
Episode 157: Mengapa aku jadi egois seperti ini?
Selamat Berimajinasi
____________
Kinanti baru saja pulang. Pikiranya masih tentang kepecayaan yang dibicarakan Sirena. Dalam hati kecilnya, ia ingin menolong perempuan itu, tapi ada rasa yang mengusiknya. Ia takut jika Sirena hanya dibayar untuk mengatakan yang baik-baik saja.
“Sudah pulang?” Narest tersenyum melihat kekasihnya sudah kembali ke rumah. Sedari tadi ia khawatir tentang kabar kekasihnya yang menghabiskan waktu bersama teman baru.
“Iya, Kak.” Kinanti membalas dengan senyum yang dipaksakan. Ia ingin bergegas mandi dan tidur.
Naresh yang mengetahui Kinanti akan segera pergi, ia menahannya. “Mau ke mana?” Ia menarik tangan Kinanti untuk ikut duduk dengannya di sofa. Terlihat di meja ada semangkuk buah yang sudah dipotong kecil-kecil.
“Kak, aku mau mandi. Tubuhku terasa lengket,” Kinanti menggerutu. Ia merasa tak nyaman dengan tubuhnya yang kotor karena terpapar debu di luar. Ia terpaksa harus duduk di sebelah Naresh.
“Sekarang buka mulutmu. Aaaaa ....” Naresh membuka mulutnya untuk mencontohkan Kinanti.
“Tapi ....” Kinanti akhirnya menurut, ia membuka mulutnya. Sebuah potongan semangka yang berbentuk dadu disuapkan ke mulutnya. Rasa segar seketika muncur karena kandungan air yang terdapat pada potongan semangka itu.
“Lagi, Sayang?” Naresh menawarkan.
Kinanti menggeleng. “Sudah cukup, Kak. Aku mau ....”
“Eits! Temani aku sebentar. Seharian ini kamu pergi bersama Sirena dan aku sudah menabung rindu selama seharian penuh ini. Apakah kamu tidak kasihan denganku?” Naresh sengaja membentuk bibinya melengkung ke atas. Tak hanya itu, wajahnya pun dibuat semelas mungkin.
__ADS_1
Kinati memutar bola matanya dengan malas. Ia yakin bayi besar ini sedang ingin dimanja. “Aku ingin mandi. Tubuhku sangat tidak sedap baunya!” protesnya.
“Tapi aku rindu!” protes Naresh. Ia tak mau kalah dengan Kinanti. Melihat dia pulang denagn wajah muram menandakan dirinya masih marah. “Bagaimana keputusanmu? Apakah kau bersedia menerima Sirena untuk menjadi maid-mu? Jika iya, akan aku jemput besok.”
Demi mendengar nama Sirena yang keluar dari mulu Naresh membuat percikan api itu menyala lagi. “Mengapa Kakak bernafsu sekali mengajak Sirena untuk datang ke rumah ini?”
“Maaf? kau bilang aku bernafsu? Untuk apa? Aku hanya bertanya, Kinan!” Naresh tak terima dengan ucapan Kinanti. Ia merasa gadisnya belum juga percaya setelah semua apa yang dilakukannya.
“Sirena juga memohon agar segera menjadi maid-ku! Apakah kalian bermain di belakangku? Katakan! Katakan, Kak?!” Kinanti mengerluarkan amarahnya. Ia merasa hal ini perlu adanya kejelasan yang tidak abu-abu.
“Aku dengannya tidak ada hubungan apapun! Aku memintanya menemanimu untuk menjawab semua pertanyaan yang ingin kau tanyakan tentang foto itu!”
Kinanti bangkit dari duduknya. “Lalu mengapa kau ingin sekali Sirena menjadi maid-ku? Oh! Aku tahu, pasti kalian memiliki waktu lebih lama ‘kan?”
Kinanti melepaskan tangan Naresh. Ia pergi tanpa menjawab pertanyaan darinya. “Aku ingin istirahat.” Kinanti berlalu menuju kamar miliknya.
Naresh yang meredam kemarahan menyusulnya ke kamar dan langsung mendorong tubuh gadis itu ke ranjang. Kinanti tak bisa melawan, pergerakannya dikunci. Naresh memandang dengan mata yang menyala ganas. Ia tak peduli dengan batas rasa sabarnya.
“Kamu mau apa, Kak?” pekik Kinanti. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Naresh.
Naresh tidak menjawab. Wajahnya terlihat garang dan masih mengunci Kinanti. Ia sengaja tak ingin membuang banyak energi agar tidak kelelahan.
“Kak lepaskan aku!” Kinanti mulai merasakan kesakitan. Cengkeraman Naresh semakin membuatnya mengeluarkan energi yang cukup banyak hingga napasnya terengah-engah. “Apa yang kamu inginkan dariku?” Ia masih bisa berteriak.
“Aku ingin bertanya padamu! Mengapa kau menuduhku seperti itu? Jawab, Kinan!” bentak Naresh.
__ADS_1
Kinanti menatap mata Naresh yang membulat. Terlihat sekali otot wajahnya yang terlihat dan memerah. Ia tahu bahwa pria yang kini di atas tubuhnya sedang marah. “Karena Kak pernah tidur dengannya! Sirena bilang, Kakak meminum air yang dicampurkan obat bius. Bisa saja kalian sudah berbuat seperti itu.” Kinanti memalingkan wajahnya. Ia tak sanggup menatap mata Naresh yang sangat mencekam.
“Apakah kau ingin tahu apa yang aku lakukan? AKU DIJEBAK, KINAN! Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelah itu! Mengapa kau bisa berpikiran seperti itu?” Naresh tak kalah marah. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana membuktikan kebenaran kepada Kinanti.
“Sebenarnya apa maumu? Mengapa kau tidak punya rasa percaya terhadap diriku! Apakah kau lupa, bukankah kita sepasang kekasih? Mengapa kepercayaaan tidak tumbuh pada hatimu, kenapa! Aku harus membuktikan dengan cara apa lagi?” Naresh melayangkan tangannya memukul kasur. Mungkin jika ia cukup tega, pukulan itu pasti mengenai wajah Kinanti.
Gadis itu menantap nanar pria yang masih menindihnya itu. “Bisakah beri aku waktu untuk memikirkan hal ini?”
Seketika Naresh melepaskan cengkeramannya. Hatinya sudah terlampau sakit dan marah. Ia tidak peduli lagi dengan Kinanti. Ia sudah kehilangan arah dan memutuskan untuk pergi dari kamar itu. Naresh juga membanting pintu kamar Kinanti sebagat tanda kekecewaanya yang sangat mendalam.
Punggung Naresh sudah tidak terlihat lagi. Kinanti merasakan ada kengerian sekaligus kesedihan di mata Naresh. Ia lupa akan janji-janji yang pernah diucapkan. Tiba-tiba air mata keluar tapa ada yang memberi komando.
Mengapa aku jadi egois seperti ini?
________________________________
Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....
Jika kalian berkenan, mampir ke ceritaku yang berjudul THE LAST ROMEO. Novel itu menceritakan perjalanan Devan yang ingin melindungi sang istri yang bernama Ruellia dengan perantara Faresta, pemuda miskin yang tak pernah merasakan gaya hidup mewah. Novel ini tak hanya menceritakan kisah romansa tapi juga misteri di balik kematian Devan.
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa.
__ADS_1