Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 181


__ADS_3

Episode 181: Percakapan Malam Hari


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Anneline berdiri dan langsung duduk di pangkuan Ray. Jarinya menyentuh rahang pria itu. “Bisakah kita langsung lakukan malam ini?”


Ray sedikit risih dengan godaan semacam ini. Bahkan tanpa rasa malu, Anneline mendekatkan tubuhnya agar Ray makin bergidik. “Apa yang ingin kau lakukan?”


Anneline mendekatkan wajahnya ke telinga Ray. “Mungkin satu sesi bercinta untuk malam ini.” Ia mengigit cuping telinga Ray dan mengangsurkan bibirnya sampai ke leher. Ia ingin menandai di sana.


Ray mendorong tubuh Anneline. Ia menolak tawaran itu. “Maaf, aku tidak tidur dengan istri orang.” Ia mengusap-usap baju yang dikenakan.


“Munafik!” Anneline akhirnya mengalah. Ia duduk di samping Ray seperti semula. Mungkin jika kita tidak terlibat dalam kerjasama, kau sudah terbunuh olehku!

__ADS_1


“Hei, dengar ya! Sudah kubilang kalau aku sudah tidak bermain seperti itu. Pantang bagiku tidur dengan istri teman sendiri! Lebih baik aku cari perempuan dan menikahinya, ya setidanya melakukan hal itu akan jadi sah!” Ray tersenyum.


Anneline yang mendengar hal itu langsung tertawa. Menurutnya itu adalah hal yang lucu. “Sejak kapan Rayhan ini berpikiran untuk melakukan hal yang sah, terutama pada sebuah hubungan? Kau membuat lelucon yang gila!”


Ray hanya terdiam. Ia tidak berselera debat dengan perempuan itu. “Apakah di penginapan kamu sendirian? Tumben sekali, istri pemilik perusahaan bisa keluar sendirian tanpa penjagaan.” Ray mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku sudah mendapat izin dari pria cacat dan kakaknya itu. Tenanglah, mereka tidak akan membunuhmu. Apakah kau punya wine? Aku haus.” Anneline menujuk lehernya agar menandakan jika ia tidak minum selama berhari-hari.


Ray memutar bola matanya dengan malas. Ia meminta pada pelayan untuk menyuguhkan semua keinginan tamunya yang sedikit kurang beretika.


“Kamu jahat sekali memanggil suamimu dengan panggilan pria cacat. Bukankah Fernando sedang menjalani semacam pemasangan kaki robot di luar negeri. Hati-hati jika dia sudah bisa berjalan, mungkin kamu akan dibuang, dan digantikan dengan istri muda yang sangat cantik. Pasti banyak perempuan yang mengantri untuk melengserkan posisimu, Nyonya Besar.” Sekarang Ray bisa sedikit satire kepada Anneline.


Anneline menenggak minumannya dengan perlahan. “Dibuang? Selama enam tahun ini aku tak pernah merasakan kehadirannya. Jangan kau anggap pernikahanku baik-baik saja dengan bergelimang harta, justru aku seperti di penjara! Dia tidak memperbolehkanku keluar tanpa penjagaan atau pun keluar dari kota yang super sibuk itu!”


“Wah, suami yang sangat perhatian dan overprotektif rupanya. Aku kira dulu kamu bodoh mau menikahi Fernando dan tidak memilih Yori, ternyata nasibmu sangat mengenaskan.” Ray tertawa, ia tak pernah sebahagia ini menyindir orang yang menolak cintanya dulu. Anne, anggap ini sebagai karma-mu.


“Oh ya, aku dengar perusahaan Fernando mendapat kasus. Dua mayat, laki-laki dan perempuan ditemukan di pabrik. Wah berita yang sangat mengejutkan!” Ray menceritkan denann nada berapi-api.


Anneline menutup mulut Ray dan tersenyum. “Jangan menceritakan berita buruk padaku, ya ....”


“Kenapa?” Ray menyingkir tangan Anneline.


“Itu menakutkan.” Anneline tertunduk seperti ada beban yang ia pikul.


“Oke, kita akan membahas hal lain. Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari?” Ray menaikan salah satu alisnya.

__ADS_1


“Bagaimana cara memisahkan Ilham dan istrinya? Bukanah itu tujuan kita saat ini? sebenarnya secantik apa dia?” Anneline menatap datar gelas yang berisi wine. Ia memainkan gelas itu dengan perlahan.


“Cantik seperti bunga, bahkan lebih cantik melebihi dirimu.” Ray tersenyum membayangkan wajah Farah yang cantik di bawah sinar rembulan.


“Sayangnya kau kalah dua kali ini Ray. Pesonamu masih tak mampu untuk mengalahkan Ilham.” Anneline tertawa, ia tahu ini kegagalan Ray yang kedua. Dulu dia sangat mengejar hatinya dan Anneline tak menerima hal itu.


Ray menatap ke arah Anneline. “Sebaikanya segera jalankan permainan gila ini. Kamu akan mendapatkan Ilham dan aku akan mendapatkan Farah.”


“Ah, seleramu tetap saja rendah! Kau tetap saja suka dengan bekas orang lain.” Anneline menyunggingkan senyumnya.


Kening Ray terlipat, ia tidak suka ketika Anneline mengatai Farah adalah bekas. “Bukankah Ilham juga akan jadi lelaki bekas? Seleramu tak jauh dariku, Nyonya Besar.”


“Hei! Ilham bukan barang yang bisa kau sebut bekas! Dia telah menjadi milikku sejak lama, Farah aja yang masuk tanpa permisi!”


Ray selalu berdebat dengan Anneline ketika mengobrol bersama. Ia tahu sejak pertama mengenal perempuan ini. Hal itu yang membuatnya jatuh cinta dan akhirnya rela berbuat hal gila yang sangat tidak wajar.


“Sudah! Aku tak mau berdebat lagi denganmu. Sebaiknya kau bilang apa renacana kita.” Anneline menenggak minumannya lagi.


“Pisahkan mereka. Kita hanya memiliki beberapa hari,” Ray menjawab.


“Aku bisa memperpanjang waktu. Suamiku tak akan pulang beberapa bulan kedepan. Kak Naresh juga tak akan datang dalam waktu dekat.” Anneline tersenyum licik.


“Wah sepertinya ada rencana yang telah kamu siapkan, Anne.”


“Semua keinginan harus terencana agar mendapat hasil yang baik. Jika kau mau, Farah bisa saja menghilang dari bumi ini.”

__ADS_1


“Jangan sakiti dia. Pisahkan tanpa menyakiti, oke!”


Anneline hanya mengangguk pelan. Maaf Ray, bagiku perempuan yang bernama Farah itu tidak penting. Jika Ilham lebih memilihnya, akan aku pastikan tubuhnya sudah tidak bernyawa lagi.


__ADS_2