
Episode 201: Dua Foto yang Menggemparkan
Farah tertegun mendengar nama suaminya disebut. “Kak Anneline kenal dengan ....”
“Iya aku kenal dengan suamimu. Tapi, dia adalah kekasihku.” Anneline memotong ucapan Farah dengan nada santainya. Seperti tidak ada beban yang menggelayut. Ia memang harus memberitahukan kebenaran ini walaupun menyakitkan.
Farah cukup terguncang dengan hal ini. Hatinya mendadak sakit. Sejak kapan suaminya memiliki kekasih lain.
Seakan bisa membaca ekspresi yang dirasakan Farah, ia ingin membumbui sedikit rasa sakitnya. “Jangan salah paham. Aku sudah berhubungan dengan Ilham jauh sebelum dia mengenalmu.” Anneline menngambil dua foto lawas berukuran kecil yang selalu terselip di dompetnya. Ia menyerahkan dua foto lawas itu kepada Farah.
Dengan perasaan campur aduk dan tangan yang gematar, ia menatap dua foto lawas itu. Dalam foto pertama terlihat suaminya yang masih mengenakan seragam SMA yang merangkul seorang gadis berhijab yang tak lain adalah Anneline. Di foto kedua masih sama, bedanya berlatar belakang di pantai. Ilham berpose melompat bersama Anneline. Dada Farah begitu sesak melihat kedua foto lawas itu. Ia ingin menangis, tapi sekuat mungkin harus ditahan.
“Aku rasa ....” Suara Farah mulai parau karena mempertahankan untuk menyembunyikan tangisnya. “Aku rasa semuanya telah berubah. Kak Anneline sudah menikah, begitupula dengan Mas Ilham. Beliau adalah suamiku. Hubungan itu telah terhapus waktu.”
Anneline cukup terkejut dengan ketabahan perempuan yang akan menjadi madunya. “Benarkah? Umur pernikahan kalian baru setahun. Aku yakin dalam dua belas bulan itu ada masa di mana Ilham tak ingin menyentuhmu. Penyebabnya karena Ilham masih mencintaiku.” Ia tersenyum begitu bahagia seakan menari di atas penderitaan Farah.
Farah menguatkan hatinya. Ia masih memegang teguh jika suaminya sudah berubah. Ilham mencintainya, begitupula sebaliknya. Tapi kepalanya sudah dipenuhi kenangan pahit masa-masa awal setelah pernikahannya. Tiga bulan, Farah harus berusaha menyakinkan suaminya jika dia adalah istri yang pantas mengisi relung hatinya.
“Oh ya! Ada yang ingin aku beritahu tentang Ilham yang menghilang selama lima hari.”
Ucapan Anneline membuat Farah menatapnya lekat. Anneline begitu beruntung bisa mempermainkan perasaan dan suasana hati perempuan itu.
__ADS_1
Lima hari? Di mana aku seperti kehilangan sebagian hidupku. Kemurungan sepanjang hari dan air mata yang terus menetes.
“Mas Ilham pergi untuk bisnisnya.”
Seketika tawa Anneline pecah. Benar dugaanya, Farah terlalu polos untuk hal seperti ini. Dia bahkan tidak tahu apa yang dilakukan suaminya di Kota Zen.
Farah merasa nada penghinaan dalam tawa yang menguar di seluruh sudut ruangan. Perasaan gelisah itu mencuat dalam frekuensi yang lebih banyak. Ia memiliki ketakutan tersendiri. Ingin sekali rasanya menelepon suaminya agar bisa menjelaskan itu semua.
“Kau tau, Farah. Fakta yang sebenarnya, Ilham tidak ada bisnis di sana! Dia mencari keberadaanku.” Anneline tertawa lagi. Ia mengeluarkan kotak kado yang berisi pisau di meja.
Farah menggeleng. “Maaf, tapi semua itu tidak benar. Aku percaya pada suamiku!”
Anneline merasa girang hati. Begitu mudahnya menggoyahkan perasaan Farah. “Percaya pada lelaki yang sering menyembunyikan kebenaran dari istrinya pantaskah disebut suami? Mengapa kau tidak memilih Ray saja? Dia lelaki yang tulus mencintaimu. Tak peduli dengan statusmu, bahwa sangat menggilaimu. Kurang apa? Dia juga kaya, semua kebutuhanmu bisa tercukupi olehnya.”
Pertahanan Farah mulai runtuh. Ia harus mengusir tamunya ini sebelum semuanya terasa amat pedih. Sekarang ia tahu alasan kenapa Anneline datang ke rumah ini tanpa ditemani siapapun.
Anneline menatap tajam. Beraninya kau mengusirku!
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu sebelum aku pergi.”
****
__ADS_1
Kinanti berlari menuju rumah penginapan. Ia beberapa kali mengetuk pintu, berharap Anneline segera membukannya. Sekian lama menunggu, seorang karyawan mengatakan bahwa pemilik penginapa ini keluar sejak tadi sore. Hal itu membuat Kinanti terkejut.
“Pergi kemana nyonya besar itu!” Ia meruntuki dirinya sendiri yang lalai. Beberapa kali ia memukul kepalanya pelan untuk memberi pelajaran kepada otakknya yang terlalu pelupa. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari dan tak henti-hentinya menelepon nomor Anneline. Tak sampai di situ, pesan-pesan singkat terkirim tanpa pernah dibaca. Kinanti merasa gemas sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia sudah mengharapkan jika itu panggilan telepon dari Anneline. Ia buru-buru menjawabnya tanpa melihat siapa yang memanggil.
“Kamu sekarang ada di mana?”
________________________
Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!
Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!
Terima kasih telah membaca kisah ini.
Salam Hangat,
Ilamy Harsa
__ADS_1
Follow aja dulu. Nanti bisa aja dapet notif novel baru dari aku🤣🤣🤣