Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 105


__ADS_3


Pagi di Kota Zen ....


Kinanti membuka kelambu di kamarnya yang baru ia tempati. Sinar mentari menyorot seisi kamar membuat penerangan. Sekarang gadis itu sedang merias wajahnya dan ia mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai pendamping sang nyonya besar. Kinanti termasuk orang yang beruntung karena ia lulus saat ujian perkenalan itu. Kemudian ia di tempatkan di mess khusus maid perempuan dengan aturan satu kamar untuk satu orang. Di mess itu ia telah berkenalan dengan perempuan paruh baya yang sering dipanggil dengan sebutan Bibi Saka.


Bibi Saka adalah seorang maid yang dipercaya untuk mencuci semua pakaian keluarga Fernando. Untuk pakaian yang bukan dari keluarga besar itu, sudah ada pertugas lainnya. Walaupun di usia yang tidak muda, ia tetap mengabdikan diri untuk keluarga ini.


Kinanti telah selesai berdandan. Ia juga sudah sarapan dengan semangkuk sup merah yang berisi sayuran, bola bakso, dan sosis dengan kuah merah yang segar. Sup merah ini diberikan khusus untuk para maid sebelum mengawali aktifitasnya. Sekarang ia bersiap-siap untuk keluar dari kamar. Saat ia membuka pintu seketika ia dikagetkan dengan kemunculan seorang pria yang memakai setelan jas berwarna hitam dan Kinanti sangat mengenal sosok itu.


“Selamat pagi!” sapaan dengan penuh antusias hingga membuat jantung Kinanti hampir meloncat keluar saat ia membuka pintu untuk pertama kali.


“Kak Naresh! Kau mengangetkanku!” Kinanti yang terkejut lalu memasan mengerucutkan bibirnya tanda ia sebal.


“Oke, akan aku ulangi.” Wajah Naresh semakin mendekat dengan wajah Kinanti membuat matanya melebar dan bibir ternganga.


“Selamat pagi,” ucap Naresh dengan suara yang sangat lembut dan wajah yang berseri memamerkan lengkukan bibir yang sangat manis. Ia juga mengelus puncak kepala Kinanti


Tindakan yang dilakukan oleh pria itu membuat jantung Kinanti berirama sangat cepat. Pipinya sudah berubah semu kemerahan. Naresh lebih mendekatkan wajahnya, ia ingin mengecup lagi pipi Kinanti yang sedang merona merah. Tiba-tiba, Kinanti menjauhkan wajahnya. Ia tidak ingin kejadian kemarin berulang lagi, ditambah ini adalah mess para maid. Bisa-bisa ia menjadi bahan untuk permbincangan di belakang jika ada yang melihat momen yang indah ini.


“Maaf ....” Naresh sadar dan segera menjauhkan wajahnya. Hampir saja ia melepaskan keinginan yang memalukan itu. Kali ini tindakannya sedikit di luar kebiasaannya.


Kinanti terdiam, Naresh juga terdiam. Kecanggungan hadir diantara mereka, kebungkaman membuncah menguar di sekeliling tempat itu. Kinanti sedang mencari topik agar kerenggangan rasa canggung ini menghilang.


“Ada apa Kakak kemari? Bukankan ini mess untuk para maid perempuan dan tidak diperkenankan laki-laki untuk memasuki tempat ini?” Kinanti menyelidik. Itu peraturan yang ia dengan semalam dari para maid lainnya.

__ADS_1


Naresh berdeham, ia sedikit tertawa dengan pernyataan yang baru saja diucapkan oleh gadis ayu dengan rambut yang dikuncir kuda. “Peraturan itu memang benar, tapi diperuntukan untuk para maid laki-laki yang tidak punya hubungan dengan para maid perempuan. Perlu diingat, aku bukan golongan dari maid.”


Kinanti merasa bahwa Naresh sedikit besar kepala. Dia baru saja mengatakan bahwa ia bukan dari golongan maid.


Lantas dia ada di golongan mana?


Seorang perempuan paruh baya dengan rambut yang sudah mulai beruban, namun tetap nampak cantik melihat dua muda-mudi yang berdiri di bingkai pintu kamar gadis yang baru semalam tinggal di mess ini. Ia sangat mengenal pria yang bersama gadis itu.


“Ada apa Nak Yori berada di mess maid perempuan?” tanya perempuan paruh baya itu.


“Ahh! Ada Bibi Saka rupanya. Selamat pagi Bi Saka,” sapa Naresh dengan senyum ramahnya.


Sementara Kinanti tertunduk, ia sedikit malu karena tepergok bersama Naresh di depan pintu kamarnya. Ia takut di hari pertamanya bekerja sudah membuat kesalahan karena melanggar peraturan. Perempuan paruh baya yang bernama Bibi Saka itu mendekati Kinanti dan Naresh.


“Apakah kau belum makan, Nak Yori? Menu pagi ini ada sup merah yang sangat lezat.” Bibi Saka tersenyum.


“Aku sudah mengisi perutku, Bi.” Naresh tersenyum lebar menampilkan deret giginya hang terawat rapi.


“Lalu mengapa kamu kemari?” Bibi Saka memandang ke arah Kinanti. “Jangan-jangan Kinan ini kekasihnya Yori?” tanya Bibi Saka.


“Tidak! Kami bukan sepasang kekasih!” Kinanti menyanggah pernyataan yang terlontar oleh perempuan paruh baya ini.


Naresh hanya tersenyum, ia tidak mengiyakan tidak pula menyanggah seperti gadis dengan rambut yang berkuncir kuda.


“Sepertinya kau harus berusaha lebih keras lagi, Nak Yori dan kita akhiri dulu perbincangan pagi ini. Semua tugas telah menanti, aku permisi.” Perempuan paruh baya yang rambutnya sudah mulai beruban itu pergi meninggalkan Naresh dan Kinanti. Sekarang tinggalah mereka yang masih teronggok di ambang pintu.

__ADS_1


“Apa tujuan Kak Naresh datang kemari?” tanya Kinanti.


Naresh tersadar, tujuannya datang kemari yaitu membawa Kinanti menemui Tuan Rumah. Tanpa aba-aba, ia menarik tangan Kinanti. “Ikut aku!”


Kinanti yang belum siap, hanya menuruti kemana tangan pria ini membawanya. Sama seperti yang gadis itu rasakan, Naresh merasa ada yang sangat menggebu-gebu yang berteriak lantang memenuhi kepalanya. Ia sadar sekali saat ingin mencium gadis itu, ada emosi yang mendorongnya. Hasrat untuk memiliki sekaligus melindungi. Selama hampir tiga puluh tahun, baru kali ini ia merasakan hal semacam ini.


Akhirnya setelah sedikit berlari melewati taman yang luas, mereka kemudian sampai di gazebo yang sangat mewah dengan pilar yang menjulang tinggi di dekat kolam dangkal yang dipenuhi oleh bunga Seroja. Gazebo itu termasuk tempat yang paling disukai untuk acara perjamuan teh.


Kinanti tertegun melihat sesosok pria yang sangat tampan sedang menyantap hidangan paginya. Dia dikelilingi oleh para maid yang siap jika diminta menyajikan hidangan lagi. Telihat sekali dia memasukan makanan ke mulutnya dengan sangat lembut, tapi ia sama sekali tidak menikmatinya. Kinanti juga meilihat meja yang berada di hadapannya kosong, padahal sudah disediakan set alat makan.


Naresh menariknya agar mendekati gazebo, ia ingin memperkenalkan Kinanti kepada sang Tuan Besar. “Selamat pagi, Tuan Fernando.”


Orang yang di panggil dengan nama Fernando tidak menghabiskan makanannya, mungkin sudah selesai. Lalu ia menekan tombol yang berada di kursinya dan seperti benda bergerak, kursi itu memutar agar sang pemilik bisa menjawab lawan bicaranya.


Mata Kinanti melebar, seolah tanda tidak percaya bahwa lelaki yang terduduk di kursi khusus seperti kursi roda yang modern adalah Tuan Fernando.


Dia masih muda, tampan dan ... lelaki itu cacat?


____________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya 😁... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😉


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2