengapa nasib enan tahunnya seperti ini.


“Mereka sudah tidak peduli. Ayah, maksudku Pak Horation menjualku kepada keluarga Fernando. Miris, kan? Di dunia ini, masih ada orang tua yang menjual anaknya demi kesenangan semata.” Anneline tersenyum. Senyum yang ia luks untuk menutupi luka-lukanya.


“Lalu kemana mereka saat ini?”


Mereka pantas mati Ilham! Mereka sudah kubunuh, karena tak pantas untuk hidup di dunia yang sudah kejam ini.

__ADS_1


Anneline membuang muka. “Aku tidak tahu. Mungkin, mereka sudah bahagia disuatu tempat, jadi tak pernah menjengukku.”


“Lalu, bagaimana ibu mertuamu?” tanya Ilham menyelidik.


Anneline menatap Ilham. “Dia sudah meninggal.”


“Maaf, aku tak bermaksud membuatmu bersedih.” Ilham merasa tidak enak hati, karena mengingatkan Anneline dengan kesedihan atas kematian orang terdekatnya


Anneline hanya tertawa renyah. “Tidak apa-apa.”


Dia juga sudah kubunuh! Dia juga sama seperti orang tuaku dan Theo. Pantas untuk mati!


“Bagaimana hubunganmu dengan suamimu?”


Anneline menatap lekat binar mata Ilham. “Apakah kau masih ingin tahu?”


Ilham terdiam lalu menunduk. “Maaf, itu terlalu sensitif.”


Anneline menggeleng. “Tidak apa-apa, aku akan menceritakannya. Selama enam tahun, aku dan Fernando hidup sebagai dua orang lain dalam satu atap, tanpa saling mencintai. Aku yakin, hal ini sama seperti kau dan Farah. Hubungan yang saling paksakan pasti akan berbenturan dan terkadang menyakitkan.”


Ilham menghela napas, ia membenarkan apa yang diucapkan Anneline. Ia teringat bagaimana dia memperlakukan Farah saat pertama kali masuk di kehidupannya. Ilham juga pernah berpikir cara untuk menceraikan istrinya, tapi tetap saja tidak ada celah. Perempuan itu selalu menuruti apa yang ia perintahkan.


“Seperti apa Fernando di matamu?”


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,

__ADS_1


Ilamy Harsa


__ADS_2