
Ray sudah bersiap menunggu Farah di halte dekat kedai milik Ilham. Kali ini mobil Ray beserta sopirnya terparkir cukup jauh di sekitar halte itu, Ray melakukan hal ini jika nanti Farah nekat memesan taksi online dan meninggalkannya seperti kemarin, ia bisa mengejar Farah dengan mobilnya.
Ray duduk di halte sambil membawa setangkai mawar merah dan sekotak kado yang isinya kalung mewah dan mahal. Ia telah menyiapkan hadiah ini tadi siang. Ray berharap Farah mau menerimanya.
Ray melirik arloji yang melingkar di pergelagan tangannnya. Pukul 22.15 namun Farah belum datang ke halte ini. Ray masih bersabar menunggu, ia sempat menguap beberapa kali, sedikit mengantuk. Sudah beberapa kali bus berhenti karena Ray terlihat duduk di halte, namun Ray selalu menolak bus yang berhenti itu, karena ia tidak ingin menaikinya.
Sembari menunggu Farah, Ray yang sudah mengantuk pun akhirnya tertidur di kursi halte. Tangannya masih menggenggam setangkai mawar dan sekotak kadonya. Ia yakin Farah masih berada di kedai.
***
Sudah kesekian kalinya Farah mencoba menelpon Ilham, masih sama tidak ada jawaban. Ia menyerah. Farah menyeka matanya yang basah, mencoba menutupi kesedihan yang terpancar jelas di wajahnya.
Farah melihat jam dinding yang tergantung di sudut ruangan Ilham , sudah jam 23.00. Ia harus segera pulang, ia tak ingin ketinggalan bus, karena bus beroperasi sampai pukul 23.45.
Farah berjalan keluar kedai menuju halte terdekat, ia tak menyangka bahwa malam sudah larut. Tiba di halte, Farah melihat Ray yang tidur meringkuk di kursi, Farah yakin Ray menunggunya sampai-sampai tertertidur.
Farah mencoba duduk di dekat kepala Ray, ia melihat Ray tampak kelelahan. Ada rasa kasihan juga di benak Farah.
“Apa dia tidak membawa mobil?” guman Farah. Ia tidak melihat mobil mewah Ray di sekitar halte ini. “Pasti dia naik bus.”
Farah akhirnya memesan taksi online untuk Ray, bahkan ia juga sudah membayar taksi itu dengan menggunakan uang digital yang ia klik dari ponsel miliknya. Terlihat bus sudah hampir datang dari kejauhan.
Tak lama kemudian bus sampai di halte tempat Farah berdiri, kemudian ia naik bus dan duduk di dekat pintu bus.
“Astaga! Pria itu masih di halte ini?! Padahal tadi aku tadi sudah berhenti di halte ini satu setengah jam yang lalu,” ucap sopir bus sesaat setelah Farah masuk.
“Mungkin dia menunggu kekasihnya, sampai-sampai tertidur seperti itu,” sahut pramugari bus.
Farah mendengar percakapan antara sopir bus dan pramugari bus, ia sedikit merasa bersalah dengan Ray yang rela menunggunya sampai tertidur.
__ADS_1
***
Mobil warna hitam berhenti di depan halte bus dekat cafe, sopir mobil itu keluar, ternyata calon penumpangnya sedang tertidur. Ia tadi menerima pesanan dari aplikasinya dan ada catatan khusus dari si pemesan bahwa ia akan membawa penumpang laki-laki yang menunggu di halte bus yang bernama Ray.
“Maaf Pak, Pak, Pak bangun ...” ucap sopir taksi online itu sambil sedikit mengguncang-guncangkan tubuh calon penumpangnya.
Ray terbangung, ia masih belum menyadari situasi. Ia mengucek matanya yang sedikit memerah karena rasa terkaget dari tidurnya. Ray juga merasa badanya terasa sakit semua karena tidur tidak pada tempatnya.
“Apa benar ini Mas Ray? Tadi saya mendapat pesanan taksi online atas nama mbak Farah, dan dia memesankan taksi ini untuk pria yang sedang menunggu di halte,” jelas sopir taksi online itu.
Ray berusaha mencerna kata-kata sopir taksi online ini.
Apa! Farah yang memesankan ini untukku? Lalu kemana dia?
“Kemana Farah?” tanya Ray.
“Maaf Mas, saat saya datang hanya melihat mas sendirian di halte ini tidak ada siapa-siapa,” jawab sopir taksi online.
“Maaf Mas, mari berangkat sekarang?” tanya sopir taksi online.
Pertanyaan sopir taksi online itu membuyarkan lamunan Ray. Ia mengambil uang beberapa ratus ribu dari dompetnya.
“Ini Pak, saya tidak naik taksi bapak, anggap saja ini uang pengganti karena saya membatalkan pesanan,” ucap Ray sambil menyodorkan uang kepada sopir itu.
***
Farah telah sampai di rumah, ia merasa rumah ini hampa tanpa pemiliknya. Ia juga memandangi pintu kamar Ilham dan mengetuknya berharap Ilham akan membuka pintu ini. Benar ini hanya khayal Farah semata. Kamar itu tidak berpenghuni.
Farah gontai melangkah kaki menuju kamarnya.Ia kembali menelpon nomor milik Ilham, masih sama tidak aja jawaban. Ia melihat ratusan pesan singkatnya tidak dibaca apa lagi dibalas.
__ADS_1
Untuk mengusir kesepiannya, Farah mendengarkan radio yang ia putar melalui ponselnya. Ia tidak berniat untuk tidur. Ia hanya merebahkan tubuhnya sambil mendengar penyiar radio yang berbicara.
“Baik pendengar sekalian, ada yang merequest lagu dari Amigdala, judulnya ... Ada yang Lebih Tabah dari Hujan Bulan Juni. Salamnya untuk semua pendengar yang sedang tenggelam di lautan rindu. Asli ... ngena banget kata-katanya nih! Okey... terima kasih, lagu ini akan diputar, selamat mendengarkan ....” ucap penyiar radio itu.
Farah mendengarkan lagu yang diputar itu, ia tidak mengetahui lagu itu dan berusaha untuk memahami lagu yang sedang diputar.
Ada ... yang lebih tabah ... dari hujan bulan juni ....
Yaitu perempuan ... yang disetubuhi rindu ... dan rela tidak dibayar ...
Farah mendengarkan lirik lagu itu. Ia merasa penggalan lagu itu cukup mewakili perasaan rindunya. Mata Farah meneteskan kristal bening yang keluar dari sudut itu.
***
Ray keluar dari mobilnya. Ia sedikit kesal bercampur lelah. Ia memutuskan untuk langsung tidur di kamarnya.
Pak Sudiro selaku pelayan setianya tak habis pikir dengan kelakuan majikannya akhir-akhir ini. Kemarin ia melihat tuan mudanya pulang dengan peluh keringat yang sangat banyak. Tadi pagi Pak Sudiro juga melihat Ray pulang dengan basah kuyup. Sekarang ia melihat Ray kesal dengan raut wajah yang letih.
Pak Sudiro menanyakan hal ini pada sopir yang baru saja mengantar Ray. Ia mendengar kalau malam ini tuan mudanya tertidur di halte ketika menunggu seorang perempuan yang dia sukai.
Padahal malam-malam sebelum mengenal perempuan itu, Ray sering pulang karena mabuk berat, bau alkohol tercium dari mulutnya. Atau sering membawa pulang perempuan untuk menjadi hiburan Ray. Jika Ray dalam keadaan marah ia bisa saja menjadi kejam membuat perempuan yang ia bawa tadi menjadi sasaran kemarahannya.
***
Ray merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia memandang setangkai bunga mawar dan sekotak kado untuk Farah. Ia membuangnya dengan sembarang di sudut kamarnya. Ia tak habis pikir mengapa Farah bisa berbuat seperti itu.
“Apa mungkin dia perempuan yang berbeda dari perempuan kebanyakan? Dia tidak gila dengan harta ataupun jabatan. Dia hanya perempuan yang sangat sederhana,” guman Ray.
Ray berpikir bukan hal mewah yang diinginkan Farah namun hal sederhana yang indah. Ray memandang langit kamarnya yang berarsitektur mewah. Ia teringat Anne yang suka sekali dengan kue buatan Ilham.
__ADS_1
“Apa Farah juga termasuk perempuan yang suka dibawakan makanan hasil masakanku sendiri?” tanya Ray pada dirinya sendiri. Ia teringat bahwa ia tidak bisa memasak sesuatu yang enak.
“Besok akan aku coba,” ucap Ray sebelum ia tertidur.