
Episode 153: Dark Mode
Selamat Berimajinasi
_____________
Naresh sudah kembali dari ruang perawatan. Sekarang ia harus berakting seolah-olah Jun mengalami musibah yang sebenarnya. Ia memasukin rumah dan mendapati Kinanti sedang sedang duduk di lantai kamar miliknya. Kondisinya tampak terkejut dan pucat pasi.
Pasti karena akting Jun yang berlebihan, batinnya.
Nareh ingin tertawa, tapi ia harus menahannya karena tak mungkin ia membongkar apapun tentang taktiknya ini. Benar! Naresh yang membangun semua rencana ini, walau sedikit berlebihan, nyatanya ia berhasil membawa Kinanti untuk kembali.
“Kinan ....”
Gadis itu menoleh, seperti ada yang ia tahan. Wajahnya masih terlihat belepotan percikan darah tiruan yang dipakai oleh Jun. Naresh akhirnya mengambil baskom berisi air dan handuk kecil. Ia membawanya ke kamar Kinanti. Gadis itu terdiam, ia menahan tangisnya. Ia merasa bersalah karena keegoisannya membawa petaka bagi orang lain.
Naresh mencelupkan handuk kecil ke dalam baskom yang berisi air. Ia memerasnya dengan perlahan hingga masih ada sisa air yang terserap di handuk itu.“Aku bantu bersihkan ya?” Dengan kehati-hatian, ia membersihkan wajah, leher, dan tangan Kinanti hingga warna merah darah (tiruan) itu hilang.
Setelah selesai, Naresh membawa baskom dan handuk itu ke sudut kamar Kinanti. Sekarang perannya sebagai ibu yang habis membantu anaknya untuk cuci muka. Ia juga melepaskan sepatu yang dikenakan Kinanti.
“Sekarang kamu tidur ya, Nona-ku.” Naresh tersenyum. Ia juga mengangkat tubuh gadis itu ke ranjang di sebelahnya agar bisa beristirahat. “Sudah, tak perlu dipikirkan. Segera tidur.” Ia mengelus punca kepala Kinanti.
Seketika, Kinanti bangkit dan langsung memeluk Naresh. Ia menangis sejadi-jadinya. Naresh membiarkan gadisnya menangis. Ia rela bajunya basah untuk kedua kali ini karena menampung air mata.
“Jun baik-baik saja. Dia sudah mendapat perawatan dari dokter. Tak perlu khawatir, Sayang.” Naresh berbohong. Namun ia senang perjuaangan yang sedikit gila ini bisa membuat hati Kinanti luluh.
“Gara-gara aku! Ga-gara aku ....” Dada Kinanti sesak. Ia tak mampu melanjutkan ucapannya.
“Ssssttt ... sudah, tidak apa-apa. Aku tidak akan marah. Aku janji akan pulang seperti biasanya, dan aku juga janji tidak akan berdekatan dengan wanita lain,” ucap Naresh.
Kinanti melepaskan pelukannya. Ia menghapus jejak air mata yang membasahi pipi dengan tangannya. “Maaf jika membuat Kakak susah.”
Naresh mendekatkan wajahnya. “Ternyata membuatmu cemburu itu mengerikan sekali.” Ia bergelak. Tawanya membuat tubuh pria itu sedikit terguncang.
__ADS_1
“Kakak!” Kinanti sekarang sudah menarik senyumnya walaupun air mata masih menggenang. Ia rindu suasana seperti ini. Sejujurnya ia tak ingin kehilangan Naresh apapun yang terjadi.
Naresh merapikan rambut Kinanti yang berantakan. “Ternyata kamu lebih cantik ya jika berambut panjang.” Ia menyadari panjang mahkota kepala gadis itu sudah lebih panjang dari sebelumnya yang hanya sebahu.
“Kakak boleh aku bertanya?”
“Apa Nona Mesum-ku?”
Kinanti agak ragu menanyakan hal ini. Tapi ia terus membujuk hatinya agar mau terbuka dan menjalin komunikasi seperti dulu dengan Naresh. “Siapa Sirena?”
Naresh sedikit terkejut mendengar nama perempuan itu. Ia yakin pasti Jun yang sudah menceritakan semuanya. “Perempuan pekerja se.ks komersial di Kota Zen Bagian Utara.”
“Oh ...” Kinanti hanya ber-oh. Ia masih belum memantapkan hatinya soal kebenaran ini. Ia ingin kejelasan yang membuat dirinya kepercayaan itu terbangun lagi.
“Besok siang kamu akan bertemu dengannya. Dia bisa menjelaskan tentang foto yang terkirim dari nomor tak jelas itu. Sudah sekarang tidur, ini sudah tengah malam.” Naresh menarik selimut untuk menutupi tubuh Kinanti.
Kinanti menarik tangan Naresh. Ia menggeleng, tanda ada sesuatu yang ingin disampaikan. “Bisakah Kakak tidur berdampingan denganku di sini?”
Naresh mendekatkan wajahnya membuat Kinanti refleks menghindari. Ia menjitak kening gadis itu. “Hey! Jika aku tidur di sini, apakah kamu mau tanggung jawab jika aku lepas kendali, hah?”
Kinanti mengelus keningnya yang tersakit sakit. “Aku hanya meminta Kakak tidur berdampingan, itu saja!”
“Ternyata kamu belum paham juga. Dengar ya Nona Mesum-ku, aku ini pria normal! Mana mungkin tidur nyenyak tanpa hasrat di samping perempuan sepertimu?” Naresh menjitak kening Kinanti lagi hingga dia mengaduh kesakitan. “Sudah! Aku tidur di kamarku sendiri. Lagi pula aku ingin menjagamu sampai benar-benar ada yang mengikat kita secara sah. Selamat malam.”
Naresh keluar dari kamar Kinanti dan menutup pintunya. Ia berjalan menuju kamar miliknya yang sudah dibersihkan. Ia masih teringat dua maid yang saling terikat dengan mulut yang disumpal akibat ulah Kinanti. “Ternyata dia sudah berkembang.”
Tepat saat ingin merebahkan diri, Naresh teringat gelang milik Kinanti yang teronggok manis di nakasnya. Ia buru-buru ingin memberikannya tapi urung dilakukan. Ia merasa, Kinanti sudah tidur. “Besok sajalah.”
***
Hari ini Anneline mabuk lagi, ia dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Ia masih teringat rencananya yang gagal hanya gara-gara taktik Naresh. Ia tak menyangka laki-laki itu akan melakukan hal sedemikian rupa untuk membuat Kinanti kembali.
“Apa aku harus menghasutnya lagi? Sepertinya ... Kinanti jauh lebih percaya sekarang. Lalu apa yang harus aku lakukan?” Ia melempar botol minuman kerasnya ke lantai. Mungkin jika Tuan Fernando ada, ia tak mungkin bisa mminum-minum seperti ini.
__ADS_1
Sementara di rumah kecil milik Naresh, sang pemilik sudah bangun. Ia menyiapkan panekuk spesial untuk kekasihnya kembali. Naresh memang hanya bisa memasak hal-hal yang sangat simple. Ya ... setidaknya kemampuan ini bisa jadi nilai tambah untuk dirinya.
Kinanti terbangun karena mimpi buruk. Kejadian tadi malam masih membekas di ingatannya. Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang lusuh. Setelah itu, ia pergi ke dapur dan mendapati Naresh sedang bersenandung kecil serta badannya sedikit bergoyang sesuai irama.
Bagaimana dia bisa memasak jika seperti itu?
Naresh yang mengetahui Kinanti sudah terbangun dari tidurnya, ia langsung menghampirinya dan mengajaknya berdansa.
“Kak! Kenapa kamu seperti ini?” Kinanti terkejut. Ia sekarang ikut berlenggok dan memutar seperti latihan berdansa. Naresh masih bersenandung riang meskipun celemek masih dikenaka. Ia sangat berbahagia hari ini, sehingga moment menyenangkan ini tak boleh terlewatan.
“Kakak! Berhenti!”
“Sudah tak apa-apa, nanti kamu kan akan berdansa denganku suatu hari nanti dengan gaun yang indah bak putri raja.” Naresh tersenyum.
“Kakak! Masakanmu gosong!”
Ketika Kinanti berteriak dua kali, Naresh baru sadar. Ia mencium bau gosong yang berasal dari makannan yang akan dibuatnya. Seketika ia menghentikan senandung dan tarian itu, lalu segera mematikan kompor.
“Bodoh! Kenapa aku meninggalkan masakan ini!” Naesh sedikit memukul kepalanya. Ia lupa belum mematikan kompor dan melihat masakannya yang gosong.
“Wah ternyata Tuan Yori sangat ahli membuat makanan bernuansa dark mode.” Kinanti tak bisa menahan tawanya.
________________________________
Hay, aku up lagi nih. Biasakan meninggalkan Like dan komentar setelah membaca cerita ini. Jika memiliki poin, jangan ragu-ragu untuk berbagi dengan Author. Ini sebagai bentuk apresiasi ya ....🤣🤣
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa.🍀
Nb: baru up satu, kalo crazy up takutnya penyebaran likenya tidak merata.. 😭
__ADS_1