
Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
“Kita bertemu kembali Anneline ...,” ucap pria memakai tuxedo warna biru gelap.
“Panggil aku dengan sebutan Nyonya!” seru perempuan itu, ia juga tengah mencari benda yang berada disekitaran kaki tertutup oleh gaunnya.
Mengapa benda itu tidak ada?!
Raut wajah Nyonya Fernando berubah menjadi panik. Ia panik bukan karena ketakutan, tapi benda andalannya telah hilang. Ia masih ingat bawah benda itu sudah melekat di paha kiri dan tidak mungkin jatuh karena karet yang melekat tidak mungkin melonggar dengan cepat.
“Apakah kau sedang mencari senjatamu?” pria itu menunjukan sebuah pistol milik Nyonya Fernando.
Nyonya Fernando terbelalak melihat senjata apinya telah berpindah tangan. “Kembalikan Ray!”
“Akan aku kembalikan, tapi aku ingin meminta satu hal darimu. Aku merindukanmu dan aku ingin kita berbincang sebentar, kau bisa memenuhi permintaanku ‘kan Anne?” Ray tersenyum licik. Ia sudah mengetahui bahwa dalam pesta ini ada seseorang dari masa lalu hadir di hadapannya. Ia telah mengintai lama gerak-gerik Anneline.
“Nyonya Besar tidak suka diancam apalagi harus memilih apa yang menjadi miliknya.” Suara Anneline berubah menjadi nada amarah. Ia tidak suka ada orang dari masa lalunya muncul seperti ini. Hasrat ingin meghabisi pria yang berada di hadapanya bermunculan saling menggebu.
“Wah ... ternyata kau sudah menikah Anne, aku pikir kau akan setia dengan pangeran es-mu.” Ray tetawa seolah mengejek.
“Kembalikan pistolku atau kau akan mati!” Anneline berbicara penuh tekanan yang mengancam.
Ray menyembunyikan pistol milik Anneline ke saku celananya. “Sepertinya kita harus bicara, jangan risaukan suamimu. Ikut aku,” ucap Ray, ia juga menyeret kedua tangan Anneline agar mau mengikuti kemauannya.
__ADS_1
“Lepaskan aku Ray!” Anneline berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pria yang bernama Ray. Rambutnya yang tergulung indah seketika tergerai karena pergerakannya melawan pria bertuxedo biru gelap.
Ray masih menyeret Anneline tak peduli seberapa ia memberontak. Ia berjalan menuju koridor yang sebelumnya sudah ditempati Anneline untuk merokok. Lorong hotel sedang sepi, ia bisa melancarkan aksinya.
“Kita akan merayakan reuni pertemuan kita Anne.” Ray mendekatkan bibirnya dan membisikkan kalimat itu di dekat telinga kiri Anneline. Kini Ray telah melepaskan cengkeramannya terhadap perempuan itu. Ia menatap dengan mata penuh makna yang bisa diartikan apapun.
“Mengapa kau mengajakku untuk bertemu kembali? Bukankah aku tidak ada urusan denganmu, Rayhan.”
Ray tersenyum, ia menampilkan wajahnya yang manis. “Apakah kau tidak ingin bertanya tentang kabarku selama ini? Atau minimal berbasa-basi sedikit saja?”
Anneline menatap pria bertuxedo biru gelap itu dengan tatapan dingin. Ia paling malas jika harus berurusan dengan hal yang tidak penting di hidupnya. Jika diperbolehkan, ia ingin segera menarik pelatuk pistolnya agar mulut Ray sempurna terbungkam.
“Apakah kau tidak merindukanku Anne? Merindukan persahabatan kita? Kau, aku dan Ilham?” Ray mencoba mengeruk sisa-sisa kenangannya beberapa tahun yang lalu.
“Aku sudah melupakan itu semua,” jawab Anneline dingin. Ucapan yang keluar dari bibirnya sudah beberbeda dengan hati yang masih teguh menyimpan pertanyaan ‘di mana keberadaan Ilham selama ini’.
“Sudah lupa ya ... kalau begitu ceritakan kau menikah dengan siapa? Aku perhatikan sedari tadi kau duduk bersama salah satu dari Fernando bersaudara, apakah kau istri dari Yori?” tanya Ray. Sangat terlihat jelas bahwa ia hampir mengenal seluruh pemilik dan Ceo perusahaan lain yang hadir di pesta itu.
Anneline menatap Ray tajam walaupun hanya sekilah lalu membuang pandangnnya. Ini yang ditakutkan jika menghadiri pesta dengan kawan-kawan Fernando. Ia juga mengetahui kalau pesta ini bukan hanya sekedar pesta, melainkan permainan licik beberapa perusahaan tertentu.
Mata Ray membulat, dugaan bahwa Anneline menikah dengan Narest terbantahkan. “Oh, ternyata kau menikah dengan Tuan Berkursi Roda itu?”
Anneline sedikit memicingkan matanya. Ia masih tidak paham dengan sebutan yang baru saja Ray katakan. Raut wajahnya menginginkan jawaban atas kalimat yang baru saja diucapkan oleh pria yang berada di hadapannya itu.
“Iya, Tuan Berkursi Roda ... sebutan untuk salah satu Fernando bersaudara. Meskipun dia cacat tapi otaknya sangat jenius.” Ray menunjukk kepalanya dengan jari telujuk. “Kau beruntung diperistri oleh Nando,” lanjutnya.
Ucapan Ray bukanlah kata yang menyenangkan, melainkan cara untuk mengejek. Bagi Anneline, ini hal yang sangat memalukan. Semua orang pasti berpikir bahwa dia adalah istrinya Naresh. Namun kenyataan ia menikah dengan adiknya, Tuan Muda yang lemah. Tak jarang ada yang bilang bahwa dirinya sudah buta karena menikah dengan Fernando.
Anneline mencari bungkus rokok dan mengambilnya satu batang. Ia ingin menghisap nikotin itu lagi. Tanpa perlu malu-malu di depan Ray, ia menyalakan rokok itu. Menyesapnya dengan penuh keanggunan dan mengeluarkan asapnya dari bibir indahnya. “Apakah perbincangan kita masih lama? Aku sudah bosan mendengar celotehanmu.”
“Hahhah, kau banyak berubah Anne,” ujar Ray, “tak seharusnya kau merokok, Nyonya.” Ray mengambil paksa rokok yang diisap oleh Anneline dan mematakannya menjadi dua bagian, lalu membuangnya.
Anneline bergeming walaupun ia kesal, kenikmatan nikotinnya diambil begitu saja oleh Ray. “Tidak usah mencampuri kehidupanku.”
“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu. Beberapa waktu yang lalu, Ilham mencarimu di Kota Zen.”
__ADS_1
Seperti tersambar petir yang kilatannya menyilaukan. Anneline tidak menyangka jika Ilham mencarinya sampai di kota ini. “Kau pasti bercanda.” Anneline mencoba menutupi perasaannya dengan kecurigaan.
“Aku tidak sedang bercanda, aku berbicara apa adanya. Karena ... aku yang memberitahu bahwa kau berada di kota ini. Dia juga yang mengajakku untuk mencarimu, tapi aku menolak.” Ray menjelaskan.
“Aku tahu kau menolak karena kamu telah jatuh hati padaku dan mungkin masih terbawa hingga sekarang.” Anneline tersenyum licik.
“Kau salah besar, aku malah sudah membuangmu jauh-jauh. Rasa itu sudah lama pudar dan sudah tidak terbentuk lagi.” Ray mengembuskan napas beratnya dan tersenyum, matanya tertutup mengingat betapa mudahnya ia jatuh cinta lagi dan berakhir dengan patah hati untuk kedua kalinya.
“Ada wanita lain yang menarik perhatianmu?”
“Iya, dia adalah perempuan yang senyumnya seperti bunga yang merekah. Ketika sedih awan mendung selalu mengiringi kemanapun dia pergi.”
Anneline merasa bahwa perempuan yang diceritakan oleh Ray adalah perempuan yang bisa meredam keegoisannya. Terbukti gelagat Ray yang sangat senang sekali mengingat perempuan itu. “Mengapa tidak bersamamu saat ini? Maksudku mengapa tidak mengajaknya kemari?”
Ray memandang lekat sepasang mata Anneline. “Perempuan itu milik Ilham. Dia adalah istri dari lelaki es yang sering kau ceritakan dulu.”
“Kau pasti sedang mabuk hingga pembicaraanmu sedikit melantur.” Anneline mencoba menepis bahwa Ilham sudah menikah.
Ray menggeleng, tanda ia tidak sedang berbohong. “Ilham sudah menikah dengan perempuan yang aku cintai. Lebih tepatnya aku mencintai istrinya.”
Bagai anak panah yang melesat langsung ke jantung. Membuatnya berhenti mengalirkan darah dan oksigen untuk merasakan kesakitan. Anneline merasa dadanya nyeri, lebih sakit dari biasanya. Napasnya seolah terhambaht oleh sesuatu yang susah dijelaskan. Ia telah dihantam oleh kenyaatan yang sangat menikam tepat di ulu hatinya. Api gemeletuk menyalakan amarah dan dendam tanpa pemantik yang jelas. Anneline merasakan hawa panas yang masuk ke dalam pikirannya yang terkutuk untuk segera membinasakan perempuan itu.
“Anne, apakah kau sedang marah saat ini?”
_________
Novel Rekomendasi saat menunggu Perempuan Pilihanku update :
He is Beautiful ‖ Misteri Mayat di Sekolah — Author Yns Pramucipta
Diary Cookies ‖ Byeol — Author Ayu Rizky
Labuhan Cinta Sang Cassanova ‖ Promise — Author Light Queen
Selaput Daraku ‖ Bukan Pelakor — Author Thamie AK
__ADS_1
The Last Whiteblood ‖ The Auros — Author Haristataqi Jaman