
Farah sudah bangun lebih pagi dari biasanya. Pukul tiga pagi. Dia pergi ke dapur memasak untuk sarapan dan makan siang. Ia berpesan pada Bu Tin agar 30 menit sebelum jam akan siang, bekal untuk Ilham sudah diantarkan ke kedai memakai jasa ojek online. Bu Tin menyanggupi permintaan dari Farah.
Farah harus bergegas karena ia akan mengantikan pekerjaan Rahma di kedai. Akmal sudah memberi daftar pekerjaan yang akan dikerjakan Farah beserta aturan-aturan sistem kerja yang harus ia patuhi.
Jam 05.00 pagi Farah sudah bersiap semuanya. Ia tidak boleh terlambat untuk hari pertamanya bekerja. Farah sudah menulis sebuah pesan di kertas lalu ditempelkan ke pintu kamar Ilham, bahwa ia pamit untuk berangkat kedainya. Farah berjalan menuju halte bus yang berada di dekat gapura selamat datang perumahan ini.
Pukul 05.45 Farah sudah berada di kedai Ilham. Daftar pertama yang harus ia kerjakan yaitu membersihkan lantai empat. Farah segera bergegas. Kedai ini buka mulai pukul 07.00 sampai 23.00. Farah membersihkan seluruh lantai empat beserta toilet- toiletnya. Hari itu Farah hanya membersihkan apa yang terlihat kotor apapun di lantai empat.
Pukul 07.00 kedai dibuka, tak banyak yang akan naik ke atas memilih lantai ini. Kebanyakan pengunjung hanya memesan lalu pergi tidak menghabiskanya di kedai. Siang hari pengunjung membludak. Seluruh meja di lantai empat penuh. Farah juga membantu pelayan mengantarkan pesanannya.
Pukul 11.30 sesuai permintaan Farah, seorang driver ojek online membawakan dua kotak makan siang. Farah langsung membawa kotak makan siang itu menuju ruanganya Ilham.
Farah mengetuk pintu ruangan Ilham. Ilham tidak menjawab. Dia memalingkan muka saat tahu Farah yang datang ke ruanganya.
“Maaf Mas, mengganggu sebentar. Ini aku membawa makan siang untuk Mas,” ujar Farah.
Ilham tidak memjawab. Farah menaruh kotak makan itu di dekat meja. Lalu Farah pergi dari ruangan itu dan kembali melanjutkan pekerjaanya.
Farah sibuk dengan pekerjaan barunya dan Ilham sibuk dengan pekerjaanya sendiri. Menjelang malam, Ilham sudah pulang terlebih dahulu ke rumah. Tinggal satu jam lagi sisa jam kerja Farah. Ia masih melayani pesanan para pelanggan di kedai itu.
Pukul sembilan malam. Akhirnya jam kerja Farah habis. Sebelum pulang Farah mengecek ruangan Ilham. Alangkah terkejutnya Farah saat melihat kotak makan siang Ilham masih di meja sana tidak tersentuh dan tidak berubah posisi. Juga berat kotak makan siang Ilham tidak berkurang. Jadi Ilham tidak makan masakanya. Dengan kecewa Farah membawa kota makan itu pulang.
Farah sampai di rumah setengah jam kemudian. Bu Tin yang masih menunggunya. Bu Tin bilang bahwa tuan Ilham sudah makan dan sudah tertidur di kamarnya. Farah mengangguk. Ia sangat lelah sekali sekaligus kecewa Ilham tidak memakan masakan buatan Farah. Sekarang ia sudah di kamarnya sendiri. Lalu ia mandi sebelum tidur.
Pukul sepuluh malam Farah masih belajar dengan terkantuk-kantuk. Akhirnya ia tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
***
Keesokan paginya sama Farah bangun untuk memasak makan siang untuk Ilham. Nanti sebelum jam makan siang, bekal makan itu sudah harus datang ke kedai milik Ilham. makanan di kotak makan itu akan dipanaskan lagi oleh bu Tin.
Sama sepeti pertama Farah bekerja, kali ini yang harus ia kerjakan hanya mencuci peralatan makan yang sudah digunakan. Hanya itu. Sama seperti biasa sebelum jam makan siang, Farah menuju lantai nomor lima untuk mengantarkan makan siang untuk Ilham.
Seperti biasa Ilham masih sibuk dengan pekerjaanya. Terkadang ada satu waktu Ilham keluar dari kedai untuk membicarakan bisnis dengan rekannya. Atau menyelesaikan lahan yang akan dibuat kedai baru.
Seperti biasa sebelum pulang Farah mengambil kotak makan siang yang pasti Ilham tinggalkan di ruangannya. Masih dengan rasa kecewa yang sama, Farah merasa kotak makan ini masih penuh, tidak berkurang sedikit pun beratnya. Farah menahan tangisnya. Ia segera keluar dari kedai itu lewat dapur. Farah ingin mengeluarkan air matanya. Ia sekarang menangis di kursi panjang di samping kedai Ilham. Farah menangis sesegukan sambil memeluk bekal kotak makan siang Ilham yang masih utuh. Tiba – tiba ada seseorang yang memperhatikan Farah.
“Loh kenapa Mbak nangis?” tanya seorang lelaki paruh baya berseragam layaknya satpam.
Farah tidak langsung menjawab, Ia mengelap air matanya. Farah membaca nama yang ada di seragam satpanya.
“Saya cuma kelilipan kena debu Pak Budi,” jawab Farah.
“Iya Pak, saya Farah karyawati baru mengantikan mbak Rahma.”
“Oh,” jawab Pak Budi, “Mbak Farah mau makan disini?” tanya Pak Budi yang melihat Farah membawa bekal kotak makan.
Farah menggeleng. “Saya mau membuang makanan ini Pak, pemiliknya tidak menyukai masakannya,” jawab Farah sopan.
“Wah mubazir, boleh saya bawa pulang mbak? Anak saya pasti suka masakan ini.”
Farah mengangguk, menyerahkan bekal kotak makan itu kepada Pak Budi. Farah pamit permisi untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
***
Ilham sudah membersihkan diri untuk bergegas tidur. Hari ini Ilham tidak di kedai mulai siang tadi. Pulang pun langsung ke rumahnya. Ilham ingin tahu perkembangan Farah di hari ini. Ilham segera mengambil ponselnya dan menelpon Akmal.
“Hallo, Akmal,” Ilham membuka percakapan.
“Ada apa Pak Ilham? ada yang bisa saya kerjakan?” tanya Akmal diseberang sana.
“Tidak. Aku hanya ingin bertanya, bagaimana Farah di kedai tadi?”
“Mbak Farah mengerjakan pekerjaan seperti biasa, dia berada di bagian pencuci piring. Dan sekarang sudah pulang. Tapi sebelum pulang mbak Farah sempat berbicang di taman samping kedai dengan pak Budi,” jawab Akmal menjelaskan.
“Apa yang mereka perbincangkan?”
“Saya tidak mengetahui pasti, karena saya hanya melihat mbak Farah dan pak Budi dari jendela lantai dua kedai. Yang saya tahu mbak Farah menyerahkan sesuatu seperti kotak makan ke pak Budi.”
Pasti yang dimaksud Akmal adalah bekal makan siang yang dibawa Farah tadi.
“Oh begitu, ya sudah terima kasih atas informasinya,” Ilham menutup telponnya. Mengakhiri percakapan.
Ilham memang sengaja tidak menyentuh makanan yang dibawa oleh Farah. Ia masih marah dengan Farah yang keras kepala sekali mengantikan pekerjaan Rahma yang bahkan Farah tak tahu jika Rahma perempuan yang menjijikan yang bekerja di tempat prostitusi.
***
Seperti biasa Farah pulang sekitar pukul sepuluh malam. Ia merasa lelah seharian ini. Ia ingin langsung merebahkan diri di kamarnya. Tapi teringat Farah harus membuat janji dengan Rahma kalau dua hari lagi mereka harus datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya Rahma.
__ADS_1
Farah sebelumnya sudah membuat janji dengan salah satu dokter spesialis kandungan yang berada di Rumah Sakit Center Medika. Rahma membutuhkan pemeriksaan ini. Dan besok Farah juga berencana mengambil satu hari libunya, dan ia memerlukan izin dari Akmal.
Setelah menyusun semua agenda, ia beranjak tidur. Badan Farah terasa sakit semua. Ia sekarang tahu bagaimana lelah yang dirasakan oleh Rahma. Tak lupa sebelum tidur Farah berdoa agar Allah membukakan pintu hati Ilham agar mau menerima Farah sebagi istri sepenuhnya. Bukan istri di atas kertas. Semoga kesedihan dan kemalangan ini berkurang sedikit saja. Tidak muluk-muluk sedikit saja.