Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 136


__ADS_3

Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


“Sudah saatnya aku memperbaiki kekuranganku, Kak.” Tuan Fernando menatap kolan bunga Seroja yang sedang mekar di bawah sinar rembulan.


“Iya, kau harus mendapatkan hati adik ipar,” ujar Naresh, “terkadang aku merasa kasihan padanya. Bahkan dia tidak mau berkumpul dengan istri-istri pemilik perushaan lainnya.”


Dua orang bersaudara, Naresh dan Fernando tengah berbincang hangat di gazebo berpilar tinggi. Selayang mata memandang, terlihat hamparan kolam Seroja yang kian hari kian berbunga. Untuk saat ini mereka melepaskan topik perusahaan.


“Aku akan pergi beberapa minggu ini. Bisakah Kakak mengurus semuanya?” tanya Fernando.


“Anneline tidak ikut bersamamu?”


Fernando menggeleng. Ia memang tidak akan mengajak istrinya, atau bahkan sudah menerima penolakan terlebih dahulu. Meski bergitu, ia tetap menyayangi Anneline melebihi apapun.

__ADS_1


“Dia lebih bisa bahagia bersama Kinan.” Fernando tersenyum.


Naresh mengangguk, beberapa pekan ini dua perempuan itu sangat akur sekali. Mereka berlatih bersama dan Kinanti juga mendapat pelatihan cara menembak dari Anneline.


“Apakah kau tidak segera menikah denga Kinan? Maksudku agar hubungan kalian lebih sah saja, lagipula Kakak dan Kinan setiap hari bertemu. Hidup dalam satu atap yang sama, lalu berbeda tempat saat tidur, apakah itu tidak membuatmu leluasa? Aku takut pandangan buruk lagi terhadap gadis itu, Dan Kakak tahu ‘kan, rumor dan gosip gampang sekali menyebar?”


Naresh mengagguk untuk kesekian kalinya. Ia sedikit merasa bersalah jika Kinanti harus tinggal tanpa ikatan dalam satu rumah. Terlebih lagi gosip bisa saja menyebarluas dan dibumbui macam-macam agar lebih menarik.


“Apakah kau yakin untuk pergi sendiri?” Naresh bertanya lagi.


Fernando mantap mengangguk. Sebentar lagi kedua kakina akan dipasang kaki bionik yang bentuknya seperti kaki robot. Kaki bionik ini mampu dikenandalikan lewat pikiran. Tentu saja mendapatkan kesempatan ini tidaklah mudah. Ada serangkaian tes yang panjang. Untuk mendapatkannya pun butuh perjuangan, karena tidak sedikit manusia yang menginginkan kaki itu. Terlebih kaki itu hanya diproduksi oleh perusahaan asing, jadi mau tidak mau Fernando harus terbang menuju negara itu.


“Aku ingin segera berdansa dengan istriku. Kau tahu, dia suka sekali menari terlebih dia ingin naik gunung. Keinginan yang sangat amat sayang jika dilewatkan.”


Bentuk cinta Fernando memang tidak selalu nampak. Ia sangat sadar sepernuhnya jika dirinyasangat tidak pantas untuk perempuan semanis Annelien. Ia masih mengingat bagaimana pertemuan pertamanya di meja makan. Anneline tidak kabur atau memangis melihat pria yang baru menginjak usia dua puluh satu hatun dengan kursi roda. Fernando tahu bagaimana ibunya membeli Anneline. Namun itu semua dilakukan agar ia mendapat seporsi kebahagiaan yang terbaik. Ia sangat yakin jika nanti kaki bioniknya sudah terpasang, Anneline sudah tidak malu lagi memiliki suami seperti dirinya.


***


“Apa yang kau inginkan?” Fernando bertanya karena merasa ada kejanggalan yang terjadi.


Anneline menggeleng. Ia masih menuangkan kopi dan disuguhkan untuk suaminya. Hari ini ia juga mengisi piring Fernando dengan panekuk dan disiram dengan madu, tak lupa ia menambahkan beberapa stroberi diatasnya.


“Silakan.” Anneline menyodorkan piring yang telah terisi panekuk itu untuk suaminya.


Fernando menerima sajian dari istrinya . Ia sedikit memandang curiga. “Tidak ada permintaan? Benar?”


Anneline tetep menggelengkan kepalanya. Ia duduk dan mulai menyantap panekuk menu sarapannya pagi ini.

__ADS_1


“Aku hanya ingin merasakan makan bersama denganmu,” jawabnya singkat.


“Apakah kau sedang mabuk? Aku tak yakin jika ini adalah dirimu. Tak biasanya kau menemani aku sarapan. Apakah aku sedang diterpa amnesia? Jangan-jangan kau ingin tas atau sepatu keluaran terbaru dari brand yang kau suka?” Fernando masih menatapnya dengan penuh kecurigaan. Ia tidak ingin memakan apapun sebelum Annelinen mennjelaskan tujuannya melakukan hal seperti ini.


Untuk ketiga kalinya Anneline menggelengkan kepalanya. Ia tidak sedang mabuk ataupun Amnesia seperti yang dikatakan oleh Fernando. “Aku hanya iri pada cerita Kinan.”


Fernando mengangkat salah satu alisnya. Ia masih tak mengerti ada angin apa sehingga istrinya bisa berubah seperti ini. “Iri pada Kinanti? Iri perihal apa? Bukankah kau lebih dari segalanya dibanding dia?”


Anneline mengunyah panekuk yang dengan perlahan dan menelannya. “Bukan itu, aku iri karena dia dan kakak ipar setiap pagi memasak bersama dan sarapann bersama juga. Aku menginginkan hal itu.” Anneline tersenyum simpul menatap panekuk yang masih tersisa separuh.


“Aku tahu ini sulit bagimu dan bagiku. Aku selalu berharap agar pagiku sama seperti Kinanti, memasak makanan bersama. Berdansa bersama atau bahkan berbelanja bersama. Sangat sederhana tapi tak kunjung aku rasakan.” Anneline menduk makin dalam. Ada rasa kesedihan yang meraut wajahnya manisnya.


Apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya sungguh menusuk. Fernando merasakan seperti lelaki yang tidak berguna. Mungkin menurut beberapa orang permintaan istrinya terkesan sederhana, sangat sederhana sekali. Tapi itu pemintaan yang menampar bagi Fernando, pria yang terlahir dengan keadaan tidak sempurna.


“Maaf aku belum bisa memenuhi keinginanmu ....” Fernando menduduk paling dalam. Kepalanya ditopang oleh kedua tangannya. Ia merasakan kesedihan dan kesusahan.


Perjamuan panekuk itu menjadi diam. Suara adu garpu dan piring tidak terdengar lagi. Keadaan sangat sunyi tanpa sepatah kata. Lenggang, hanya ada suara napas yang tertangkap. Anneline yang melihat Fernando larut dalam kesusahan, seketika bangkit dari tempat duduknya dan memeluk suaminya dari belakang.


Sentuhan kehangatan dari Anneline membuat Fernando terkejut. Pelukan pertama yang ia rasakan sejak enam tahun ini. Desahan napas istrinya bisa terdengar sedekat ini. Jantung Fernando sedang memompa darah lebih cepat dari biasanya.


Apakah jantungku menemukan tulang rusuknya lagi? Ya Tuhan ... kapan terakhir kali Anneline memelukku seperti ini. Tubuhnya sangat hangat, aroma yang tercium berasal dari parfum wewangian floral. Bisakah hentikan waktu untuk saat ini? Saat ini saja, agar pelukan yang nyaman ini biar lama makin kurasa.


“Aku akan menunggu saat kaki bionikmu terpasang. Berjanjilah untuk melakukan yang aku mau, memasak bersama bahkan berdansa bersama. Aku tak ingin menjadi penonton di kala pesta.”


Suara Anneline makin lembut terdengar di telinga Fernando. Suara yang menggetarkan hati. Annelien bangkit dan tersenyum, ia mengambi tangan Fernando untuk memegang pipi kirinya. Ia bermanja di jangkauan itu.


Mengapa Anneline sangat manja sekali hari ini. Tapi aku senang jika dirinya seperti ini.

__ADS_1


“Sekarang kita lanjutkan makan panekuknya.” Anneline menyudahi kegiatannya. Ia melihat ada senyuman yang mengembang dari suaminya.


Selamat kau masuk perangkapku, Tuan Fernando.


__ADS_2