Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 171


__ADS_3

Episode 171: Rencana Double Date


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa.


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa


Selamat Berimajinasi


____________


Malam ini terasa sangat menyakitkan bagi Ilham. Ia menyadari kesalahannya yang begitu fatal. Tak hanya itu, ia menyesali perbuatannya tadi siang. Bahkan sampai saat ini Farah tak keluar dari kamarnya sama sekali, membuat Ilham makin bersalah.


“Sepertinya aku harus meminta maaf. Aku sudah memecahkan vas dan juga hatinya.” Ilham berusaha mengetuk pintu kamar Farah. Ia berharap agar istriya masih bersedia “ditemani” untuk tidur.


“Apakah aku boleh masuk?” Ilham mengetuk pintu pelan sekali. Ia mencoba membuka pintu, masih terkunci. Ia mengetuk pintu itu lagi dan “klik” pintu terbuka. Ilham mencoba masuk ke dalam dan ia melihat Farah yang kembali terbaring di ranjang.


Ilham menutup pintu dan berjalan menuju ranjang. Tetap saja Farah diam tidak berbicara. Ia malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Ilham duduk di pinggiran ranjang. Ia bingung harus mulai dari mana untuk berbicara di satu sisi Farah tidur dengan posisi yang membelakanginya. Bagi Ilham kemarahan dengan cara diam malah lebih menusuk ketimbang percekcokan. Diam bisa diartikan apapun selain marah dan kecewa, mungkin sedih termasuk di dalamnya.


“Maaf ...,” ucap Ilham yang telah menggema di sluruh sudut kamar.


Farah bergeming di tempatnya. Ia mendengar suara suaminya tapi ia menahan agar tidak menangis lagi apalagi harus membalasnya dengan kemarahan walaupun sekarang hatinya sakit.


Ilham menoleh. Tak ada reaksi dari sang istri. Ruangan ini masih penuh dengan kebisuan yang menusuk di setiap dinding. “Aku tahu jika aku bersalah hari ini. Aku marah tanpa memberimu waktu untuk bercerita hal sebenarnya. Aku juga memecahkan vas kesayangamu.”

__ADS_1


Farah mendengar penuturan Ilham. Ia masih memilih diam tak berselera untuk menimpali. Bahkan untuk menangis lagi serasa sulit karena air matanya sudah terkuras sore tadi.


“Aku minta maaf dari lubuk hatiku terdalam. Aku menyadai, tak seharusnya aku membentakmu,” ucapan Ilham kian lembut. Tetap saja Farah tidak merespon. Ia mendengar permintaan maaf itu, tapi ia tak mau menjawab. Baginya, Ilham telah membuatnya sedikit tidak nyaman.


Ilham mengembuskan napas beratnya. Istrinya tak kunjung menoleh ataupun berbicara. Ia merasa malah lebih bersalah dibanding siang tadi. “Jika disuruh memilih antara diam atau bertengkar, aku akan memilih yang kedua. Aku lebih suka kita bertengkar dengan suara dibanding diam seperti ini. Seperti orang lain yang tinggal dalam satu rumah. Aku tak mau itu, aku ingin kamu bersuara walaupun itu hanya teriakan.”


Dinding ego Farah runtuh. Ia juga merasa panas mendengar satire halus dari suaminya. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar. “Bukankah Mas yang membuat kondisi seperti ini?”


“Ya ... aku mengakuinya dan sekarang aku meminta maaf karena itu,” jawab Ilham.


Tiba-tiba Farah terpikirkan sesuatu. Ia bisa menggunkan kondisi ini untuk sebuah kesempatan keduan. “Mas tahu, kan? Harga sebuah permintaan maaf terkadang tidak mudah.”


Ilham mengangguk. “Aku tahu ... apakah kamu punya keinginan? Jika iya, katakan. Insyaa Allah aku bisa memenuhinya.”


Farah tersenyum tipis. Hati suaminya sudah melunak karena merasa bersalah. “Aku punya satu permintaan, tapi Mas harus berjanji untuk tidak marah lagi.”


Ilham menggangguk. “Apapun akan aku penuhi dan aku berjanji tidak akan marah lagi.”


Ilham tercengang. Alisnya terlipat demi mendengar nama Ray. Ia ingin marah, tapi dirinya sudah berjanji agar tidak marah lagi. Haruskan ada pertengkaran lagi?


“Kenapa permintaanmu seperti itu? Apakah tidak ada permintaan lain? Mengapa harus Ray?”


Terlihat sekali Ilham menahan amarahnya (lagi). Ia tidak ingin kehidupan rumah tangganya makin keruh karena mempertahankan ego masing-masing. Cukup dari siang hingga sore, Farah mendiamkannya. Ia tak mau acara untuk “mendiamkan suami” berlanjut ke season kedua.


“Bukankah Mas dan Ray adalah sahabat sejak jaman sekolah? Aku tahu jika Ray sering mengunjungin cafe milik Mas. Lalu apakah dendam masih mengambil alih hati?” Farah menjawab secepat yang ia bisa dan tidak memberikan jeda untuk Ilham memotong ucapannya.


Ilham membuang pandangannya. Ia masih mengingat beberapa bulan yang lalu, ketika istrinya berlari di jalan saat hujan deras. Ia tahu semua itu karena Ray!


“Apakah kamu menyukai Ray? Sampai-sampai kamu harus memperjuangkan hal ini?”


Farah menggeleng. Ia tidak sedang menyukai ataupun memperjuangkan pria itu. “Aku hanya ingin memberikan kesempatan pada orang yang mau berubah. Lagipula, aku sudah memaafkannya. Ray juga sudah berubah, ditambah dia sudah memiliki kekasih bernama Sasmita. Lalu apa yang harus dikhawatirkan?”

__ADS_1


Ilham menimang ucapan Farah. Memang akhir-akhir ini Ray sangat jarang terlihat. Setelah pertarungan beberapa bulan yang lalu, saat di taman rumah sakit itulah Ilham melihat Ray secara langsung. Dia banyak berubah.


“Bagaimana jika dia bisa berbuat jahat seperti dulu? Tak ada yang tahu, kan?”


Farah memutar bola matanya. “Kejadian yang lalu itu buah dari ketidaktahuan dia karena kita sudah menikah, Mas. Bukankah pernikahan kita hanya dihadiri oleh sanak keluarga saja? Kamu tidak mengundang Ray apalagi Kak Akmal yang notabene adalah orang terdekatmu, walaupun dalam dunia bisnis. Lalu apakah Ray bisa disalahkan sepernuhnya? Aku rasa tidak.”


Ilham diam-diam menelaah semua serentetan kejadian yang terjadi di kehidupan satu tahun pernikahannya. Memang benar ia yang mengusulkan pernikahann secara tertutup karena ia merasa berat hati menerima perjodohan saat itu. Kini, semua telah berubah. Hati manusia dapat berubah dengan cepat walaupun ada beberapa bagian yang tidak berubah.


“Bagaimana caramu memaafkan orang yang telah menyakitimu seperti Ray? Kamu hampir saja diculik dan bahkan dibawa paksa di tengah hujan deras!” Ilham masih memperdebatkan hal ini agar Farah sadar jika manusia seperti Ray, akan tetap terlihat jahat walaupun sudah memakai topeng yang terbaik.


“Karena Ray mau berubah. Bukankah, Mas mengajarkan agar kita selalu memberikan dukungan bahkan kesempatan kedua untuk orang-orang yang ingin berubah menjadi baik? Kak Sasmita, perempua yang menjadi kekasih Ray cukup memberi bukti jika Ray ingin berubah. Katanya mereka akan segera menikah. Lalu apalagi yang masih Mas cemaskan?” Farah berbalik memberikan pertanyaan kepada suaminya.


Instingku mengatakan akan ada bencana buruk ketika Ray masih ada di antara kita, Farah. “Apa yang kamu inginkan agar aku memberikan maaf pada manusia itu?”


“Aku ingin kita, Ray dan Kak Sasmita double date saat pembukaan event besok malam. Bagaimana? Aku juga ingin menyegarkan pikirkanku sehabis ujian tadi.” Akhirnya Farah menyuarakan keinginannya. Ia yakin jika suaminya akan menerima permintaan ini.


“Double Date? Apakah kamu yakin? Dengan Ray!” Ilham mengeluh. “Bagaimana jika Double date-nya bersama Akmal dan istrinya, kita bisa mengajak Argian kecil, lho ....” Ilham menawar kepada Farah. Ia tak sudi jika harus “kencan ganda” dengan Ray.


Farah memberengut. Ia melipatkan tangannya di dada. “Katanya minta apapun boleh, ini permintaanku yang sederhana, lho ....” Ia berbicara dengan nada yang sama perisis dengan Ilham.


Ilham terdiam. Ia merasa dijebak oleh kelicikan Farah. Ia lupa jika istri mungilnya ini pandai sekali memainkan kata-kata.


Farah menunggu jawaban dari suaminya. Tinggal bilang ‘iya’ apa susahnya sih!


“Mas diam berarti jawabannya adalah iya! Dan jawaban ini tidak bisa diganggu gugat!” Seru Farah mendahului jawaban yang tak kunjung diucapkan Ilham.


“Heemm ... baiklah. Aku harap dia harus membawa kekasihnya.” Ilham sudah memutuskan. Ia memilih menerima hal ini daripada membuat Farah terus diam tanpa suara. Percayalah, jika perempuan diam bisa-bisa semua jadi sengsara. Misalnya saja, sore ini dia enggan membuatkan kopi yang biasanya sudah teronggok manis di meja. Hal kecil, tapi sangat penting.


“Wah! Itu baru namanya Mas Ilham yang kukenal!” Farah langsung memeluk suaminya dengan perasaan bahagia.


Ilham hanya tersenyum. Apa boleh buat, daripada kamu terus marah dengan diam.

__ADS_1


__ADS_2