Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 189


__ADS_3

Episode 189: Rasa Sakit yang Sama


“Kumohon pergilah sekarang juga. Aku tak mau Farah berprasangka buruk ketika melihat ini semua. Tolong jangan rusak rumah tanggaku.” Suara Ilham mulai melemah. Ia meminta dengan sepenuh hati kepada Anneline agar mau meninggalkan mobil ini. Ia merasa bodoh kenapa harus mengaja perempuan ini ke mobilnya.


“Boleh, tapi ada syaratnya.” Anneline terkekeh penuh kebahagiaan.


Ilham menatap lekat perempuan yang berada di samping kursi kemudinya. “Apa?”


Anneline menunjuk pipi kanannya yang mulus. “Kiss me.”


“Kamu sudah gila! Aku tak sudi melakukan hal itu.” Ilham menolak dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang takut Farah semakin mendekat. Tapi sepasang matanya belum menangkap sosok istrinya. Semoga dia belum datang.


***


“Pak, lihat itu.” Karin menunjuk seseorang perempuan yang tak asing bagi Ray.


Ray menatap ke arah jari telujuk Karin yang teracung kepada Anneline yang sedang digiring oleh Ilham untuk masuk ke dalam mobilnya. “Ternyata dia masih sama seperti dulu, tak sabaran jika bertemu Ilham.” Ray tertawa penuh makna.


“Wanita ular itu sepertinya berhasil membuat Ilham takluk. Ah! Aku jadi teringat Farah, sekarang dia ada di mana ya? Aku yakin jika dia melihat kelakuan suaminya pasti sakit.” Karin patut mengapresiasi Anneline karena hanya dalam hitungan jam, ia bisa menaklukan suami wanita lain.


“Iya, pasti dia akan menangis sepanjang hari. Bahkan sewaktu Ilham pergi ke Kota Zen selama lima hari, hidupnya terlihat kacau. Murung, sedih, sampai pucat,” ucap Ray iba. Ia tahu persis bagaimana selama lima hari itu, Farah seperti membawa awan mendung bagi siapa saja yang melihatnya. Ray mendesah pelan.


“Sepertinya Bapak harus berguru kepada Anneline agar cepat menaklukkan Farah. Jangan-jangan wanita ular itu memakai jampi-jampi atau bisa jadi dia juga pakai susuk, sampai Ilham yang baru saja bertemu langsung bertekuk lutut. Hebat juga jampi-jampinya.” Karin terkekeh.


Rau menatap sebal sekertarisnya ini. Ia menjitak kening Karin hingga perempuan itu mengaduh kesakitan. “Zaman sekarang masih ada ya model begituan?”


“Saya, kan, bilangnya bisa jadi.” Karin berkacak pinggang lalu mengembuskan napasnya. Ia tak jadi marah, karena takut jatah tas mewahnya raib.


Ray hanya menggeleng dengan pemikiran kolot milik Karin. Tepat saat ia melempar pandangannya ke arah jam sembilan, matanya menangkap sosok Farah. Wajah perempuan itu tampak cemas seakan mencari sesuatu.


“Farah!” Ray berjalan mendekati perempuan bergamis merah jambu dengan motif bunga kecil. Ia bahkan tak sadar telah meninggalkan Karin.


“Pak, lho! Lho! Pak, saya kok ditinggal!” Mau tak mau Karin akhirnya menyusul bosnya. Ia harus berjalan sedikit lebih cepat untuk mengerjar Ray. Ia mendengus kesal karena hari ini bosnya benar-benar menyebalkan.


“Farah!” Ray memanggilnya dengan nada lebih keras.

__ADS_1


Sang pemilik nama akhirnya menoleh melihat dua sejoli yang sedang menghampirinya. Lebih tepatnya adu lari, karena Karin datang paling akhir dan sedang ngos-ngosan mengambil udara untuk mengisi rongga paru-parunya.


“Sayang! Kamu jahat sekali meninggalkan kekasihmu! Capek tau lari-lari seperti ini!” Karin yang kelewat kesal akhirnya memakai senjata pamungkasnya. Memanggil bosnya dengan sebutan kata sayang.


“Ray, Kak Sasmita. Kalian ingin melihat event ya?” Kali ini Farah bingung harus bertanya soal apa. Pertanyaan yang ia ajukan saat ini begitu retorik. Basa-basi yang kelewat sangat basi. Itu yang bisa dibentuk di kepalanya. Sekarang ia sedang mencari-cari di mana suaminya berada.


Ray yang memperhatikan pakaian Farah seketikan menemukan noda bercak yang tercetak tak beraturan dan hampir meliputi hijab dan gamis yang ia pakai. “Kenapa bajumu kotor?”


Farah melirik kerudungnya yang hampir mengering dari guyuran air es teh tadi yang menimbulkan corak yang mengerikan. Bahkan sekarang tubuhnya serasa lengket dan tak nyaman. “Aku kena musibah tadi. Pelayan yang membawa minuman terjatuh dan mengenaiku.”


“Apa perlu aku mengantarmu pulang untuk berganti pakaian?” Ray langsung menawarkan bantuan. Ia lupa jika saat ini Karin yang menjadi kekasih bohongannya.


Farah melirih Karin yang masih mengatur napas. Dia tampak tak peduli jika kekasihnya, Ray sedang menawarkan bantuan kepada perempuan lain. “Aku pulang bersama Mas Ilham. Kalian langsung berkeliling saja, sebentar lagi aku ikut gabung kok.” Farah tersenyum, menandakan bahwa ia menolak dengan cara halus dan merasa tak enak hati kepada Karin.


Dalam hati Karin, ia tertawa puas melihat bosnya lagi-lagi mendapat penolakan. Ia melirih Ray dengan tatapan mengejek.


Ray hanya tak membalas tatapan itu. Ia melepaskan jas yang ia pakai dan menyerahkannya kepada Farah. “Pakailah untuk menutupi noda itu.”


Farah belum menerimanya. Ia masih takut jika Karin akan berprasangka yang tidak-tidak ketika melihat ini.


Karin sudah bisa bernapas dengan normal. “Ambil aja Farah. Kekasihku punya jas yang sangat buanyaak sekali! Ia ingin memberikan jas itu padamu. Tenang saja, aku tidak akan cemburu, kok.” Karin tersenyum sangat lebar hingga deretan giginya terlihat. Akting yang sangat memukau.


“Eh!” Farah hanya tertawa tipis melihat keharmonisan yang unik dari Karin dan Ray. Menurutnya, mereka adalah pasangan yang serasi. Karin yang jenaka, sedangkan Ray yang sangat serius. Paduan yang sempurna.


“Sudah pakai saja Farah. Kamu harus menutupi noda yang sangat besar itu,” ucap Karin. Kali ini ia lebih baik untuk menyampaikan bahwa dia tak masalah jika jas milik kekasihnya dipinjamkan oleh perempuan lain.


“Iya, Kak Sasmita.” Farah menerima jas Ray. “Terima kasih, Ray. Nanti kukembalikan.”


Tepat saat Farah mengambil jas yang disodorkan oleh Ray, tangan mereka bersentuhnya. Hal itu membuat jantung Ray berdegup dua kali lebih kencang. Ada yang mekar di taman hatinya.


Tiba-tiba Farah langsung memegang dada kirinya. Ia terlihat kesakitan lagi. “Aakh!” Rasa nyeri itu menjalar lagi.


“Farah! kamu baik-baik saja?” Karin yang melihat leguhan Farah mulai khawatir.


Farah menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Hanya terasa sedikit sakit.”

__ADS_1


***


“Aduh!” Ilham memegang dada kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri. Sudah lama sekali ia tak merasakan sakit ini lagi.


“Aku tetap di sini sampai Farah datang!” Anneline tetap ngotot tidak mau berpindah barang sesenti pun dari tempat duduknya. Ia marah karena Ilham tak mau mencium pipinya.


Ilham masih tak menggubris Anneline. Rasa nyerinya makin menjadi, isi kepalanya hanya ada Farah, Farah dan Farah. Apakah sedang dalam bahaya, Farah?


Anneline akhirnya melihat Ilham yang sedari tadi tidak merespon permintaannya. Tangan kanannya memegang dada kiri dan dia sedang meringis menahan sakit. Kedua tangan Anneline menyentuh rahang Ilham. Menghadapkan pandangannya agar lebih leluasa adu kontak mata. “Aku beri dua pilihan. Aku akan pergi dari mobilmu, tapi kau harus datang ke penginapanku malam ini. Atau kau pilih aku mengatakan semuanya di depan istrimu. Semua yang pernah kau lakukan termasuk mengejarku di Kota Zen selama lima hari itu?”


“Tolong jangan ganggu istriku. Aku tak ingin membuatnya sakit hati lagi. Kumohon, Ann.” Ilham berusaha menetralisir rasa sakit itu dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia tak pernah punya riwayat asma ataupun gangguan pernapasan lainnya. Ia juga tak pernah merokok. Ia ingat rasa sakit ini ketika meninggalkan Farah selama lima hari.


Anneline tersenyum. “Baik, aku anggap kau memilih tawaranku yang pertama.” Anneline merebut ponsel milik Ilham dan mengetikkan sebuah nomor beserta alamat tempat di mana ia menginap. “Aku tunggu kedatanganmu, Sayang.”


Setelah mengatakan hal itu, Anneline keluar dari mobil Ilham. Ia harus segera kembali ke booth makanan yang tadi. Ia tak mau Kinanti curiga karena kepergiannya yang begitu lama. Ia bahkan sengaja menonaktifkan ponselnya agar tidak bisa dihubungi oleh mantan maidnya itu.


***


“Maaf Ray dan Kak Sasmita, aku harus segera menemui Mas Ilham. Terima kasih atas bantuannya.” Farah merapatkan jas pemberian Ray. Tercium aroma maskulin yang kuat menguar dari jas itu. Ia bergegas menuju di mana mobil suaminya terparkir.


Ray menggangguk. Biar bagaimanapun ia senang karena jasnya bisa memeluk tubuh perempuan yang dicintainya.


Karin yang melihat momen ini mendadak ingin membuat keusilan setelah kepergian Farah. “Sayang sekali hanya jas yang terbawa, tapi hati Bapak tidak. Sungguh kasihan,” ucap Karin dengan nada yang sengaja dibuat-buat.


Ray menatap tajam sekertarisnya yang sangat pecicilan ini. “Hai, Nona Karin. Pria yang berada di sebelahmu ini adalah bosmu. Aku berhak mengatur semua gaji karyawanku termasuk gajimu. Saat kamu memberikan rasa kasihamu padaku, itu berarti kau harus membayarnya. Apakah kamu masih ingin melanjutkan rasa kasihanmu padaku?”


Mendadak Karin menelan salivanya. Ia tahu arah pembicaraan ini dan sudah tentu dia tak ingin gajinya terhempas percuma. “Mungkin cukup untuk hari ini, Pak.”


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2