Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 124


__ADS_3

Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


(Masih dalam flashback)


Hari pernikahan itu tiba, keluarga kaya itu menikahkan Anneline dan Fernando di kawasan kastil tua yang megah di sebelah Selatan Kota Zen. Tempat itu mirip sekali dengan kastil-kastil yang berada di Inggris.

__ADS_1


Di ruangan yang sepi, Anneline telah selesai dirias dengan sangat cantik. Ia juga mengenakan gaun putih yang dipesan khusus untuk dirinya. Kain veil agak transparan yang menutup seluruh kepala dan rambutnya. Namun di hari yang membahagiakan itu, justru Anneline bersedih. Ia menangis tidak peduli dengan riasan yang sudah dipoles sedemikian rupa.


Seorang wanita berumur 40 tahun datang menghampiri Anneline yang sedang menangis. Ia adalah ibu dari pengantin itu. Bagi Anneline wanita itu adalah orang yang hanya bisa menangis saat suaminya menyeret dan mengikatnya untuk dijual oleh kerluarga kaya ini.


Sang ibu menjangkau lembut kedua pipi Anneline. “Sayang, bukankah ini hari bahagiamu? Hari ini kamu akan jadi pengantin dan putri yang sangat cantik bersandingan dengan sang pangeran yang tampan. Ibu sangat bahagia melihat anak gadis ibu menikah.”


Anneline membuang jauh tangan ibunya. Ia tidak sudi disentuh. Tangisannya terhenti, keadaan semakin sunyi dan sedikit mencekam. Ia bangkit lalu memandang perempuan yang melahirkannya dengan tatapan yang sangat mengerikan. Auranya berubah sangat drastis, bukan lagi keharuan tapi atmosfir yang mencekam dengan penuh amarah.


“Suamimu menjualku bukan untuk menikah dengan Tuan Naresh melainkan dengan Tuan Fernando yang cacat!” Anneline mendorong tubuh ibunya. Tak cukup sampai di situ, sebuah tamparan keras dilayangkan untuk perempuan tua itu.


Plakkk!


“Apakah Ibu ingin bilang bahwa aku pengantin wanita yang cantik? Begitukah?” Anneline itu berbicara dengan penuh penekanan. Kedua tangannya masih mencengkeram kuat leher ibu. Ia tertawa mengerikan membuat kengerian tersendiri.


“Kenyataannya aku pengantin yang menyedihkan! Kau yang membuatku harus menikah dengan pria yang kondisinya tidak sempurna!” Anneline makin mengeratkan cekikannya, tak peduli bahwa ibunya hampir sekarat kehabisan napas.


Hampir saja Anneline menghilangkan nyawa, seseorang datang langsung melerai pertikaian itu. Dia juga yang mendorong Annelien hingga jatuh tersungkur. Sang ibu bisa bernapas walaupun sedikit tersengal. Ia juga terbatuk-batuk saat oksigen kembali memenuhi paru-parunya.


“Apakah kau sudah gila Ann! Dia adalah ibumu sendiri! Mengapa kau begitu tega memperlakukan ibu seperti ini!” Theo geram, ia tak habis pikir dengan keluakan adiknya.

__ADS_1


“Berhenti menatapku seperti itu Theo! Kau yang membantu lelaki biadab itu untuk menjualku!” Anneline membalas tak kalah galak.


Theo yang puncak kekesalannya sudah berada di ujung kepala pun menghampiri Anneline yang masih tersungkur di lantai. Dengan tangan kanannya ia menjepit dagu adiknya dengan kasar. “Harusnya kau senang bisa diperistri oleh orang kaya seperti keluarga Fernando! Kau bisa hidup dengan bergelimang harta yang tidak akan habis sampai kapanpun!”


“Sudah Theo, sudah! Jangan sakiti adikmu ....” Ibu itu mencoba melepaskan jepitan tangan Theo yang berada di dagu putrinya.


Theo menurut, ia melepaskan tangannya dengan kasar membuat Anneline tersungkur hingga kepalanya membentur lantai. Sejak saat itu api yang berasal dari dendam telah membesar. Anneline tidak suka dengan keluarganya dan bermaksud ingin membalaskan perasaan sakit hatinya itu.


Tunggu saja, kehidupan kalian akan semakin damai saat aku mengakhirinya.


Janji suci akhirnya terucap, sekarang Anneline dan Fernando resmi menjadi suami istri. Setelah menjadi Nyonya Fernando hal yang dilakukan oleh ibu mertuanya adalah mengajarinya untuk seni bela diri. Di kota Zen kebanyakan wanita akan belajar ilmu bela diri atau cara menggunakan senjata yang dianggap lazim. Anneline juga mempelajari bagaimana menggunakan racun.


Rumah keluarga Fernando sangat luas, hingga terdapat tempat rahasia untuk menyimpan senjata dan arena bertarung. Anneline memang tidak pandai dalam teknik bela diri, tapi ia cukup mahir menggunakan pistol untuk menembak dengan tepat sasaran. Ia terus berlatih, tak cukup sampai di situ, ada senjata yang menarik perhatiannya yaitu pedang samurai yang bersarung hitam yang selalu memanggil Anneline.


Katana itu milik keluarga Fernando, menurut ibu mertuanya katana itu sudah lama tidak digunkan, karena Nando anaknya tidak akan mungkin menggunakannya. Sedangkan menurut cerita katana ini tidak cocok untuk Naresh yang lebih suka menggunakan senjata kecil seperti belati ataupun bertarung dengan tangan kosong.


Anneline mengerti, ia harus menunggu waktu yang tepat kapan akan membantai seluruh keluarganya. Tiga bulan adalah penantiannya. Orang pertama yang Anneline bunuh adalah ibu mertuanya sendiri dengan racun. Memang tidak dicampurkan dengan minumannya tapi telah diratakan di ujung bibir cangkir. Anneline telah berhasil membunuh seorang manusia. Ia juga memiliki dendam terhadap ibu mertuanya karena mau membeli gadis seperti dirinya.


Fernando bersedih, pihak kepolisian tidak berhasil mengungkap kasus ini. Seluruh penghuni rumah berkabung pada waktu itu, tak terkecuali Anneline. Ia berkabung karena akting. Sejak saat itu ia menjadi satu-satunya Nyonya Fernando, nama Anneline Horation telah dihapus. Ia menggantinya dengan A. Fernando.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2