Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 40


__ADS_3

Farah mencoba menghubungi suaminya. Masih sama tak ada jawaban. Farah juga sudah mengirim puluhan pesan singkat namun tak ada balasan dari pesan-pesan itu. Farah merasa gelisah.


“Kamu sedang apa mas? bagaimana keadaanmu? Sudah makan? Semoga kamu dilindungi oleh Allah di manapun kamu berada. Aamiin,” ucap Farah sebelum tidur.


Untuk sekian kalinya Farah menangis menatap layar ponselnya. Tetep sama tidak ada jawaban dari Ilham.


***


Ray masih tak habis pikir kenapa Farah bisa berbuat seperti itu padanya. Ray berfikir bagaimana caranya untuk mengambil hati Farah. Ia bisa memberikan semuanya yang Farah butuhkan. Cinta, harta bahkan Farah bisa menjadi perempuan sosialita yang terpandang jika mau bersanding dengan Ray.


“Sebenarnya apa kurangku ?” tanya Ray pada dirinya sendiri di depan cermin.


“Besok akan ku coba lagi, semoga kau tidak menguji kesabaranku kali ini.” Ray mengepalkan tanganya.


***


Hari kedua Ilham pergi, Farah seperti hidup dalam kesendirian. Ia sudah mencoba menelpon Ilham berkali-kali. Namun masih sama tidak ada respon. Bahkan pesan singkatnya tadi malam tidak dibaca. Farah hanya membujuk hatinya untuk tetap tenang dan menjauhi kemungkinan buruk.


Farah sedang menunggu bus seperti biasanya. Pagi ini sedang mendung. Awan kelabu itu menyembunyikan sinar hangat sang surya. Sudah hampir satu bulan ini cuaca sering berubah-ubah, dua hari turun hujan, kemudian satu hari panas mentari bersinar terang. Musim pancaroba.


Langit abu-abu memberikan kesan suram, seperti Farah yang sangat tidak cerah hari ini. Tak berapa lama bus yang ia tunggu datang. Farah menaiki bus itu dan duduk di bagian dekat pintu bus.


Ray langsung mengenali saat ada perempuan masuk ke bus yang berdiri di halte dekat gapura perumahan. Ray tersenyum Semesta mempertemukan ia dengan Farah dalam satu bus.


Tiba-tiba bus berhenti ada satu penumpang naik dan itu seorang ibu paruh baya. Dengan sigap Ray berdiri mempersilahkan ibu paruh baya itu untuk duduk di tempat duduk yang sebelumnya ia tempati.


Akhirnya Ray berdiri sambil memegang handle grip. Ia berjalan maju untuk sampai ke depan di dekat Farah.


“Hay, selamat pagi,” sapa Ray tersenyum ramah.

__ADS_1


Suara itu tidak asing bagi Farah. Ia langsung menoleh ke pria yang sedang berdiri di dekatnya.


Ray?! Mengapa pria ini selalu mengangguku! Apa dia tidak tahu kalau aku sudah bersuami?


Sesuai pemberhentian halte selanjutnya. Farah bersiap untuk turun. Tiba di halte dekat perguruan tinggi. Farah turun dari bus itu disusul Ray. Bus berlalu menuju halte selanjutnya.


Baru saja ingin berjalan menyeberang, hujan dengan deras turun. Farah masih tertahan di halte bersama Ray.


“Jangan nekat, nanti bajumu basah! Kamu bisa sakit.” Ray mencegah Farah agar tidak berjalan di tengah hujan deras seperti ini.


Aku lebih baik kehujanan daripada harus terjebak bersamamu di halte ini.


Benar saja Farah tetap nekat untuk menyeberangi jalan raya menuju kedai tempatnya bekerja, ia hanya memakai kedua tangannya berlindung dari hujan yang turun.


Dengan sigap Ray melepas jaketnya lalu ia pakai untuk melindungi Farah dari hujan. Farah dan Ray berjalan beriringan di tengah hujan dan mereka sampai di depan kedai.


Baju Farah tidak begitu basah. Namun Ray yang sekarang basah kuyup dan sedikit kedinginan.


Farah hanya mengucapkan terima kasih karena Ray rela basah kuyup hanya untuk melindungi Farah di tengah hujan.


Ray mendengar ucapan terima kasih dari Farah, Ia tersenyum senang.


“Iya, semoga harimu menyenangkan! Aku akan kembali nanti,” ucap Ray yang bersemangat.


Ray lalu kembali ke tengah hujan meninggalkan kedai entah kemana perginya.


“Itu pacaranya Mbak Farah?” tanya salah satu karyawati yang membersihkan meja.


“Bukan,” jawab Farah singkat. Ia berlalu menuju lantai empat untuk membersihkan toilet di sana.

__ADS_1


Akmal melihat aksi Ray yang memakai jaketnya untuk melindungi Farah dari hujan. Ia makin bersalah kepada bosnya.


Akmal berfikir jika Farah telah menjalin hubungan dengan pria lain di belakang suaminya. Ia harus membicarakan hal ini dengan Farah sebelum ia terseret dalam kebohongan yang lebih jauh lagi.


Masalah yang ditutupi kebohongan menjadikannya besar dan rumit.


***


Hari kedua Ilham mencari keberadaan Anneline. Ia masih pantang menyerah. Ilham melihat banyak sekali panggilan dari Farah maupun Akmal. Dan pesan masuk yang sangat banyak dari Farah. Namun Ilham memilih mengabaikannya. Ia hanya ingin fokus untuk mencari Anneline cinta pertamanya.


Ia tahu peluang untuk menemukan Anneline hanya 10% karena Kota Zen adalah kota yang luas. Banyak penduduk elite di kota ini. Kota ini sangat maju.


Ilham mulai menyusuri setiap sudut kota Zen dengan mobilnya. Berhenti jika waktu makan siang. Ia hanya ingin menemukan Anneline. Sosok yang begitu istimewa di hati Ilham.


Terkadang di taman Kota Zen Ia sering menyodorkan foto Anneline kepada orang yang berlalu lalang di taman itu.


Bahkan Ilham juga meminta bantuan polisi untuk menemukan Anneline namun sampai sekarang hasilnya masih nihil.


***


Pukul 21.30. Jam kerja Farah terlah berlalu 30 menit yang lalu. Ia masih di ruangan Ilham. Ia meminta kunci ruangan ini kepada Akmal. Farah mengenang Ilham disini.


Farah berusaha menelpon Ilham, tetap saja tidak dijawab. Ia duduk di kursi tempat yang biasa Ilham duduki. Farah merasa sepi.


Farah berbicara sendiri. "Mas, kamu di mana? Tolong beritahu aku bagaimana keadaanmu. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan rindu!”


Tak terasa air mata Farah mengalir di pipinya.


“Mas, aku sedang membutuhkanmu. Aku di sini selalu ketakutan setiap pria itu datang kepadaku. Aku bertahan disini untukmu walaupun ada pria lain yang mati-matian untuk mencuri hatiku. Aku mohon pulanglah!” Farah berbicara sendiri sambil menangis.

__ADS_1


Akmal yang sebenarnya ingin memasuki ruangan Ilham, langsung mengurungkan niatnya ketika mendengar Farah berbicara sendiri. Ia merasa pilu mendengar ini.


Akmal batal untuk masuk ke ruangan Ilham. Ia memilih untuk mendengarkan dari pintu yang sedikit terbuka.


__ADS_2