
Sudah dua hari ini Ilham tidak pulang ke rumah bunda. Farah lebih sering melamun di kamarnya, memandang langit. Raganya ada di rumah ini tapi tidak dengan pikiranya. Bunda tahu akan hal ini.
Ini membuat Bunda bersedih. Mengapa Ilham mengabaikan telpon dan pesan singkat dari Farah?
Akhirnya Bunda turun tangan untuk membantu kedua anaknya.Bunda menelpon Ilham, dengan nada sedikit meninggi. Bunda menceritakan semuanya. Dan diakhir Bunda meminta sampai memaksa Ilham untuk pulang ke rumah bunda segera.
Seseorang yang ditunggu itu datang beberapa jam setelah ditelpon Bunda. Ilham datang ke rumah dengan raut muka marah. Kenapa bunda lebih mementingkan Farah daripada karirnya. Ilham kesal, seharusnya ia tidak menerima perjodohan itu. Bunda bertengkar hebat dengan Ilham, sampai-sampai suara mereka terdengar hingga ke kamar Farah.
Farah langsung keluar dari kamarnya dan melihat bunda sedang memarahi Ilham habis-habisan. Ilham sudah diam, ia tidak mau terlalu lepas kendali. Biar bagaimanapun Ilham yang bersalah.
“Bunda tidak pernah tahu bagaimana repotnya aku jika harus berangkat bekerja dari rumah Bunda, selama dua hari ini aku pulang ke rumahku sendiri tidak berbuat macam-macam! Harusnya Bunda paham tentang ini!” tegas Ilham.
“Jika kamu tinggal di rumahmu, mengapa tidak menjemput Farah!” balas Bunda.
“Apa Bunda lupa! Bukankah Bunda menginginkan teman saat aku pergi bekerja? Untuk apa aku membawa perempuan itu.”
Farah hanya melihat perdebatan antara Bunda dan Ilham dari ke jauhan. Farah menangis ketika Ilham berkata sedemikian rupa. Mengapa emosi Ilham bisa meledak-ledak? Farah masih menangis, sakit hatinya mendengar perkataan Ilham.
“Dia istrimu Ilham! Dia bagian dari tanggung jawabmu.”
“Sekarang apa mau Bunda?”
“Jika kamu memilih tinggal di rumahmu, tolong bawa Farah bersamamu Ilham,” Bunda terisak.
Bunda menuruh Yu Minem untuk membantu Farah untuk mengemasi pakaian dan barang-barang Farah ke dalam koper. Sekarang Farah akan tinggal satu atap dengan Ilham.
Semuanya barang -barang sudah di kemasi, diletakkan di dalam mobil Ilham. sebenarnya bunda berat hati untuk melepaskan Farah, tapi dia akan hidup bersama Ilham. Mungkin itu solusi untuk masalah saat ini. Lagipula bunda masih bisa mengunjungi mereka di waktu lain.
Untuk apa perempuan ini harus tinggal bersamaku!
Ilham mendengus kesal, memaki dalam hati.
Mobil Ilham telah meninggalkan halaman depan rumah Bunda. Sekarang ia satu mobil dengan Farah. Perjalanan itu lebih sering menciptakan keheningan. Farah hanya duduk di kursi penumpang depan di samping kursi kemudi Ilham. Farah hanya menatap kosong pemandangan yang silih berganti di jalan itu dari balik kaca jendela mobil. Ilham masih kesal, memilih diam saat mengemudi.
Lumanyan jauh jarak antara rumah Bunda dengan rumah Ilham. bisa di katakan lintas kota. Rumah Ilham berada di kota besar. Farah masih sibuk bersama pikirannya. Bagaimana jika dia tinggal bersama di rumah Ilham, apakah perlakuannya sama seperti saat di rumah Bunda. Entahlah. Ini lebih sering jadi misteri yang unik untuk diketahui.
__ADS_1
Ilham belok di gang perumahan, ternyata rumah Ilham tidak begitu jauh dari jalan raya sekitar 200 meter. Rumah Ilham tampak mewah, walaupun tidak seluas rumah Bunda. Masuk ke perkarangan depan rumah banyak bunga-bunga yang tertata rapi. Farah di persilahkan masuk ke dalam.
“Selamat siang Tuan?” kata perempuan paruh baya yang membuka pintu rumah Ilham.
Ilham mengangguk. “Tolong Bu Tin, siapkan satu kamar untuk dia.” Ilham menunjuk ke arah Farah.
Farah tersenyum kepada Bu Tin.
“Maaf Tuan, dia siapa?” Bu Tin bertanya.
“Biar dia saja yang menjelasakan!” tegas Ilham.
Bu Tin mengangguk. Ilham mengangkat koper dan beberapa dus yang berisi barang – barang milik Farah. Bu Tin mempersiapkan kamar yang akan di tempati Farah.
Setelah semua barang-barang Farah diturunkan dari mobil Ilham. Dia langsung pergi lagi, mengendarai mobil itu tanpa berpamitan dengan Farah.
Farah bisa mengetahui semua, Ilham belum menerima Farah. Mungkin belum sekarang, semoga pasti lain hari Ilham mau menerima Farah. Itu keyakinan yang Farah pegang. Ia percaya bahwa hari esok apapun bisa terjadi.
“Maaf, Nona ...?” kata Bu Tin membuyarkan lamunan Farah.
“Nama saya Farah Bu,” jawab Farah sambil tersenyum ramah.
“Saya istrinya mas Ilham Bu Tin.”
Bu Tin terperanjat, masih berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan Farah.
“Iya, saya memang baru menikah dengan mas Ilham beberapa hari yang lalu, memang pernikahan saya dengan mas Ilham di gelar secara tertutup.” Farah menjelaskan.
Farah tahu ekspresi yang ditunjukan bu Tin yang mungkin tidak percaya atau mungkin perempuan yang saat ini berbincang dengannya adalah pengarang cerita yang hebat. Apapun itu, yang jelas memang yang terjadi sebenarnya adalah Farah dan Ilham resmi menjadi pasangan suami istri.
“Baik Nona, kamar Anda sudah siap,” kata Bu Tin.
Farah beranjak dari tempatnya, membawa dus yang berisi barang-barangnya miliknya. Bu Tin juga membantu membawa koper Farah ke kamar itu. Mereka menata isi kamar itu sesuai keinginan Farah.
“Bu Tin, biasanya mas Ilham pulang kerja jam berapa?” tanya Farah disela-sela menata barang ini di taruh di meja itu.
__ADS_1
“Tuan biasanya pulang sekitar jam delapan malam, tapi kalau ada pekerjaan bisa sampai larut malam Nona. Seperti kemarin, tuan pulang jam dua pagi. Sepertinya malam ini tuan pulang tepat waktu. Karena pekerjaan dengan tender-tender itu sudah selesai,” jawab Bu Tin menjelaskan.
Rupanya bu Tin mengetahui tentang mas Ilham lebih dari istrinya.
***
Sekarang waktunya memasak makan malam untuk Ilham. Bu Tin kaget bahwa Farah menawarkan diri untuk membantu. Bu Tin terbiasa memasak makanan untuk tuannya sendirian tanpa bantuan dari orang lain.
Farah senang hati membantu bu Tin memasak. Semoga masakannya kali ini bisa menggugah selera Ilham.
Setelah selesai memasak, Farah menyiapkan semua sebagus mungkin di meja makan. Menata piring-piring, sendok, garpu dan serbet. Farah akhirnya bersiap diri, mandi dan memakai baju terbaiknya, demi menyambut sang suami.
Farah menunggunya di sofa sambil menonton televisi di ruang tengah. Tepat seperti kata bu Tin, Ilham pulang tepat waktu. Pukul delapan malam.
Begitu Ilham masuk rumahnya, Farah menawarkan diri untuk membawa tas Ilham yang berisi dokumen itu.
“Assalamu’alaikuum,” salam Ilham saat ia masuk ke dalam rumahnya.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,” Farah menjawab salam dari Ilham. “Aku bawakan tasnya mas.”
“Tak perlu! Aku bisa membawanya sendiri!” tegas Ilham.
“Kalau begitu, mas mau makan dulu. Aku sudah siapkan makanan kesukaanmu di meja makan. Kita makan dulu.”
“Aku tidak lapar! Kamu enggak perlu melakukan hal seperti ini!”
“Mengapa? Mengapa Mas? Aku istrimu, tugasku melayani kamu Mas.”
“Aku tak butuh itu!”
Ilham berlalu menuju kamarnya. Farah mengikuti Ilham di belakang dengan terisak-isak.
“Dan satu lagi! Jangan pernah berharap aku akan sekamar denganmu seperti suami istri! Aku dan kamu tidur di kamar berbeda!”
“Kenapa Mas, melakukan hal ini? Apa aku membuat kesalahan, sehingga Mas memperlakukan aku seperti ini?!” Farah sudah tidak tahan untuk menangis. Air matanya mengalir begitu saja.
__ADS_1
“Iya, kesalahanmu. Kenapa kamu membuatku semakin membencimu!”
Ilham masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan kasar.