Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 126


__ADS_3

Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


Naresh merasa ada yang sedang mengintainya. Benar saja! Seorang pria sedang memalingkan wajahnya ketika mata Naresh menemukan sosok itu. Ia juga melihat ada seorang perempuan yang rambutnya tergerai menjadi lawan bicaranya. Naresh merasa sangat mengenal perempuan itu.


“Jangan-jangan ...!”


Kinanti yang tadi sedang berceloteh pun akhirnya terdiam tidak melanjutkan obrolannya. Ia melihat wajah tegang Naresh yang tengah mengamati sepasang pria dan wanita dari ketinggian hotel.


“Jangan-jangan apa Kak?” Akhirnya ia memberanikan diri bertanya. Dengan raut seperti ini, adalah tanda kewaspada dari seroang Naresh.


Naresh tersenyum, ia mengusap pipi kanan Kinanti membuat penenangan. “Tidak ada apa-apa, hanya aku teringat urusan yang belum selesai.” Ia harus menjaga kondisi agar gadis itu tidak ikut panik terlebih lagi ketakutan.

__ADS_1


“Begitu ya?” Kinanti merasa ada kebohongan yang sengaja ditutupi oleh Naresh.


“Sebaiknya kau pulang sekarang.” Naresh bangkit dan mengambil jasnya untuk lalu memakaikannya di tubuh mungil Kinanti.


“Pestanya belum selesai, Kak.”


“Ini sudah malam, biar pak sopir yang mengantarkanmu.” Naresh mengambil ponselnya disalah satu saku celana hitamnya. Ia menelpon sopir yang tadi mengantar Fernando dan istrinya. Ia harus segera mungkin menyembunyikan Kinanti di tempat yang aman, karena Kota ini kepemilikan senjata api adalah hal legal. Lazim sekali para konglomerat membawa pistol saat berpergian.


“Kinan, sekarang kau harus pulang dulu. Ada urusan yang harus segera aku selesaikan.”


“Tapi Kak, aku khawatir dengan tingkahmu yang tiba-tiba berubah seperti ini.” Kinanti takut jika pria yang ia sayangin terjebak dalam masalah yang bisa saja membahayakan nyawanya.


“Aku akan baik-baik saja. Sekarang rapatkan jas ini dan segera pergi menemui pak sopir. Jangan khawatirkan aku.” Naresh tesenyum, ia juga mengelus kepala Kiannti memberikan kenyamanan tersendiri.


Kinanti menggangguk, walau ia sedikit penasaran ada hal apa yang merisaukan pria yang suka membelai lembut rambutnya. “Baik, Kak.”


Semoga kau selalu dilindungi oleh Sang Maha Kuasa.


Naresh berhasil membujuk Kinanti untuk pergi menjauh dari tempat ini. Sekarang ia harus berlari menuju lantai tiga, tempat pria itu menatap lekat dirinya tadi.


“Sayang sekali, aku sangat terganggu dengan pandaganmu terlebih lagi saat kau menatap kekasihku. Sekarang kau dalam masalah tuan.”


Naresh bergerak cepat yang ia bisa, saat memasuki hotel, lift lansung tertutup. “Sial!” umpatnya. Ia harus mencari alternatif lain yaitu menaiki tangga. Tanpa perintah pusat kendali untuk kedua kalinya, Naresh lansung berlari menuju lantai tiga dengan melewati tangga. Ia harus segera menemukan pria yang menatap lekat kekasihnya itu.


Apakah perempuan itu adalah adik ipar?

__ADS_1


Naresh tetap saja berlari. Beruntung tidak banyak orang yang berjala melewati tangga. Hanya beberapa pelayan hotel yang segera minggir walaupun tubuhnya telah menempel pembatas tangga.


Setelah perjuangan yang cukup membuatnya berolahraga malam ini, akhirnya ia sampai di lantai ketiga. Sekarang Naresh harus segera menemukan lorong itu. Dengan insting yang terlatih, Naresh telah menemukan lorong itu.


Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat adik iparnya sedang berbicara dengan pria bertuxedo biru gelap. Ia mengenal pria itu. “Selamat malam Tuan Wijaya.”


“Kita bertemu lagi Yori, tidak usah terlalu formal seperti itu. Bukankah umur kita sama?” Ray tersenyum seolah seperti orang yang tidak bersalah. “Jangan kau salah sangka Yori, aku tidak berbuat macam-macam dengan adik iparmu ini. Kami berasal dari kota yang sama, bukan begitu Anne?” Ray sengaja melempar lirikan mata mautnya kepada Anneline.


Naresh yang memandang tajam merasa ada kejanggalan yang terjadi. Ia masih ingat bagaimana penampilan Anneline dengan rambut yang tergelung rapi dan sekarang rambutnya sudah berurai tak karuan.


“Apa benar itu?” Naresh bertanya dengan tatapan menusuk ke arah Anneline.


“Benar Kakak Ipar,” Anneline hanya bisa menunduk. Ia tidak kuasa menatap Naresh balik.


“Sebaiknya kau segera menemui adikku, dia pasti sedang kebingungan mencarimu,” ucap Naresh, “dan terima kaish Tuan Wijaya telah menjaga adik iparku, jika kau ada perlu sesuatu bisa hubungi aku.”


Ray hanya terkekeh dengan disengaja. “Terima kasih atas kemurahan hatimu, Yori. Sampai bertemu kembali Ann.” Ray melambaikan tanganya ke arah Anneline.


Anneline tidak membalasnya, ia berjalan bersama Naresh untuk pergi dari tempat itu. Saat dalam life Naresh ingin mengatakan sesuatu. “Aku harap adikku tidak perlu tahu tentang pertemuanmu dengan Rayhan Wijaya. Jangan lupa rapikan rambutmu seperti semula.”


Tepat saat pintu lift terbuka, Naresh melangkah keluar dan lansung meninggalkan hotel itu. Ia harus segera pulang dan memastikan keadaan Kinanti aman. Ia melakukan hal ini karena ia tahu bahwa Ray adalah orang yang menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuannya.


Anneline langsung menuju toilet untuk menanta kembali rambutnya. Sebuah kaca menunjukkan pantulan dirinya yang sedang tidak baik. Hari ini kenyataan menampar keras dirinya, pria yang selama ini ia cintai ternyata sudah menikah dengan wanita lain. Satu hal yang Anneline ketahui, bahwa Ilham dan istrinya tinggal di Kota Milepolis.


“Apakah kau perempuan yang sungguh hebat hingga Ilham dan Ray bisa memperebutkanmu seperti diriku dulu?” Anneline bertanya kepada pantulannya di cermin.

__ADS_1


“Aku pernah membunuh setidaknya lima orang hingga saat ini, mungkin aku bisa menambah satu korban lagi agar hatiku tenang.”


__ADS_2