
Yuk bantu Author untuk :
- Like/love setelah baca cerita ini
-Tinggalkan jejak di kolom komentar
-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi😁
_________
EPISODE 147 : Aku Masih Mengkhawatirkanmu Dalam Keadaan Apapun
“Saya harap Anda melepaskan saya, Tuan Naresh Yori Alvarendra. Biarkan saya meninggalkan rumah ini!” Suara Kinanti serak, wajahnya lusuh seperti habis menangis.
Naresh terbelalak, ia tak percaya Kinanti akan mengatakan hal itu. “Ada apa? Mengapa kamu seperti ini? Apa salahku?”
“Tuan Yori tidak pernah salah. Saya yang bersalah karena terlalu mengharapkan suatu yang mustahil saya dapatkan sebagai gadis miskin yang tinggal di kawasan kumuh. Biarkan saya angkat kaki dari rumah ini, Tuan.” Kinanti membungkukkan badannya. Ia masih hafal betul tata cara menjadi maid.
Naresh menyentuh kedua bahu gadis itu untuk berhenti membungkukkan badannya. “Apa yang merasukimu, Kinan? Kamu berbicara apa?”
“Maaf Tuan Yori. Saya sekarang sadar dengan posisi saya. Saya harap Anda mengerti tentang keputusan ini.”
“Jelaskan! Jelaskan padaku, mengapa kau bersikap seperti ini?”
Kinanti menunjukkan ponselnya. Tampak dengan jelas foto yang berisi tentang Naresh yang terlentang dengan seorang perempuan dengan pakaian yang sangat kelewat terbuka.
__ADS_1
Mata Naresh melebar. Dalam foto itu tergambar jelas dirinya dengan Sirena yang sedang berpose nakal. Ia tidak bisa menyangkal bukti digital itu. Ia bergeming.
“Saya rasa ini telah menjelaskan semuanya. Saya tahu jika saya hanya gadis belian. Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini, Tuan Yori.”
“Kamu bukan gadis seperti itu, Kinan! Aku hanya dijebak! Percayalah! Kumohon,” Naresh menggengam tangan Kinanti. “Jangan seperti ini, tetaplah di sini.”
Kinanti menarik tangannya. Ia berjalan menuju kamarnya dan mengambil tas besar yang berisi pakaiannya. “Maaf Tuan, saya sudah mengemasi barang-barang saya. Izinkan saya pergi.”
“Tidak!” Naresh membentak. Ia terlihat sangat garang sekali. “Kau tidak boleh pergi dari rumah ini!”
Kinanti yang sedari tadi menahan tumpahan air matanya, kini mendadak runtuh seketika. “Untuk apa aku bertahan dengan pria yang tidak bisa cukup dengan satu perempuan? Untuk apa! Saya tidak bisa seperti ini. Jika Anda ingin mempermainkan saya, mohon hentikan sekarang. Hati saya tercabik melihat foto itu.”
“Aku tidak pernah mempermaikanmu. Mengertilah! Ini hanya jebakan untuk memisahkan kita bahkan bisa menjatuhkan reputasiku!”
Kinanti menggeleng. Ia menyangkal alasan dari Naresh. “Terlepas dari itu semua, Saya sudah tidak bisa mempercayai Anda lagi, Tuan. Mohon biarkan saya pergi dari rumah ini.” Ia menggendok tasnya ke punggung dan bersiap menuju pintu. Dalam pikiran Kinanti, ia hanya ingin pergi dari rumah ini dan pergi dari kehidupan pria yang ia sayangi. Tak peduli apakah itu akan menyakitkan atau tidak.
“Jangan pergi!” Naresh menarik tangan Kinanti. Ia tidak ingin kekasih tercintanya pergi.
“Lepaskan saya, Tuan Yori! Mempercayai Anda sama seperti saya memeluk mawar berduri. Begitu menyakitkan.”
“Tidak!”
Kinanti terus memberontak, ia ingin melepaskan tangannya dari cengkeraman pria itu. Ia berusaha agar bisa melepaskan diri.
Naresh menjadi naik pitam. Ia harus melakukan sesuatu agar Kinanti tidak pergi dari rumah ini terlebih gadis ini keras kepala sekali. Dalam hatinya, ia ingin mengatakan bahwa ia benar-benar tidak tidur dengan Sirena.
Naresh terpaksa menyeret Kinanti. Dia sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Naresh sampai kewalahan. “Kau tidak boleh keluar dari rumah ini!” Ia menyeret gadis itu menuju kamarnya.
“Tuan! Lepaskan saya!” Kinanti berusaha untuk memberontak. Ia harus lepas dari cengkeraman pria itu.
Naresh tak ada pilihan, ia harus mengurung gadis itu di kamarnya. Karena hanya tempat itu jendelanya terdapat terali yang yang terbuat dari besi, serta kamar mandi dengan jendela cukup tinggi. Tempat yang ideal untuk mengurung Kinanti.
Penyeretan itu tak berlangsung lama, Naresh berhasil memasukkan Kinanti ke dalam kamarnya walau dagunya sedikit perih karena terkena cakaran gadis itu belum lagi jas dan kemeja yang ia kenakan sudah hilang beberapa kancingnya. Ia mengunci pintu itu.
Terdengar Kinanti menggedor-gedor pintu, berteriak meminta keluar. Namun Naresh berusaha tidak peduli. Ia terpaksa mengurung gadis yang ia cintai. “Maaf Kinan.”
Naresh pergi meninggalkan rumah itu. Ia harus segera menunju rumah utama untuk menganti baju dan meminta beberapa maid untuk menjaga rumah itu dan mengantarkan makan ke Kinanti. Selain itu Naresh juga meminta agar penjagaan diperketat agar Kinanti tidak keluar dari rumah itu.
__ADS_1
“Jun, aku ingin kau menjadi sopirku hari ini,” titah Naresh.
“Baik Tuan Yori.” Pria yang berumur empat puluh tahun bernama Jun itu membungkukkan badannya tanda menerima perintah itu.
Saat berada di dalam mobil, Naresh makin gelisah. Ia tak henti-hentinya memijat kening dan raut wajahnya sangat terlihat lesu. Hal ini membuat Jun ikut gelisah melihat Tuannya seperti itu.
“Apakah ada masalah Tuan?” tanya Jun walau pandangnya terfokus pada jalan.
“Kau paling mengerti Jun. Tadi malam aku merasa di permalukan. Bagaimana bisa ada orang yang menjebakku dengan seorang perempuan yang pekerjaannya memuaskan hasrat lelaki? Lalu mengapa Kinanti bisa mendapat foto itu, sedangkan tak banyak orang yang tahu tentang hubunganku dengannya.” Naresh mengembuskan napas berat seakan banyak beban yang bersarang di pundaknya.
“Hanya Nona Kinanti yang mendapat foto itu?” Jun bertanya lagi.
“Iya,” ucap Naresh disertai anggukan. “Bisakah kau mencari tahu siapa wanita itu dan dalang di balik ini semua?”
“Baik Tuan. Apakah Tuan ingin singgah sebentar untuk mengisi energi pagi? Saya yakin karena pertengkaran itu Nona Kinanti tidak menyiapkan apapun di meja makan.” Jun tersenyum.
“Kau memang sangat mengerti, Jun.”
***
“Kelurkan aku! Kak! Keluarkan aku! keluarkan ....” Kinanti sesegukan meminta keluar membuat para maid penjaga yang berada di balik pintu merasa iba.
Kinanti merasa kelelahan. Ia memutuskan untuk meringkuk di ranjang menunggu sang Tuan Muda itu pulang.
Suara ketukan pintu. “Nona, kami ingin masuk mengantarkan sarapan untuk Nona.”
Kinanti tidak menjawab, ia sudah kehabisan tenaga karena berteriak. Ia juga sudah berkeliling di kamar ini mencari celah untuk keluar, tapi hasilnya nihil. Semua jendela di kamar ini memakai terali besi, tidak seperti kamar miliknya.
Dua maid perempuan membuka pintu membawa nampan berisi menu sarapan hari ini.
“Maaf Nona, Tuan Yori berpesan agar Nona segera makan,” ucap salah satu maid perempuan itu.
Kinanti bergeming. Ia begitu lelah, keinginannya hanya ingin pergi jauh dari rumah ini. Ia tidak bisa meminta bantuan dari pihak luar, ponselnya telah di ambil oleh Naresh.
Dua maid perempuan itu pamit meninggalkan Kinanti dan mengunci pintu kamar itu lagi. Dalam kamar Kinanti mencium aroma yang sangat lezat yang berasal dari sup ayam yang masih mengepul asapnya. Ia bangkit dan melihat ada dua nampan yang berisi makanan berserta buah.
“Meski marah, kamu masih sempat mengkhawatirkanku, Kak.”
__ADS_1