Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 115


__ADS_3

Selamat berimajinasi


_________


Naresh menggengam tangan Kinanti dengan hangat. “Kau tak perlu menggapai bintang di langit. Cukup menjadi seperti bintang yang mampu berkilau dipekatnya malam.”


Dua anak manuasia itu terkurung dalam ruang yang diciptakan oleh semesta. Ruang yang seakan waktu berhenti di dalamnya, tentang saling bertukar cerita maupun melempar doa. Mereka memohon agar dunia tak lekas bangun, karena rasa ini degupannya makin syahdu. Apakah ini bisa disebut takdir manis? Entahlah. Hanya Naresh dan Kinanti yang tahu.


Mereka berbincang tentang diri mereka masing-masing, mengenalkan diri mereka kepada lawan bicaranya. Diselingi tawa dan canda menguar penuh keasyikan. Naresh yang terkadang membelai lembut rambut Kinanti dalam sela ceritanya, hingga ia menyadari bahwa gadis itu sudah tertidur mendengar dongeng rubah putih yang ia pinjam dari cerita ibundanya dulu.


Naresh tersenyum menatap lekat wajah ayu gadis itu. Hari ini Semesta mengizinkan hatinya tertaut pada pelabuhan yang tepat, pada gadis mungil dari kawasan kumuh. Malam semakit larut dalam kepekatan, angin malam berubah haluan menjadi embusan sedingin es. Naresh dengan hati-hati menggendong tubuh Kinanti dan membawanya ke dalam rumah.


Ia meletakkan tubuh Kinanti di kamar yang sebelumnya tidak pernah ia pakai. Ia juga melepaskan sepasaang sepatu yang membungkus kaki kecil gadis itu. Malam ini ia tidak ingin menuruti nafsu. Perasaan ini murni karena kasih yang tulus.


“Izinkan aku menjadi tempatmu untuk muara segala bahagia maupun keluh kesahmu. Jangan lari, dan jangan pula pergi.” Naresh menyelimuti tubuh Kinanti, tak lupa usapan lembut di rambut gadis itu. Ia membiarkan Kinanti untuk tidur di sini sedangkan dirinya tidur di kamar miliknya sendiri yang berhadapan dengan kamar ini.


“Selamat malam, Kinan.” Naresh menutup pintu dan kembali ke kamarnya.


***


Hari ini pagi masih berselimut dingin, seorang maid perempuan datang mengetuk pintu rumah kecil yang berpagar tumbuhan yang tinggi seperti labirin. Ia membawa semacam kotak yang dibungkus dengan kain. Ia masih saja berdiri di depan pintu menunggu sang pemilik rumah membukakan portal utama rumah.


Tak berapa lama setelah ketukan lebih dari satu kali, akhirnya si empunya membukakan pintu seorang pria dengan kaos putih dan celana panjang sedang menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan handuk. Sepertinya ia telah mandi sehingga wajahnya terlihat lebih segar di pagi yang sejuk ini.


“Sudah kau bawa apa yang aku inginkan?” tanya pria itu.

__ADS_1


Maid perempuan itu membungkuk dan menyerahkan benda yang berbentuk kotak dan dibungkus dengan kain ke arah pria itu seraya berkata, “Seperti yang Anda inginkan, Tuan Yori.”


Pria itu mengambil bungkusan yang telah disodorkan untukya. “Terima kasih Bi Saka. Tak perlu khawatir, dia bermalam di rumahku, tidajk perlu takut jika dia tidak ada di kamarnya tadi malam.”


Maid perempuan itu membungkuk lagi, “Iya, Tuan Yori. Saya permisi.” Setelah mendapat anggukan dari Tuan Yori, maid perempuan itu pergi.


Naresh sudah membawakan pakaian maid yang dibuat khusus untuk Kinanti yang sebagai pendamping nyonya besar. Pakaianya hanya berupa kemeja hitam dan celana hitam, meskipun sederhana kain yang dipakai adalah kain yang dipesan khusus. Kain itu adalah teknologi terbaru dan mutahir. Kain yang tidak mudah robek walaupun si pemakai jatuh terbentur. Selain itu, kain yang digunakan untuk baju Kinanti kedap dengan air dan mampu menyesuaikan suhu tubuh dan tak mudah terbakar.


Naresh masuk ke kamar Kinanti. Gadis itu masih tertidur dengan nyenyaknya. Naresh meletakkan kotak itu di nakas, sambil sesekali tangannya mengelus lembut puncak kepala Kinanti. Ia begitu sayang dengan gadis yang masih dipeluk hangatnya selimut.


“Kau tahu mengapa aku ingin memilikimu sejak pertama kita bertemu di depan rumah Adnan? Karena guratan wajahmu mirip sekali dengan ibuku. Jangan pergi dariku lagi ya,” Naresh tersenyum, tangannya masih bergerilya di kepala Kinanti.


Gerakan Naresh membuat gadis itu terbangun, kesadarannya berangsur pulih. Pandangannya belum sepenuhnya jelas, tapi ia bisa melihat ada sesosok yang mendekatinya. Sel syaraf terhubung, bersambungan membentuk implus seperti aliran listrik, seketika ia mengingat kejadian tadi malam. Instingnya bekerja, ia merasakan bahwa ini bukan kasur miliknya yang berada di mess perempuan. Ia bangkit dari tidurnya. Matanya sempurna terbuka melihat seorang pria dengan kaos pendek berwarna putih dengan bahan kain yang tipis, rambut yang mengkilat karena basah dan handuk yang di disampirkan sembarang di lehernya.


Pria itu tersenyum. “Selamat pagi.”


Naresh yang sebal dengan suara teriakan bernada cempreng, langsung saja membekap mulut Kinanti agar menghentikan nada yang sangat tidak nikmat untuk didengarkan. “Kenapa kau berteriak?!”


Kinanti langsung menjauhkan tangan Naresh dari mulutnya. “Apa yang kamu lakukan di sini! Jangan macam-macam kamu!” Kinanti menatap galak. Secara refleks di membalutkan lagi selimut sampai menutupi tubuhnya.


Naresh menatap tak mengerti. Ia tidak berbuat apa-apa semalam, bahkan tidurnya pun terpisah. “Oh ... aku tahu, pastinya kau berpikir aku tidur di sebelahmu. Maaf aku bukan pria yang hina, akal pikiranku masih waras untuk hal itu. Sepertinya kau lupa, jika semalam kau tertidur di pangkuanku dan aku membawamu ke kamar ini, Kinan.”


Naresh tak ingin melanjutkan perdebatannya dengan gadis itu, ia memilih berjalan menuju jendela dan membuka kain gorden agar sinar matahari masuk ke dalamnya membuat sikulasi yang baik. Tak lupa ia juga membuka jendelanya dan menghirup udara pagi yang masih segar.


Kinanti mencoba menjernihkan pikiranya yang tercemar dengan prasangka buruk. Perlahan ia membuka selimut. Benar saja! pakaiannya masih melekat di badannya tidak terlepas atau terbuka sedikit pun. Ia masih ingat jika rumah ini memiliki dua kamar yang berhadapan letaknya.

__ADS_1


Jadi benar dia tidak berbuat macam-macam tadi malam?


Kinanti menimbang penalaranya, ia juga mengingat-ingat kejadian terakhir sebelum ia jatuh dalam pelukan mimpi. Benar ia hanya melihat langit malam lalu tertidur mendengar cerita ‘Rubah Putih’, dongeng milik Naresh. Matanya menangkap aura yang menyenangkan dari pria yang tubuhnya masih menikmati semilirnya angin pagi yang bersih.


“Apakah kau terus berdiam diri di kasur itu?” pria itu di bingkai jendela, tubuhnya tidak berbalik menghadap Kinanti. “Bukankah kamu harus bersiap untuk menemani Nyonya Fernando? Tak perlu bingung, semua pakaianmu sudah aku siapakan di dekat kakimu.”


Kinanti melihat ada sebuah bungkusan dari kain satin bercorak bunga, ia mengambilnya lalu membuka bungkusan itu. Di dalamnya hanya ada baju serba hitam miliknya. Baju yang dibuat khusus untuk pendamping Sang Ratu.


Bagaimana dia bisa mengambil baju ini dari kamarku?


Kinanti tenggelam lagi pada pikirannya, ia masih memandangi busana hitamnya. Naresh yang berbalik melihat gadis itu menatap bingung. Ia tak habis pikir dengan keheranan yang tampak pada wajahnya yang berseri di pagi hari.


“Segeralah mandi dan bersiap,” ujar pria itu, “jika kamu masih merasa lelah, aku bisa memandikanmu.” Naresh tertawa penuh makna.


“Aku bisa mandi sendiri!” Kinanti langsung bergegas secepat kilat menuju kamar mandi.


Naresh hanya tertawa melihat tingkahnya, sepagi ini dalam kebahagiannya yang sederhana.


________


Biasakan setelah selesai membaca kisah ini, pencet like, beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author🤗


Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.😁


Terima kasih

__ADS_1


Salam Hangat,


Ilamy Harsa🍀


__ADS_2