
Badai telah berlalu, hari sudah beranjak menuju redupnya senja. Farah dan Ray masih bertahan di toko buku itu. Farah telah menyadari badai sudah ‘selesai’. Ia harus segera pulang, ia takut jika Ilham ternyata sudah di rumah dan menunggunya.
“Terima kasih atas waktunya Ray, aku senang bisa berbincang denganmu Ray. Tapi maaf, aku harus segera pulang ke Milepolis,” ucap Farah.
“Akan aku antar pulang,” ajak Ray.
Farah tersenyum. “Aku pulang naik kereta saja.”
“Aku antar kamu sampai stasiun.”
Farah mengangguk tanda ia menerima tumpangan dari Ray.
Ray berpamitan dengan Ramdan. Ia akan mengantarkan Farah menuju stasiun Kota Numa. Ray sangat berharap Farah mau menerima ajakannya. Namun sayang ia hanya bisa mengantarkan Farah hanya sampai stasiun saja.
Akhirnya Ray dan Farah sudah sampai di stasiun. Farah langsung menuju petugas tiket, memasang kartu tiket elektroniknya.
“Maaf Kak, kereta menuju Kota Milepolis udah berangkat 10 menit yang lalu,” ucap petugas loket itu.
“Yah ...” Farah kecewa, ia ketinggalan kereta yang menuju Kota Milepolis. “Apakah tidak ada keberangkatan selanjutnya?” tanya Farah penuh harap.
Petugas loket itu memeriksa jadwal keberangkatan kereta. “Mungkin besok pagi,” jawab petugas loket itu.
Mendengar jawaban dari petugas loket itu, wajah Farah tidak seterang beberapa waktu lalu. Ia ketinggalan kereta dan harus menunggu besok pagi.
Ray melihat kekecewaan yang tergambar jelas di wajah Farah. Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu. Ray tersenyum, ia bisa mengambil kesempatan ini.
“Aku akan antar kamu pulang sampai di rumahmu,” ajak Ray.
Farah menggeleng, ia takut jika Ray bisa berbuat macam-macam. Apalagi jarak antara Kota Numa dan Kota Milepolis adalah tiga jam perjalanan.
Ray tahu bahwa Farah lebih memilih menunggu sampai esok dibanding menerima tawarannya. Ia kemudian mengambil sesuatu yang berada di mobil, ada tongkat baseball. Ia membawa tongkat itu dan memberikannya kepada Farah.
__ADS_1
“Bawa ini, jika aku macam-macam dan berbuat hal yang mengerikan pukul kepalaku dengan tongkat ini,” ujar Ray.
Farah ragu-ragu menerima tongkat dari Ray.
“Kamu ingin pulangkan malam ini? Aku juga akan kembali ke Milepolis.”
Farah menimang ajakan dari Ray. Ia memang ingin pulang malam ini. Farah juga membawa semprotan cabai dan di bekali tongkat baseball dari Ray.
Melihat raut wajah Farah yang masih ragu-ragu. Ray memutar otaknya untuk berpikir agar perempuan di depannya mau menerima tumpangan darinya.
“Baik, kau boleh duduk di belakang, seperti yang kau mau,” ucap Ray lagi.
Farah menyetujuinya. Ia bisa berjaga-jaga diri.
Akhirnya Ray berhasil membujuk Farah agar mau mengikutinya. Mereka menaiki mobil dan akan menempuh perjalanan tiga jam lamanya.
***
Malam ini kerinduan mencapai puncaknya. Rindu itu menguap, berterbangan dalam ruang kamar yang hanya berisi satu orang. Rindu itu bak udara yang setiap helaannya memunculkan rasa ingin kembali terhirup lagi dan lagi.
Rindu itu membuat sesak pemiliknya. Rindu itu menyebar terbawa aliran darah dari pria itu. Setiap jengkal tubuh pria ini kini menyerukan kerinduan pada gadis manis bermata coklat itu. Ilham berdiri di dekat jendela, ia memandang langit yang dihias dengan bulan yang gompal serta bintang-bintang.
“Bagaimana keadaanmu?” guman Ilham.
Hari ini ia sangat lelah, malam ini ia memutuskan untuk tidur lebih cepat. Ia hanya ingin mengusir rasa rindu yang sedang memeluknya erat.
Hati! Apakah kau tahu? Sekarang aku sedang berpesta merayakan rindu ini, ikutlah denganku!
Siapa yang sedang dirindukan oleh pemilik kita Logika?
Gadis itu, Hati! Gadis bermata coklat yang menawan hati bernama Farah.
__ADS_1
Tidak Logika! Bukan gadis itu yang diinginkan oleh pemilik kita, tapi Anneline. Gadis yang menghilang enam tahun ini.
Untuk apa mencari ketidakpastian, jika kita memiliki kepastian yang mutlak, Hati!
Aku dan pemilikku akan mencari Anneline!
Kau terlalu egois hingga lupa pada kenyataan yang kita alami, Hati!
Masih ada waktu untuk menemukan Anneline, aku yakin pemilikku akan menemukannya Logika!
Terserah! Kau melakukan hal yang sia-sia Hati.
Tidak ada yang sia-sia di dunia ini Logika!
Aku tidak peduli Hati! Yang jelas sekarang aku sedang menikmati rasa rindu di dalam pikiran pemilik kita.
***
Dalam perjalanan pulang menuju Kota Milepolis, Farah dan Ray lebih sering menciptakan kesunyian. Yang terdengar hanya deru mesin mobil yang bekerja, helaan nafas dan detak jantung yang mungkin bergema dengan tak kasat suara.
Ray melihat Farah dari kaca kecil yang terpasang di dalam mobil. Ia melihat Farah yang sedang gelisah sambil memeluk tongkat baseball. Pandangan Farah tertuju pada jendela yang menampilkan pemandangan rumah-rumah yang diterangi lampu pada bagian teras.
Farah melamun, ia sedang memikirkan di mana keberadaan Ilham. Atau jangan-jangan Ilham sudah pulang dan sekarang menunggunya. Farah buru-buru mencari ponsel yang berada di tasnya. Ia mengetuk layar ponsel itu. Layar ponsel itu tidak menampilkan balasan pesan dari Ilham. Farah menghela nafas dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Farah kembali menatap pemandangan dari jendela mobil Ray. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas. Tak terasa air matanya menetes, mengalir dari sudat mata hingga dagu. Ia menghapus jejak itu dengan tangannya.
Ray melihat dengan jelas dari kaca kecil dalam mobilnya. Ia melihat Farah yang membuka ponselnya namun raut wajah Farah menujukkan kekecewaan lagi. Ray juga tahu bahwa Farah menitihkan butiran kristal itu.
Mengapa kau lebih sering menangis? Apa yang membuatmu mudah meneteskan air mata itu? Kekecewaan apa lagi yang membuat pikiranmu resah? Ceritakan, ceritakanlah padaku! Aku berharap semoga kau lalai dalam menyakiti diri sendiri. Dan aku juga berharap semoga dijauhkan dari tangis yang tak berarti.
Ray memohon pada Sang Penguasa agar tidak lagi melihat air mata yang jatuh dari gadis yang ia cintai.
__ADS_1