
Ray mencicipi spaghetti bolognese yang baru saja dibuat, rasanya lezat. Ia melihat juru masak itu sedang memandangin pasta yang dia buat di pan.
“Jika kau lapar, kamu bisa makan spaghetti itu,” ucap Ray.
Ucapan Ray membuyarkan lamunan juru masak itu. Juru masak itu menggeleng. Dia tidak sedang lapar, hanya teringat sesuatu.
“Siapa namamu?” tanya Ray kepada juru masak itu.
“Nama saya Pram,” jawab juru masak itu.
“Berapa umurmu?”
“22 tahun Tuan.”
“Kau tidak berkuliah?” Ray sedikit penasaran mengapa di bagian dapur ada juru masak yang usianya sangat muda.
Pram si juru masak itu tersenyum, ia menggeleng karena ia tidak berkuliah.
“Lalu, bagaimana kau bisa masuk sebagai juru masak di sini?” tanya Ray lagi.
“Saya mengikuti kelas tata boga Tuan, kebetulan sebulan yang lalu dapur ini kekurangan anggotanya, dan saya memberanikan diri untuk mengikuti seleksi sebagai salah satu juru masak di sini Tuan,” jelas Pram.
Untuk pertama kalinya Ray berbincang dengan juru masaknya. Ia sangat jarang sekali berbicara dengan para pelayan kecuali Pak Sudiro. Mungkin percakapan ini sedikit lebih hangat seperti teman.
“Terima kasih atas makanan ini, rasanya enak,” ucap Ray. “Pastikan nanti subuh kau harus sudah berada di dapur ini.”
“Baik Tuan,” balas Pram.
Ray pergi meninggalkan dapur. Ia berjalan menuju kamar tidur, ada jeda waktu untuknya beristirahat. Hari ini ia akan ada meeting dengan perusahaan asing. Ia harus menjaga penampilan dan kebugaran fisiknya.
Ray masih mengingat lengkungan manis milik Farah. Ia ingin sekali gadis itu menjadi miliknya serta menjadi ratu di istana dan hatinya. Ia selalu memimpikan Farah yang selalu menyambut kepulangannya atau bahkan menikmati makan bersama di meja yang sama. Ray selalu memimpikan moment itu.
***
Farah terbangun karena mendengar suara adzan subuh. Ia bergegas untuk sholat dan mandi. Ia sudah menyiapakan segala hal. Hari ini Farah tidak berkerja di kedai, ia akan meminta izin Akmal hari ini juga. Ia memakai gamis berwarna merah maroon senada dengan kerudungnya tidak memakai seragam karyawatinya. Farah juga telah menyiapkan perjalan ini.
__ADS_1
Pukul 05.30, Farah berangkat dari rumahnya, ia sudah mengunci rumahnya. Hari ini ia akan mencari Ilham ke Kota Numa. Namun sebelum ke kota itu Farah harus ke kedai agar ia mengetahui pasti di mana letak kedai baru milik Ilham itu.
Farah berjalan di pagi yang sejuk, saat embun pagi masih bergelayut pada daun-daun. Tanah masih basah sisa hujan tadi malam. Sekitar 10 menit berjalan kaki, Farah sudah sampai di halte dekat gapura perumahannya.
Farah memandang sekitar halte, biasanya ada Ray yang selalu lebih awal datang di halte ini dan menyapanya. Farah mengembuskan nafas beratnya. Ia duduk di halte itu sambil menunggu bus.
Bus koridor 2A yang mengarah ke kedai sudah datang. Sebelum menaiki bus itu, ia sempat melihat ke arah belakang bus, mengharap sesuatu. Tapi logika berkuasa penuh dalam tubuh Farah. Logika itu menyadarkan Farah akan tujuan awalnya, bukan menunggu seseorang tetapi mencari seseorang. Farah memantapkan langkahnya untuk menaiki bus itu. Hanya Farah satu-satunya penumpang yang naik dari halte itu.
Ray melihat Farah yang sudah naik ke dalam bus. Hari ini ia sedikit terlambat karena harus memasak spaghetti untuk Farah. Ray nekat berlari mengejar bus itu. Ia menepuk-nepuk dengan keras bagian belakang bus itu. Pramugari yang melihat aksi Ray meminta sopir bus untuk menghentikan busnya.
Bus berhenti, pintu bus terbuka dan Ray langsung menaiki bus itu. Kali ini ia memakai setelah celana kain, kemeja putih dan berdasi tanpa jas. Ia masuk dari pintu belakang bus. Ia berdiri memegang handle grip yang mengantung di bus. Ray berjalan perlahan menuju Farah yang sedang duduk dekat pintu depan bus.
“Hay ...” sapa Ray yang nafasnya tersengal karena mengejar bus ini.
Farah langsung memandang wajah Ray yang penuh peluh. Ia melihat Ray yang tersenyum.
Para penumpang seketika riuh dengan kehadiran Ray. Mereka seakan tak percaya kalau Ray naik bus ini.
“Itu bukannya pak Rayhan pemilik perusahaan kontruksi terbesar itu?” tanya salah satu penumpang bus.
Ray hanya tersenyum, ia masih berdiri memegang handle grip. Sebentar lagi tempat pemberhentian di halte dekan perguruan tinggi. Farah sudah berdiri bersiap turun.
Bus berhenti dan Farah turun di halte. Ray juga ikut turun. Bus meninggalkan halte itu.
“Maaf aku terlambat hari ini,” ucap Ray sambil mengusap keringat yang keluar.
Farah tidak menjawab, ia harus sudah menuju pinggir halte, Farah harus segara menuju kedai.
“Tunggu!” seru Ray.
Farah menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ray seakan berkata, ada apa?
“Aku sudah membuatkanmu sarapan. Semoga kamu suka.” Ray menyerahkan tas kecil yang berisi bekal makan beserta air mineral dalam botol.
Farah masih terdiam. Ia ragu untuk mengambil tas kecil yang dibawa Ray.
__ADS_1
Mobil mewah Ray sudah berada di halte tempat mereka berdiri. Hari ini Ray ada agenda meeting pagi. Tapi ia harus menyempatkan untuk membawakan masakannya untuk Farah.
Kaca mobil terbuka terlihat sopir yang yang muncul. “Maaf, Tuan Ray harus bergegas menuju kantor. Ada meeting penting pagi ini dengan klien asing,” ucap sopir itu dengan sopan.
“Bawa tas ini.” Ray memaksa Farah, “Aku akan datang lagi nanti siang untuk mengganti waktu pagi ini. Aku harus segera pergi,” ujar Ray.
Farah menerima tas kecil itu. Ray tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil, “Ingat nanti siang kita akan bertemu,” kata Ray sebelum mobil mewah itu melaju.
Farah tidak menjawab. Ia hanya melihat mobil Ray sudah melaju dan hilang di persimpangan. Farah mengembuskan nafas panjangnya. Ia sedikit menangis. Farah merasa telah memberi kesempatan kepada Ray yang seharusnya itu tidak boleh terjadi. Bagaimana jika suaminya tahu jika selama ini Ia diikuti oleh lelaki lain.
Ray harus tahu yang sebenarnya.
***
Hari ini Ray sangat berbahagia. Sebelum ia memasuki kantornya, Ray menghubungi Pak Sudiro agar menyiapkan sesuatu.
“Siapkan makan siang yang istimewa hari ini.” Ray membuka percakapannya.
“Baik Tuan, saya akan pesankan restoran paling mewah hanya untuk Tuan,” balas Pak Sudiro di seberang sana.
“Tidak, buat saja suasana makan siang di taman rumah. Tidak perlu booking restoran. Buat suasana sesederhana mungkin tapi indah. Untuk menu, pilih menu kesukaanku.”
“Baik Tuan Ray.”
Ray mengakhiri percakapannya. Makan siang akan menjadi pengganti waktu pagi yang tadi. Ray harus segera menyelesaikan pekerjaannya.
***
Ini adalah hari keempat Ilham mencari keberadaan Anneline di Kota Zen. Hati Ilham selalu menguatkan tentang logika yang buruk. Hati Ilham harus bisa menepis asusmi-asumsi yang muncul pada logikanya.
Logika Ilham selalu berbisik tentang kemustahilan untuk menemukan Ann, bahkan logika Ilham berani berteriak bahwa sudah ada sosok perempuan yang siap berpetualang di masa depan yaitu Farah.
Telinga Ilham penuh sesak dengan asumsi-asumsi logikanya. Tapi Ilham selalu berpihak pada hati yang sudah berselimut ego. Ia selalu mengatakan bahwa Anneline adalah perempuan istimewa yang pernah singgah di ruang kehidupan Ilham.
Tapi logika Ilham memiliki argumen yang tidak kalah kuat. Logika Ilham bilang bahwa perempuan yang meninggalkan Ilham tanpa alasan selama enam tahun ini dan apakah perasaannya masih sama? Atau bisa saja perempuan yang selama ini Ilham cari sudah menikah.
__ADS_1
Tiba-tiba Ilham merasa logikanya sedikit lebih kuat dari ego yang ia yakini saat ini. Tetap saja Ilham mengikuti ego untuk menemukan Anneline.