Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 160


__ADS_3

Episode 160: Hari Pembebasan


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar sana, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!🤣🤣


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa.


Selamat Berimajinasi


____________


Sinar matahari masuk ke dalam kamar yang luasnya tidak terlalu lebar. Sirena terbangun dengan senyuman karena beberapa hari ini tubuhnya bisa beristirahat tanpa harus dijajakan. Ia sengaja memakai tanktop dan celana pendek agar luka-luka yang tercetak di tubuhnya bisa merasakan kelegaan.

__ADS_1


“Ini hari terakhir ya ... apakah nanti sepasang kekasih itu akan datang membeliku?” Sirena bertanya pada dirinya sendiri. Ia sangat berharap untuk segera pergi dari tempat terkutuk ini. Sudah tiga tahun ia berkerja di tempat ini. Tanpa identitas atau pengakukan hukum, dirinya bukan siapa-siapa. Jangan kira di Kota Zen tempat seperti ini dilarang, pihak berwenang pun kadang tebang pilih terhadap keadilan.


“Ternyata tiga tahun ini aku telah menjadi primadona di kawasan ini.” Ia tertawa. Entah ini pujian untuk dirinya atau pernyataan yang malang.


Sirena berasal dari tempat yang sangat ajuh. Tepatnya, 200 kilometer dari Kota Zen. Ia masih ingat bagaimanan keluarga ayahnya menjualnya ke para germo. “Aku rindu Daddy dan aku rindu kebebasan.”


Suara ketukan pintu membuyarkan kegiatan Sirena untuk menjemur diri. Ia mengenakan kemejanya agar luka-luka itu tidak terlihat. Lalu ia berjalan untuk membuka pintu. Terlihat seorang perempuan gemuk sudah datang pagi ini.


Sirena mengembuskan napas kesalnya. Madam datang, itu berarti akan akan tamu yang memakai jasanya. Rasanya sedikit tak rela, padahal baru beberapa hari ia beristirahat dan kini harus berkerja kembali.


Sirena masih berusaha mencerna kata-kata dari Madam. “Dibebaskan?” ucapnya mengulangi salah satu kata dari Madam.


“Tuan Yori dan Nona Kinanti bersedia menampungmu. Mereka sudah menunggu di rumahku, Sirena.” Madam tersenyum seperti ada yang dipaksakan.


Seperti angin segar yang menerpa, harapan itu merekah indah. Sirena merasa sedang dirangkul kebahagiaan. Hari yang telah ia tunggu akhirnya tiba. “Apakah aku bermimpi? Apakah Tuan Naresh dan Nona Kinanti sudah datang sepagi ini?” tanyanya riang.

__ADS_1


Madam bergeming dengan lirikan mata yang sulit diartikan. Ia pergi dari rumah kecil itu. Sirena terlampau senang. Ia sudah membayangkan hidup bebas seperti beberapa hari ini. Ia sangat bersemangat untuk mengemasi barang-barangnya. Sirena yakin ini adalah hari pembebasannya.


****


Di Kota Milepolis


Sore itu Ilham dengan wajah tersenyum sambil membawa buah kesukaan istrinya. Sekeranjang kecil berisi buah stroberi. Ia yakin istrinya akan bahagia jika dibawakan hal kecil ini. Bahkan Ilham sengaja tidak memberitahu kedatangannya dari Kota Numa. Ia ingin memberikan kejutan untuk Farah.


Menurut Bu Tin, Farah sedang di balai kota untuk membahas event yang akan dilaksanakan lima hari lagi. Dalam seminggu ini jadwal istrinya sangat padat. Tak hanya mengurus event, dua hari lagi dia harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.


“Sudah lama perginya Farah, Bu Tin?” tanya Ilham sambil memakai celemek.


“Sekitar dua jam yang lalu, Tuan,” jawab Bu Tin. “Tuan ingin masak?” Bu Tin melihat Ilham yang mengambil bahan-bahan yang ada di tempat penyimpanan.


“Iya, nanti Bu Tin harus bantu saya ya.” Ilham tersenyum. Ia memang selalu totalitas dalam memabut kejutan. Hari ini ia akan memasak makanan kesukaan Farah, yaitu bistik ayam dengan saus barbeque.

__ADS_1


Jika kalian berkenan, mampir ke ceritaku yang berjudul THE LAST ROMEO. Novel itu menceritakan perjalanan Devan yang ingin melindungi sang istri yang bernama Ruellia dengan perantara Faresta, pemuda miskin yang tak pernah merasakan gaya hidup mewah. Novel ini tak hanya menceritakan kisah romansa tapi juga misteri di balik kematian Devan.


__ADS_2