Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 75


__ADS_3

“Besok aku harus ke kedai kedua-ku di Numa, ada pekerjaan yang belum selesai,” ucap Ilham sambil menyisir rambut Farah yang bergelombang dan panjang.


Farah menoleh ke arah Ilham, sehingga gerakan tangan Ilham terhenti untuk menyisir rambut Farah. “Kenapa harus besok? Kenapa tidak kak Akmal saja yang ke Kota Numa?” wajah Farah meraut sedih.


Ilham meletakkan sisir yang ia pegang tadi. Ia tersenyum pada Farah yang masih merengut. Ilham menjangkau pipi Farah dengan kedua tangannya, membetulkan anak rambut yang masih berantakan.


“Tidak semua pekerjaan begitu saja diberikan kepada Akmal. Dia harus menjaga kedai di Milepolis.” Ilham mengusap lembut pipi Farah, ia memberikan pengertian yang begitu sabar.


Farah menggeleng, ia membuat ekspresi wajah merengut tanda tidak ingin ditinggal lagi. Ilham tersenyum, ia mengelus rambut Farah dan mendekapnya dengan sangat hangat.


Farah terkejut ketika suaminya langsung lingkarkan tangannya. Seketika telinga Farah menempel ke dada Ilham, ia mendengar irama detak jantung milik suaminya. Begitu tenang dan damai.


Hanya dengan pelukan ini saja, rasanya hangat dan nyaman.


Ilham masih mempertahankan keadaan, begitu lama ia memeluk jelitanya. Wangi semerbak menguar dari rambut milik Farah. Ilham sangat menyukai harumnya, maka dari itu ia suka sekali menyisir rambut milik Farah yang tergerai panjang dan bergelombang.


“Mungkin Mas akan tujuh hari di Numa, menyelesaikan kedai baru kita,” ujar Ilham bersuara lembut.


Farah tetap menggelengkan kepalanya, ia menangis. Farah tidak rela jika suaminya pergi lagi, teringat Ilham pergi berhari-hari tanpa kabar. “Jangan! Jangan pergi ke sana,” suara Farah terdengar sesegukan.


Ilham melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat wajah Farah, menghapus air mata yang sempat tumpah. “Kenapa menangis? Aku pergi untuk bekerja sayang, tidak melakukan hal lain.”

__ADS_1


Tetap Farah menggeleng. “Apakah Mas lupa? Lima hari aku menelpon Mas tidak dijawab, pesan juga tidak dibalas! Apakah aku harus merasakannya lagi?”


Ilham tahu ini akan terasa sulit, ia tidak mau istrinya menangis. Ilham bangkit dan mengambil ponsel milik Farah. Ia mengetuk sebuah deret angka lalu menyimpannya dengan nama “Kedai Numa”.


“Ini nomor telepon kedai di Numa, kamu bisa menelpon nomor ini untuk memastikan bahwa aku memang berada di kedai.” Ilham menyerahkan ponsel Farah kepada pemilikknya.


Farah tetap menggeleng, tanda tidak mau ditinggalkan lagi. “Bagaimana jika aku ikut Mas Ilham ke Kota Numa?”


Ilham sedikit kehabisan akal untuk membujuk hati Farah, dia sangat berkemauan keras untuk ikut bersama Ilham.


“Sayang, aku janji dalam tujuh hari ini akan kembali. Kamu boleh meminta apapun asal kamu tetap tinggal di sini.” Ilham mengajukan penawaran untuk Farah.


Mata Farah membulat, ia tidak menggeleng. Farah menjulukan jari kelingkingnya ke hadapan Ilham. “Janji hanya tujuh hari?”


“Oh ya Mas, untuk permintaan boleh aku meminta sesuatu?” tanya Farah.


Ilham mengerutkan keningnya. “Memang istriku mau minta apa?”


“Boleh aku meminta teman untuk menemaniku saat Mas Ilham pergi?”


Ilham menimang permintaan istrinya, “Teman? Maksudmu gadis yang gayanya seperti preman pasar? Siapa ya namanya ... ah iya namanya Kinanti?” Ilha memicingkan matanya.

__ADS_1


Farah menggeleng. “Bukan Kinanti, Mas.”


“Lalu?”


“Aku ingin mbak Rahma tinggal di sini Mas, sampai dia melahirkan.”


Ilham termenung, ia harus berpikir apakah ini jalan keluar yang baik. “Baik, boleh sayang.” Ilham mencubit pipi Farah.


“Oke, sekarang sudah malam dan waktunya tidur. Besok kamu ikut aku ya, kita jemput Rahma.”


Farah berseru kegirangan. Ilham tersenyum, ia memeluk istrinya agar segera tidur.


Selamat malam.


____________


jangan lupa setelah selesai membaca kisah ini, pencet LOVE dan kasih rating 5 bintang ya.. karena ini GRATISS😁


jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


__ADS_2