
Ilham masih mengingat detil pertemuannya dengan Ann. Hingga pada suatu hari ia melihat bahwa rumah Ann sudah dikosongkan tanpa adanya pesan selamat tinggal untuknya. Bagi Ilham Ann masih berharga, dan ia harus menemukannya.
***
Ilham bertemu dengan Anneline saat berusia 18 tahun. Anneline adalah murid baru di kelas dan duduk di sampingnya.
“Hay aku Anneline, kamu bisa panggil aku Anne atau Ann,” ucap Anneline saat baru saja duduk di samping Ilham.
Pada waktu itu Ilham tidak menggubris perkenalan pertama mereka. Ilham menganggap siswi yang berada di sampingnya adalah sebuah momok yang harus di jauhi.
Anneline sedikit kesal saat uluran tangannya untuk berkenalan diabaikan oleh siswa yang duduk sebangku dengannya.
“Kamu tuli ya, apa aku harus memakai tulisan? Maaf aku tidak bisa menggunakan bahasa isyarat.” Anneline lalu menulis namanya pada selembar kertas kemudian merobeknya lalu diberikan kepada Ilham.
Ilham kesal karena Anneline menyebutnya tuli. Ilham hanya ingin tenang tanpa adanya gangguan.
“Berhenti menyebutku tuli! Aku sudah tahu namamu saat bu guru menyuruhmu berkenalan,” tegas Ilham.
“Kalau begitu, siapa namamu?”
“Apa kau buta? Bukankah di seragamku sudah jelas terpampang jelas namaku!” Ilham yang semakin kesal dengan ocehan Anneline.
Sebelum kedatangan Anneline, Ilham sering memilih duduk sendiri. Ia sangat tidak suka dengan suara berisik.
Enam bulan Anneline duduk di samping Ilham, ia sudah bisa beradaptasi. Sudah berkomunikasi selayaknya teman sebangku. Ilham baru mengetahui kalau rumah Anneline berada disatu kelurahan hanya berbeda gang rumah saja.
Keluarga Anneline adalah pendatang baru di kota Ilham. Mereka bekerja di sektor perdagangan. Anneline memiliki kakak lelaki yang bernama Theo.
Bunda ternyata sudah kenal dengan ibu Anneline. Ilham masih ingat bagaimana Anneline dan Ibunya datang ke rumah Ilham karena ada acara arisan.
Bunda menyuruh Ilham untuk mengajak Annelin di halaman belakang dekat gazebo.
“Rumah kamu bagus ya Ilham,” ucap Anneline saat berada di gazebo yang terbuat dari kayu jati tua berpelitur.
Ilham hanya mengangguk. Ia masih sedikit malu-malu jika berada di dekat gadis, terutama di dekat gadis yang ia sukai.
__ADS_1
“Kamu tahu, aku mempunyai impian. Aku selalu ingin memiliki cafe yang unik di antara lantai-lantainya. Bisnis kuliner.” Anneline berbicara dengan raut wajah yang dipenuhi janji-janji masa depan.
“Kamu ingin punya cafe tapi kamu sendiri enggak bisa masak,” gurau Ilham.
Wajah Anneline langsung manyun mendengar kalimat yang diucapakan Ilham.
“Aku memang tidak bisa masak! Tetapi kamu ‘kan bisa? Kamu bisa menjadi koki di cafeku kelak.” Anneline membalas ejekan Ilham.
Anneline tahu Ilham bisa memasak dan masakannya enak sekali. Ilham tersanjung dengan pujian Anneline saat merasakan masakan yang ia buat. Bagi Ilham, Anneline adalah sesuatu yang istimewa. Dan Ilham mengingikan Anneline untuk bersanding dalam masa depan yang akan datang.
Ilham masih ingat saat ia dan Anneline lulus SMA dengan nilai terbaik dan masuk di universitas yang sama dan jurusan yang sama pula.
Diulang tahun Anneline yang ke-19, Ilham ingin membuat kejutan yang indah. Dimulailah persiapan kejutan itu.
Ilham ingin membuat kue ulang tahun, Ia meminta diajarkan cara membuat kue kepada Bunda.
Tiba pada hari ulang tahun Anneline. Ilham sudah bersiap membawa kue yang sangat cantik, yang ia hias sendiri. Ilham hanya perlu meminta bantuan Theo kakak sulung Anneline.
Ilham sudah mengetahui jika Anneline dan Theo sudah dekat dengan rumah mereka. Ilham segera menyalakan lilin yang bertuliskan angka 19. Ilham sudah meminta Theo agar saat Anneline di depan pintu, mata Anneline ditutup oleh kain.
“Bang Theo apaan sih pakai tutup mata segala? Gelap tahu,” ucap Anneline saat sampai di depan rumahnya.
Sekarang Theo menuntun Anneline untuk masuk ke dalam rumah. Ilham telah bersiap di depan Anneline dengan membawa kue ulang tahun yang sudah di nyalakan.
Anneline membuka ikatan kain yang menutup matanya. Ia terpukau dengan dengan kejutan yang Ilham buat.
Anneline berdoa sebelum menium lilin itu. Whuuu ... lilin itu sudah padam. Theo bertepuk tangan.
“Kue ini aku buat sendiri, khusus untuk yang teristimewa,” ucap Ilham.
Anneline bahagia sekali dengan ucapan Ilham.
Bibit-bibit cinta tumbuh subur di hati Anneline begitu pula dengan Ilham. mereka menikmati kue di dekat kolam renang milik Anneline. Mereka bercengkrama hangat seperti layaknya sepasang kekasih. Tawa canda mereka menghiasi tempat itu.
Tiba-tiba ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anneline. Dia adalah Rayhan.
__ADS_1
“Ilham kenalin ini Ray, sahabat bang Theo. Ray ini Ilham, orang yang sering aku ceritakan padamu,” ucap Anneline memperkenalkan Ilham dan Ray.
Itu awal pertama Ilham bertemu dengan Ray.
“Memang Ann sering cerita tentang aku ya?” tanya Ilham pada Ray.
Ray hanya mengangguk. Semenjak saat itu Ray dan Ilham menjadi sahabat.
Hari-hari di lalui sebagaimana mestinya. Ilham merasa hari-hari yang ia lalui lebih berwarna tidak monokrom seperti yang dulu.
Anneline berhasil menggoreskan warna indahnya di atas hidup Ilham, yang membuat hari-hari Ilham begitu indah dan mengasyikkan. Ilham bahagia bahwa Anneline bisa menjadi bagian dari kehidupannya.
Ilham terlampau bahagia, sehingga lupa akan pepatah antonim ini. Kebahagiaan selalu beriringan dengan kesedihan.
Hari itu pagi masih sama sejuknya karena malam hujan mengguyur. Daun-daun masih meneteskan embunnya. Namun rumah Anneline kosong. Tidak ada penghuni yang tersisa di rumah itu. Bahkan Ilham telah menelpon Anneline berkali-kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
“Kemana Ann?” guman Ilham yang sudah menyusuri setiap jengkal halaman rumah Anneline.
Ilham harus menanyakan hal ini kepada Ray. Ia bergegas menuju rumah Ray.
Sesampainya di rumah Ray, Ilham mennceritakan semua yang Ia lihat bahwa rumah Anneline sudah kosong. Ray menghubungi Theo, tapi nomor ponsel Theo sudah tidak aktif.
Sejak saat itu kehidupan Ilham berubah menjadi suram. Kebahagiaannya seolah terenggut menjadikannya Ilham yang tak mengenal kata lelah. Ia bekerja siang malam demi membunuh rasa kehilangan dan luka-lukanya.
***
Pukul 04.20 mobil mewah Ray masuk ke terminal bus. Banyak sopir bus, pramugari bus dan mekanik bus yang terheran-heran melihat mobil super mewah tahun ini masuk ke lahan parkir terminal.
Ray keluar dari mobil itu. Hari ini Ia di antar oleh sopirnya. Ray sengaja berpakaian tidak seperti biasanya jauh dari setelan jas mewah ataupun aksesoris mewah lainya. Ia memakai setelah baju sport, dan jaket. Ia akan berbaur dengan penduduk kota kelas menengah.
Ray telah memperkirakan jarak antara terminal dan cafe milik Ilham. Armada bus ini akan beroperasi mulai jam 4 pagi.
Ray menunggu bus mana yang akan berangkat. Ia sering melihat jam tangannya.
“Oke jam 04.45, Aku akan ikut bus itu. Semoga perhitunganku tepat,” guman Ray.
__ADS_1
Ray menaiki bus koridor 2A, ia duduk manis sambil menengok ke arah jendela berharap Farah terlihat dari halte mana saja.
Ray hanya melihat pemandangan yang silih berganti dari balik jendelanya. Ia terkenang akan suatu hal.