Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 53


__ADS_3

Badai masih menyelimuti Kota Numa. Rintik hujan yang riuh dengan gemuruh yang masih bersahutan. Mungkin keadaan Kota Numa sedang dingin, mencekam dan membuat takut. Namun tidak bagi Ray. Ia sedang menikmati hangatnya suasana musim semi yang menjadikan sakura mekar merekah.


Ray sangat suka melihat Farah yang sedang berceloteh, ia berharap agar waktu tidak cepat berlalu.


“Ternyata toko buku ini dekat dengan hutan wisata yang terkenal itu,” ucap Farah. Ia sedang memandang hutan wisata iconik Kota Numa dari balik jendela toko buku ini.


“Toko buku ini memang dibangun menghadap lansung dengan wisata hutan bagian timur. Jika ingin masuk ke hutan itu, kamu bisa mendapatkan tiketnya di sana. Sebelah selatan itu,” jawab Ray.


“Suatu hari aku ingin berkunjung ke sana.” Farah menunjuk tangannya ke arah wisata hutan itu.


Ray tersenyum.


Aku berharap, agar aku yang menemanimu berjalan beriringan menapaki setiap jengkal hutan itu.


Ramdan si penjaga toko buku ini membawa nampan yang berisi kue-kue kering. Ia menaruhnya di tengah meja di antara Ray dan Farah.


“Silahkan pak Ray,” ucap Ramdan.


“Terima kasih,” jawab Ray.


Ray mempersilahkan Farah untuk mengambil dahulu kue kering itu. Farah tersenyum, ia mengambil satu buah kue kering itu dan memakannya.


Ray suka melihat Farah yang tersenyum menerima makanan darinya.


“Sepertinya penjaga toko buku itu sangat mengenalmu Ray, apakah kau pelanggan setia di toko buku ini?”


Ray terkekeh. “Toko buku ini milikku.”


Mata Farah membulat, ia masih berusaha mencerna jawaban dari Ray.


“Berarti kau suka membaca buku Ray?” tanya Farah.


Ray menggeleng. “Aku tidak suka kegiatan yang membosankan itu.”


“Lalu, mengapa kau membangun toko buku ini?”

__ADS_1


“Toko, ini dibangun saat aku menjadi pemilik perusahaan kontruksi itu. Jangan beranggapan ini cabang dari perusahaannku, bukan. Aku membangun toko ini adalah bagian dari masa laluku.”


Farah memdengarkan penjelasan Ray dengan saksama.


Sepertinya toko buku ini sangat berarti untuk Ray.


“Toko buku ini keren. Aku suka membaca buku,” ujar Farah.


Ray tersentak. Mengapa kamu sama seperti Anne?


Ray masih mengingat alasan mengapa ia membangun toko buku ini. Masa lalunya. Ia masih terngiang atas memori-memori yang tak sanggup ia musnakan.


***


Ray sudah kelelahan untuk berjalan mengikuti perempuan yang sedang memilih buku bacaannya. Ia sedikit kesal mengapa ia menyetujui ajakan dari adik temannya.


“Apakah buku-buku ini belum cukup?” tanya Ray dengan wajah memelas. Ia sedang membawa keranjang yang berisi buku-buku yang lumayan tebal.


“Belum Ray, itu baru tujuh buku. Kurang tiga buku lagi,” jawab Anneline.


“Sepertinya kamu harus memiliki toko buku sendiri,” ujar Ray.


Anneline menatap Ray, ia mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dengan Ray.


“Aku ingin kau yang membangunkan toko buku itu untukku.” Anneline berbalik dan melanjutkan memilih buku yang berada di rak.


Ray terpaku melihat wajah Anneline yang mendekat. Jatungnya berdegup kencang. Darahnya mengalir cepat memenuhi setiap rongga pembuluh yang berada di tubuhnya. Ray mencoba tersenyum, matanya merekam semua gerak-gerik Anneline.


Anneline melihat Ray yang masih terpaku tidak bergerak secenti pun. Anneline menatapnya bingung.


“Mengapa wajahmu memerah Ray?” tanya Anneline yang memperhatikan semu merah yang berada di wajah Ray.


“Bukan apa-apa,” kilah Ray.


Anneline tertawa memperlihatkan gigi-gigi rapi dan putihnya. Ray menyukai gaya tertawa yang khas. Untuk pertama kalinya, Ray ingin menyerahkan seluruh hatinya kepada perempuan yang bernama Anneline.

__ADS_1


Setiap malam Ray selalu berharap agara Anneline menjadi pelabuhan hatinya. Hingga pada beberapa hari sebelum Anneline berulang tahun, ia sudah mempersiapkan hadiah. Pada hari itu ia akan mengutarakan perasaannya kepada Anneline.


Ray sudah membeli boneka beruang putih berukuran besar sesuai keinginan Anneline saat berbelanja bersama. Ia membeli boneka dari uang hasil bekerja paruh waktu disalah satu restoran selama beberapa hari.


Namun semua sia-sia. Percuma. Hari di mana ulang tahun Anneline berubah menjadi hari kesakitan bagi Ray. Ia menyaksikan bagaimana Anneline lebih memilih kue buatan Ilham dibanding hadiah yang ia bawa.


“Ray, lihat.” Anneline menunjukkan seseorang yang duduk di tepi kolam renang di belakang rumah Anneline.


“Itu lelaki es yang menyejukkan hati, ” Anneline tersenyum. “Hari ini dia telah menyatakan cinta untukku. Dan aku menerimanya.”


Seketika Ray merasa ia terjun di air yang sangat dingin. Membeku. Kesakitan. Ia mendengar sendiri bagaimana Anneline menceritakannya. Terlihat dari raut wajah Anneline yang bersemu jingga keemasan. Anneline merasa senang.


Sejak saat itu, Ray ingin membunuh perasaannya kepada Anneline. Ia menjadi manusa robot yang tidak mengenal kata lelah. Hingga suatu saat, ia menjadi pemilik perusahaan kontruksi terbesar. Mungkin bisa dibilang ini hasil dari kesakitan sekian tahun. Ia menjadi manusia yang sangat arogan dan bahkan bisa menjadi sejahat iblis. Ray senang meniduri gadis-gadis yang ia temui di kelab malam. Namun saat bertemu Farah, ia ingin mengubah kebiasaan buruknya.


Ray membangun toko buku ini dengan alasan agar suatu hari Anneline akan mampir ke toko ini. Namun sayang, peristiwa itu mustahil terjadi.


***


“Ray? Kau tidak apa-apa?” tanya Farah yang meilihat Ray termenung melamun. Entah apa yang dipikirkannya.


Ray cepat-cepat menggelengkan kepalanya, tanda ia merasa ‘tidak apa-apa”. Baru saja ia bernostalgia dengan potongan-potongan masa lalunya.


Saat ini aku memiliki impian baru, menjemput masa depan bersama Farah dan meninggalkan masa lalu beserta Anneline di belakang.


“Ray, setelah badai ini selesai, bolehkah aku pulang?” tanya Farah.


“Iya,” Ray tersenyum.


***


Akmal sudah mengirim beberapa video dari CCTV kepada Ilham. Dalam video itu, menampilkan insiden di lantai dua, di mana saat Ray menawarkan uang kepada Farah untuk menemaninya minum cappucino. Akmal juga mengirim pesan dengan nada sedikit ancaman.


[Istrimu dalam bahaya]


Dengan begitu, Akmal yakin Ilham akan segera kembali ke Kota Milepolis.

__ADS_1


“Segeralah pulang pak, aku tak ingin membuat kebohongan lagi,” guman Akmal.


__ADS_2