Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 172


__ADS_3

Episode 172: Carilah Perempuan yang Ketiga!


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Farah telah mengatur pertemuannya dengan Ray dan Sasmita sedemikian rupa. Ia telah menghubungi perempuan itu dan agar mereka bisa datang tepat waktu seperti dijanjikan. Ilham terpaksa pulang lebih awal, toh dia juga harus menghadiri rapat acara event yang akan di gelar esok lusa.


Farah telah bersiap diri, ia memakai pakaian muslimah dengan warna merah mudah yang sangat manis. Ilham tersenyum, sejak tadi pagi istrinya telah mewanti-wanti dirinya agar pulang lebih awal dan jangan sampai ada kemarahan saat nanti double date terjadi.


“Aku tunggu ya Mas,” ucap Farah antusias.


Ilham menggangguk dan langsung mandi serta bersiap diri. Tak lama kemudian, dia dan Farah berangkat menuju balai kota yang jaraknya tak jauh dari perumahan mereka.


“Sepertinya istriku bersemangat sekali.” Ilham menggoda. Harus ia akui jika malam ini Farah terlihat cantik walaupun tanpa riasan make up. Teduh dan menyenangkan, bahkan sekarang ia sudah tidak terlihat seperti remaja karena sebentar lagi usianya akan menginjak dua puluh tahun.


“Iya Mas, aku sudah lama tidak melihat acara pasar malam. Terakhir aku ke acara seperti ini saat aku masih sekolah,” ujar Farah.


“Pantas saja kamu ngebet banget kepingin mengajakku ke acara itu. Tapi, nanti Mas ada rapat sebentar, mungkin kamu bisa mampir ke stan-mu untuk mengecek kesiapannya.”

__ADS_1


Farah mengangguk. Ia juga menantikan hal ini sedari tadi. Maka dari itu dia dan Ilham harus datang satu jam lebih awal dari janjinya dengan Karin.


Mobil berhenti di tempat parkir yang telah disediakan. Meski begitu, ternyata cukup sulit untuk sekedar memposisikan terparkir karena banyak orang berlalu-lalang di sekitar. Juru parkir terkadang harus berteriak menyuruh orang-orang untuk minggir agar kendaraan bisa masuk untuk.


Setelah berkutat sedikit lebih lama, akhirnya mobil Ilham berhasil terparkir rapi. Farah dan Ilham turun dari mobil. Sama seperti pengunjung lainnya yang sedang bergandengan tangan, Ilham mengambil inisitif untuk menggandeng istrinya.


Farah tersipu, pipinya mengembang merah. Ilham mampu menghangatkan hatinya. Pernikahan yang hampir setahun ini penuh dengan liku dan jalan terjal, namun tetap ada sesuatu yang membuat mereka bersemi bersama.


“Perempuan secantik dirimu harus ada yang menggandeng, kan?” Ilham tahu ekspresi terkejutnya Farah. Ia yakin ini bukan genggaman yang entah keberapa kali, yang jelas


“Ih! Mas Ilham.” Lagi-lagi perhatian yang diberikan suaminya membuatnya merasa menjadi perempuan yang bahagia.


Ilham baru melepaskan genggaman jari tangannya ketika salah seorang pria yang ia kenal memanggil namanya. Pria itu bernama Fransiskus Adit.


“Seperti biasanya, kamu datang tepat waktu!” seru Frans. “Dan dia ....” Frans menujuk perempuan yang bersama Ilham.


Farah menundukkan pandangannya. Ia hanya tersenyum tipis ketika suaminya memperkenalkan dirinya kepada temnnya.


“Panggil saya Frans.” Frans memperkenalkan dirinya. Pria dengan rambut yang sedikit ikal dengan hidung yang agak memanjang dan mata hitam yang khas.


“Farah, Mas harus rapat dulu. Kamu jalan-jalan dulua, enggak apa-apa, kan?” Ilham tahu, kehadiran Frans ini untuk memanggil dirinya agar ikut rapat karena ia adalah panitia event.


Farah menggangguk. “Iya Mas, tidak apa-apa.”


“Jangan jauh-jauh. Dan jika terjadi hal yang tidak beres segera hubungi aku. Pokoknya ponsel kamu harus aktif, tidak boleh non-aktifkan apalagi dengan mode silent.” Ilham menambahkan. Ia tak peduli jika dicap sebagai pria dengan overproktetif terhadap istrinya. Ia menganggap ini adalah salah satu cara menjaga istrinya.


Farah memutar bola matanya. Ia merasa seperti anak yang masih diawasi. Ia hanya menggangguk sebagai jawaban setuju atas pemintaan Ilham.


Ilham tersenyum, ia berharap agar Farah tetap di stan yang akan dijadikan tempat penjualan paper craft-nya. “Hati-hati, ya. Kemana pun kamu pergi harus memberitahuku. Oke!”

__ADS_1


Lagi-lagi Farah mengangguk, mengiyakan. Ilham pergi bersama Frans dan sekarang Farah sedikit bebas untuk mejelajah pasar malam yang tidak jauh tempanya berdiri.


“Sebelum ke sana, ada baiknya aku mampir di ke stan-ku. Ya, untuk memastikan kawan-kawan komunitas bisa membuat ruangan 4x4 meter itu dihias sedemikian baik, agar banyak pengunjung yang tetarik untuk datang,” gumannya.


Farah menyalakan ponselnya dan menelepon salah satu teman satu komunitasnya untuk memberitahu, jika dia akan datang ke stan.


***


Mobil mewah melaju membelah jalanan yang tidak terlalu ramai. Ray sedar tadi sudah memasang wajah sumringah karena dia mendapat undangan dari perempuan yang disukainya meskipun itu melalui Karin. Hari ini ia memakai sweter hitam yang menutupi leher dipandu dengan jas berwarna mocca.


Karin juga ikut serta dalam mobil mewah itu. Aktingnya masih diperlukan untuk kepentingan bosnya. Tetap berdanda seperti Sasmita yang dikenal Farah dengan kacamata berbingkai hitam tebal. Ia melirik bosnya yang sedari tadi mesam-mesem melihat pemandangan yang siih berganti dari kaca mobil.


“Apakah semua akan baik-baik saja, Pak?” Karin memecah kebungkaman di antara mereka.


“Seratus persen sangat baik!” Ray berseru. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari kaca mobil.


“Farah bersama suaminya, apakah nanti tidak ada perkelahian lagi?” Sedari tadi ini yang Karin khawatirkan. Walaupun ia memiliki rasa kepada bosnya, setidaknya hati nuraninya masih tak tega jika Ray disakiti lagi.


“Bukakah alasan Farah mengundang kita adalah untuk menumbuhkan lagi rasa persahabatan antara aku dengan Ilham. Ah ... dia memang kawan lamaku, mencintai perempuan yang sama untuk kedua kalinya.” Ray tertawa kecil. Ia menyindiri dirinya sendiri atas ketidak-mampuannya untuk mendapatakan salah satu dari perempuan itu.


“Mungkin Anda harus mencintai perempuan yang berbeda untuk ketiga kalinya agar bisa memilikinya,” Karin menimpalin ucapan bosnya.


Ray hanya tertawa renyah mendengar hal itu. “Perempuan ketiga? Apakah nanti akan direbut kembali? Apakah kamu bisa menjamin jika perempuan itu jadi milikku?”


Karin terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ray. Ia membuang napas beratnya dan duduk bersadar. “Entahalah, aku tidak bisa menjamin, Pak. Aku hanya menyarankan agar Bapak jangan terlalu mengejar Farah. Bagiku perempuan dengan keyakinan seperti itu sedikit sulit untuk berpisah dengan suaminya. Walaupun suaminya pernah menyakitinya. Dia terlalu baik untuk dunia yang terkadang kejam ini.”


Karin berkomentar dengan asal. Ia tahu Ray tidak menyukai pendapatnya, tapi bosnya tak pernah menimpali. Baginya, Farah itu perempuan yang sangat baik walaupun banyak serigala yang berkeliaran di dekatnya. Satu hal yang membuat Karin tercengang, Farah bisa memaafkan Ray yang pernah menculik dan mengasarinya beberapa bulan yang lalu. Mungkin jika itu terjadi pada diriya, ia tak akan memaafkan semudah itu.


Mobil mewah itu berhenti di tempat parkir yang semakin malam semakin ramai. Juru parkir yang memakai rompi berwarna kuning menyala berteriak agar orang-orang yang berlalu-lalang sedikit menyingkir agar tidak mengganggu perkerjaannya. Setelah mobil itu mantap berhenti, Ray dan Karin keluar dari kendaraan itu dan segera berbaur dengan pengunjung-pengujung acara pasar malam ini.

__ADS_1


__ADS_2