Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 129


__ADS_3

Yuk pencet like dulu, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author


Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.


Terima kasih


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


Selamat berimajinasi


_________


Mobil itu berhenti dengan cepat. Suara decitannya seakan menandakan ada hal penting yang harus disegerakan. Naresh keluar dari mobil dan langsung berlari memasukin rumah. Tepat saat berada di ruang tengah, ia mendengar suara jeritan Kinanti. Matanya melebar, darahnya mendidih dan pikirannya terngiang soal kejadian yang buruk. Tanpa menyita banyak waktu, Naresh berlari menuju sumber suara. Ia yakin asal suara ini berasal dari ruang senjata. Ia terus berlari hingga terlihat beberapa maid sedang mendobrak pintu.


“Tuan! Kinan dihukum oleh Nyonya,” suara salah satu maid itu tercekat.


Naresh yang mendengar penuturan maid itu seketika membantu mendobrak pintu. Satu kali percobaan gagal. Dua kali percobaan gagal, pintu itu sempurna terkunci dari dalam. Tiga kali percobaan, akhirnya ia bersama dua maid laki-laki berhasil membuka pintu itu.


Naresh memasuki ruangan, ia terkejut dengan pemandangan yang tersaji tepat di hadapannya. Kinanti yang membabi-buta menghajar Kinanti yang sudah tergolek lemah. Dengan cepat ia mengambil paksa pecutan yang dipegang oleh Anneline.


Anneline tercengang melihat kehadiran kakak iparnya. Padahal ia sudah memastikan bahwa Naresh dan suaminya telah berangkat.


Apakah Kinan sudah ditandai?


“Kakak ...!” Anneline tidak sanggup untuk mengatakan sesuatu.


Naresh menatap dengan mata menyala karena marah. Ia mendorong Anneline hingga tubuhnya terhimpit tembok. Tak sampai disitu, Naresh juga mencekik leher adik iparnya.

__ADS_1


“Mengapa kau menyakitinya?” Naresh mendesiskan kalimatnya sangat mengerikan. “Katakan! Mengapa kau menyakitinya, Anneline?!”


Tak ada jawaban, Anneline memilih bungkam. Ia tidak menyangka jika Kakak iparnya bisa semarah ini hanya karena membela maid itu.


Naresh mengeratkan cekikkan di leher Anneline, hingga dia menggeliat kesulitan bernapas. Tangannya tak mampu menyingkirkan cengkeraman tangan Naresh.


“Lepaskan istriku, Kak!” Fernando berteriak melihat Naresh mencekik Anneline. Namun peringatan itu tidak diacuhkan. Ia mengambil sesuatu yang berada di kursi rodanya dan mengarahkan benda itu ke arah Kakaknya.


Dor!


Satu peluru menembus ketegangan. Meskipun meleset, tapi muntahan selongsong peluru dari senjatanya sukses membuat Naresh menoleh ke arah Fernando yang mengajungkan pistolnya.


“Lepaskan istriku!”


Meskipun Naresh membencinya, ia melepaskan cekikan di leher adik iparnya. Anneline langsung terbatuk-batuk merasakan kelonggaran saluran pernapasan.


Naresh langsung membawa Kinanti yang sudah tidak sadarkan diri. Hatinya teriris melihat kondisi kekasihnya yang mengenaskan. “Aku harus membawanya ke rumah sakit.”


Saat Naresh hendak keluar, tiga orang maid laki-laki mencegahnya sesuai keinginan Fernando. Naresh menatap bingung, dalam pikiranya ia harus mengobati Kinanti karena luka-lukanya cukup parah.


“Gadis itu akan dirawah di sini saja, tidak perlu dibawa ke rumah sakit.” Fernando yang menjawab pertanyaan kakaknya.


“Apakah kau tidak melihat?! Kinanti terluka karena istrimu!” Naresh masih membentak. Kekhawatirannya begitu nyata dan takut akan kehilangan sesuatu yang berharga.


“Karena itu, biarkan dia dirawat di sini, akan aku panggilkan dokter beserta perawatnya untuk merawat Kinan. Aku tidak ingin reputasi keluarga ini rusak karena olahan media yang tersaji ke publik. Lagipula dia masih maid di rumah ini, akan banyak berita yang membuat nama kita bahkan perusahaan hancur. Aku mohon Kakak bisa mengerti kondisi ini.” Fernando perlahan mendekati istrinya dengan kursi roda khusus.


Hati Naresh merasa tercabik mendengar keputusan adiknya. Fernando benar, karena tidak ingin nama keluarga tercemar kembali seperti dulu. “Biarkan Kinanti dirawat di rumahku.”


Fernando hanya mengangguk tanpa melihat lawan bicaranya. Ia sedang membuat istrinya tenang dengan mengelus pundaknya. “Siapkan dua dokter dan perawat untuk datang kemari,” titahnya.


Dengan hati yang perih, Naresh menggendong tubuh Kinanti. Ia ingin menangis, tapi air mata enggan keluar. Tubuhnya dipenuhi kesesakan karena melihat perempuan yang ia sayangi dalam kondisi yang mengenaskan. Wajah cantik Kinanti dipenuhi luka, tubuhnya juga banyak luka memerah akibat pecutan dari Anneline.

__ADS_1


Naresh meletakkan tubuh Kinnati di ranjangnya. Ia masih menunggu dokter yang akan merawat Kinanti. “Mengapa kau jadi seperti ini? Maaf, aku terlambat menolongmu.”


Dua orang berbaju putih datang mengetuk pintu rumah Naresh. Mereka adalah dokter dan paramedis yang dipanggil oleh Fernando. Naresh mempersilakan dua oang itu utuk merawat luka-luka Kinanti.


***


Di kamar yang sunyi dengan pencahayaan yang meremang. Hanya ada jendela super besar yang menghadap langsung ke arah taman. Seseorang sedang duduk menghadap jendela itu dengan airmuka yang muram. Bulan sedang menghitam tidak nampak. Awan hanya berhias pasukan bintang yang berkelip.


“Nyonya sudah datang, Tuan,” ucap seorang maid perempuan.


Orang yang dipanggil Tuan itu mengangguk tanda mempersilakan sang nyonya untuk masuk ke ruangan ini. Maid itu menyampaikan pesan kepada orang yang sedang menunggu kepastian.


Seorang wanita memasuki kamar yang meremang dengan kesunyian yang teramat sangat. Dari sudut manapun dipandang, aura penyesalan menguar dari tubuh wanita itu. Lagaknya sudah kalah telak dan harus bersedia menerima hukuman.


Wanita itu berhenti, suara langkahnya sudah tidak terdengar. Ia bersimpuh dalam penyesalan. “Aku datang untuk menerima hukumanku, Tuan.”


Dengan kursi roda khusus, Fernando menekan tombol untuk menggerakkan benda yang menjadi alat pergerakannya. Sekarang ia bisa melihat istrinya yang bersimpuh di lantai, menatap iba.


“Dia sudah ditandai oleh Kak Naresh, Kenapa kau masih menyakitinya?” tanya Fernando.


Anneline—wanita yang bersimpuh itu tidak bisa menjeaskan bagaimana ia lepas kendali. Ia tidak mungkin mengatakan bawah ia sedang dilanda api cemburu yang membinasakan. Anneline masih tidak terima dengan kenyataan Ilham sudah menikah.


“Aku mabuk!” Anneline memalingkan wajahnya. Sepasang bola matanya tidak mampu menahan tatap menujuk dari suaminya.


Fernando menatap istrinya dengan curiga. “Mabuk? Ini bukan kali pertama kau melakukan tindakan gila ini, Lin! Apa kau lupa ada empat orang yang telah kau bunuh dengan sadis. Keluargamu sendiri! Mereka jadi korban karena dendammu. Apakah belum cukup?”


Anneline hanya terdiam, hanya Fernando yang mengetahui malam pembunuhan itu. Dia datang di saat semua sudah binasa. Liciknya dia membiarkan semua terjadi sebagai boomerang untuk Anneline sendiri. Fernando tidak melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib, tapi menjadikannya ancaman untuk istrinya agar mau menuruti kemauannya walapun harus dengan paksaan.


Mana yang lebih licik Nando?! Aku atau dirimu? Kau membiarkan pembunuh sepertiku hidup nyaman di rumah ini. Kau masih menganggapku sebagai istri. Bukankah semua ini kesalahanmu?


Anneline hanya bergeming. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Biar bagaimanapun, Fernando berkuasa di rumah ini.

__ADS_1


Fernando menghenmbuskan napas beratnya. Ia telalu lelah untuk berpikir bagaimana istrinya bisa senekat itu. Tangannya telah basah karena kasus Anneline. “Sebagai hukumannya kau tidak diperbolehkan lagi membawa senjata, izinmu akan dicabut sementara. Kau harus meminta maaf kepada Kinanti dan kau tidak diperbolehkan keluar dari rumah ini selama enam puluh hari.”


“Terima kasih atas murahan hatimu, Tuan Fernando.”


__ADS_2