
Pagi kembali menyambut dengan kilauan hangat sang mentari yang menyisir lembut keriuahan kota. Pagi ini adalah jam sibuk, orang memiliki pekerjaan akan sibuk merayap dari tempat tinggal menuju tempan pencarian nafkahnya. Banyak anak seusia sekolah ramai di jalan. Mereka menuju ke sekolah dengan semangat dan cita-cia yang ingin mereka gapai.
Kinanti sudah siap, ia mengantarkan Reno ke sekolah. Ayahnya juga sudah berangkat menuju kedai. Setelah mengantarkan adiknya ke sekolah, Kinanti menuju stan penjualan yang berada di dekat kawasan kampus. Ia memeriksa kembali apakah krim yang ia gunakan untuk menutup lebamnya sudah mampi menutupi atau belum. Kinanti kembali mengoleskan krim yang berwarna sama dengan kulitnya untuk menutupi luka lebam yang berada di dahi dan di sudut bibirnya.
Hari ini pelanggannya kian sangat ramai. Hawa terik dan panas membuat minuan dingin semakin laris. Kinan senang dengan hal ini, ia tetap memaksakan tubuhnya bekerja demi membayar utang. Menjelang sore, ia akan mendatangi khursus mengemudi milik Pak Adnan. Kinanti akan menjadi driver taxi online.
Hari ini Kinanti sudah membawa banyak penumpang. Sekarang ia sedang mengemudikan mobil ini untuk pemesanan selanjutnya. Kali ini Kinanti dapat pemesan dengan lokasi penjemputan di taman kota, tak jauh dari tempatnya saat ini. Maka dari itu Kinanti bisa mengambil pesanan itu.
Sesampainya di taman kota, Kinanti mencari calon penumpangnya. Ia dengan hati-hati dan melambankan laju mobilnya untuk mengitari taman kota. Terlihat seorang pria yang duduk di kursi taman, dia terlihat sedang membawa ponsel. Insting Kinanti langsung mengatakan bahawa itu adalah pemesan jasanya.
Kinanti menghentikan mobil tepat di samping pria yang memegang ponsel itu. Ia membuka sedikit jendela mobil. “Maaf Tuan, apakah ini dengan Tuan Naresh yang memesan taxi online?” Seketika mata Kinan membulat, ia sangat mengenal pria ini. Segar sekali dalam ingatkannya.
“Anda?!”
Belum habis Kinanti ternganga, pria yang bernama Naresh langsung masuk ke dalam mobildan duduk di sebelah kemudi.
“Jalan,” ucap pria itu. Terasa sekali nada bicaranya yang dingin.
Kinanti tersadar, ia menekan pedal gas untuk segera melajukan mobil ini. Dalam mobil itu, Kinanti terkadang mencuri pandang. Ia melihat betapa tenangnya pria yang bernama Naresh ini. Tidak berkata apapun, hanya diam memperhatikan jalan yang berada di depan. Kinanti mencoba mengabaikan pikiran-pikiran yang mengganggunya. Ia berfokus untuk mengemudikan mobil ini. Tujuan pria yang bernama Naresh ini adalah Rumah Sakit Medika Center, sebentar lagi sampai mereka akan sampai ke tempat itu.
Kinanti menghentikan mobilnya dengan mulus di dekat Rumah Sakit Medika Center. Namun pria itu bergeming, dia tidak segera turun dari mobil ini. Kinanti pun heran, ia memberanikan diri bertanya kepada pria yang bernama Naresh itu.
“Maaf Tuan, Anda telah sampai di tempat tujuan.”
Pria yang bernama Naresh itu hanya menoleh ke arah Kinanti. Tatapan dingin yang terkesan menyeramkan tertangkap pada kedua mata Kinanti. Naresh tahu, ia memang menyeting tempat ke tujuan Rumah sakit. Namun bukan ini tujuan sebenarnya.
“Jalan.” Naresh akhirnya membuka suara. Kinanti masih bingung dengan pria yang berada di hadapannya.
__ADS_1
“Maaf, bukankah rumah sakit ini tempat tujuannya? Anda memesan taksi dengan tujuan ke sini.”
Pria yang itu yang sebelumnya tenang, dan memandang lurus ke depan sekarang beralih memandangin Kinanti.
“Aku bilang jalan, ya jalan. Tidak perlu merisaukan tarif, akan aku bayar semuanya.”
Pria itu berbicara dengan nada memaksa yang menekan, hal ini membuat nyali Kinanti sedikit menciut. Ia melakukan apa yang diperintakan oleh pria yang bernama Naresh itu. Kinanti melajukan mobilnya, meninggalkan rumah sakit. Kinanti sedikit bergidik ngeri dengan pria yang berada di sampingnya. Pria itu hanya diam dengan penuh ketenangan. Dia hanya menatap lurus ke depan.
Dalam mobil itu sangat sunyi, bahkan Kinanti yang tadi ingin menyalakan radio di mobilnya pun di larang. Pria itu bilang bahwa dia tidak suka dengan suara yang berisik. Kinanti mematuhi permintaan dari pria itu. Hanya deru halus mesin mobil yang mengiringi perjalan Kinanti dan pria yang bernama Naresh itu.
Kinanti menghentikan mobilnya, ia berhenti di samping pohon rindang yang sepi. “Maaf Tuan Naresh, kita akan kemana?” Kinanti merasa aneh. Ia mengemudikan mobilnya tanpa tahu arah tujuannya kemana.
“Jalan saja. Jika aku bilang berhenti, maka saat itulah kamu berhenti.” Pria yang bernama Naresh itu masih saja bersuara dingin yang menekan. Saat berbicara, ia tidak melihat lawan bicaranya.
Akhirnya Kinanti menuruti permintaan pria ini. Kinanti kembali menekan pedal gasnya dan mobil pun melaju. Kinanti hanya menalar bahwa pria yang bernama Naresh ini sedang patah hati, sehingga dia meminta hal yang sangat tidak umum. Dan Kinanti merasa hari ini adalah hari kesialannya karena terjebak oleh pria yang menurutnya sedang patah hati. Mobil kembali berjalan dalam keheningan dan menyusuri jalanan tanpa arah tujuan.
Mobil itu berjalan menjelajahi setiap jengkal Kota Milepolis dan tentu dalam keheningan. Jika bisa memilih, Kinanti lebih suka mengemudi mobil dengan jarak jauh namun tujuannya jelas daripada mengemudi yang sangat hening dan tidak jelas tujuannya. Ia berhenti ketika mengisi bahan bakar.
Langit mulai menunjukkan senja keemasan. Sang surya kembali ke ujung barat, ia telah melukiskan kisah siang untuk bumi. Dan sekarang saatnya ibu bulan yang menggantikan binar di langit malam. Kinanti memutuskan untuk berhenti di masjid yang berada sangat jauh dari tujuannya semula. Pria yang bernama Naresh menatapnya dingin. Kinanti tahu maksud dari tatapan itu.
“Maaf Tuan Naresh, ini waktunya maghrib dan saya ingin salat,” ucap Kinan. Ia berharap semoga pria itu tidak marah.
“Ya.”
Hanya itu jawaban dari pria yang bernama Naresh. Kinanti turun dari mobil, Naresh hanya diam melihat perempuan itu berjalan menuju masjid. Ia hanya bisa melihat punggung Kinanti yang sudah memasuki pelataran masjid. Naresh mengembuskan napas panjangnya.
“Dia lulus kualifikasi, setidaknya dia layak untuk menemani Sang Ratu.”
__ADS_1
Naresh menuliskan kegiatannya untuk hari ini pada sebuah buku kecil yang berada di balik jasnya. Targetnya hanya Kinanti untuk sementara waktu ini. Naresh telah berkelana cukup jauh untuk menemukan manusia pilihan yang akan menemani Sang Ratu. Semua ini karena titah dari orang yang ia anggap Sang Raja.
Naresh mengembuskan napas beratnya. Ia memposisikan kursi yang ia tempati senyaman mungkin, ia ingin merebahkan tubuhnya sembari menunggu Kinanti kembali dari rumah ibadahnya. Naresh mulai melemaskan tubuhnya, ia menutup matanya walaupun tidak sepenuhnya untuk tidur. Wajah Kinanti selalu terbayang dalam gelapnya kelopak mata.
Sebenarnya gadis itu cantik, hanya saja ia kurang merawat dirinya. Semoga Sang Ratu suka dengan orang yang akan aku bawa ini.
__________
jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁
jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
___________
Novel rekomendasi untuk menunggu Perenpuan Pilihanku update :
Dijodohkan - Author Samar Jenny
Lelaki Impian - Author Andini
Pujaku Mayang - Author Aziz beck
__ADS_1
Riendra - Author Bakasai
Santuy : antara Gilan dan Anindya - Author Muhammad Ridho