Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 212


__ADS_3

Episode 212: Ambisi Tuan Wijaya


“Jadi Anda yang membuat Anneline menyusun renacana untuk sampai di kota ini? Hanya gara-gara ambisi Anda, banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban Tuan Wijaya yang terhormat!” Naresh tidak bisa menahan kekesalannya. Beruntung di kantin itu sepi, ia bisa puas memberi ceramah pada pria yang sangat ambisius mengambil milik orang lain.


Ray menyadari semua kekacauan ini berasal dari ambisinya yang tak kunjung usai. “Aku pikir dengan hadirnya Anneline dapat membuat Ilham kembali.”


“Dengarkan saya Tuan Wijaya. Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, sulit dipisahkan oleh manusia. Maka dari itu, jangan buat panasakan ambisimu. Kau tau, jika istri Ilham sedang hamil? Dia mengalami keguguran dalam kecelakaan ini.” Naresh masih mencekoki Ray dengan kenyataan yang menyakitkan, guna membuat dia tersadar apa yang telah dilakukannya.


Mata Ray melebar. “Keguguran?”


“Bisa dibilang, karena ambisimu kau membunuh kehidupan kecil dalam rahim seorang wanita. Jadi, bagaimana kau menjelaskan permohonan maafmu kepada keluarga Ilham?” Naresh balik bertanya. Sebenarnya ia sudah benar-benar muak. Entah siapa yang salah, yang jelas Anneline akan diadili di dua kota.

__ADS_1


Ray menggeleng. Tubuhnya seketika lemas. Bunga yang ia impikan hampir mati. “Aku tak tau, bukankah aku juga akan diadili?”


“Pengadilan untukmu jauh lebih ringan dibanding Anneline. Jika pihak keluarga Ilham tidak terima dengan denda, otomatis Anneline akan dijebloskan ke penjara. Selain itu, bagaimana saya harus mengatakan hal ini kepada suaminya?” Naresh membuang napas panjang. Ia benar-benar kalut sendiri. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Anneline benar-benar di penjara karena ambisi konyol dar seorang Tuan Rayhan Wijaya.


“Keluarga Ilham berbeda dengan keluarga manapun. Aku yakin, baik Ilham maupun Farah akan memaafkan Anneline.” Ray menyatakan pendapatnya untuk membantu kegusaran Naresh.


“Percaya diri sekali Anda ini, Tuan Wijaya yang terhormat. Bagaimana jika hal itu tidak menjadi kenyataan? Bagaimana wajah perusahaan dan keluarga Fernando? Kau ingin membuat kami melambung tinggi karena ucapanmu, lalu jika tidak sesuai kenyataan, semuanya akan terhempas ke bawah!” Naresh tak tahan lagi. Ia telah mengeluarkan semua kesemrawutan yang ada di kepalanya.


“Aku jauh mengenal Ilham dan Farah lebih dari yang Anda tau, Tuan Yori. Jadi, biarkan aku menjenguk Farah.” Ray masih bernegosiasi. Yang terpenting baginya adalah keadaan Farah.


“Apaka perbincangan kita sudah selesai? Tujuanku kemari untuk menjenguk Farah. Jika diperbolehkan, aku akan menjenguk teman lamaku, Anneline.” Ray bangkit dari tempat duduknya. Ia memang sedang rapuh ketika mendengar Farah keguguran. Tapi, berdebat dengan Naresh adalah membuang waktu. Ia punya cara tersendiri untuk menyelesaikan permasalahan ini. Ia memang tidak bisa membantu Anneline seratus persen. Setidaknya, Anneline tidak akan diadili di Kota Milepolis.

__ADS_1


“Belum! Anda harus membuat Anneline tidak bersalah di kota ini! Setidaknya jangan sampai dia di bui di sini.”


“Aku akan melakukan hal itu, Yori. Kamu tak perlu khawatir.”


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!


Terima kasih telah membaca kisah ini.

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2