
Yuk bantu Author untuk :
- Like/love setelah baca cerita ini
-Tinggalkan jejak di kolom komentar
-Beri rating 5 bintang dan vote seikhlasnya ya ... karena itu sebagai bentuk apresiasi kalian kepada author
Jika ada yang ingin ditanyakan, kritikan dan saran silakan tulis di kolom komentar
Jangan lupa favoritkan novel ini agar kamu tidak ketinggalan notifikasi saat novel ini UPDATE.
Terima kasih
Salam Hangat,
Ilamy Harsa🍀
Selamat berimajinasi
_________
Naresh menghampiri Nona berambut panjang itu. Dia tampak meringis kesakitan karena lututnya berdarah.
“Apakah Anda baik-baik saja, Nona?” Naresh merasa khawatir dan bersalah atas ketidakfokusan ia dalam berkendara.
“Tolong jangan tinggalkan saya, Tuan! Kaki saya sakit,” rintih perempuan itu.
Naresh mengamati sekitar, memang sepi. Pandangannya beralih kepada wanita yang sedang memohon itu. Sepertinya aku harus bertanggung jawab sebagai warga kota yang baik, pikir Naresh.
“Di mana rumahmu?”
“Rumah saya tidak jauh dari sini, Tuan. Saya sehabis lembur dan berniat ingin menyeberang, tapi saya tidak tahu jika mobil Tuan melaju sangat kencang tadi.” Perempuan itu berbicara seakan-akan menunjukkan kesalahan yang diperbuat oleh Naresh.
“Aku antar sampai rumah.” Naresh mengulurkan tangannya agar perempuan bisa berjalan menuju mobilnya.
“Maaf Tuan, kaki saya terlalu sakit untuk berdiri,” ucap perempuan itu.
Sekarang rasa bersalah Naresh makin berat. Ia harus menggendong perempuan itu ke mobilnya. Dengan rasa sedikit terpaksa, ia melakukannya dan perempuan itu tersenyum sangat manja.
“Apakah kita harus ke rumah sakit? Sepertinya lukamu cukup parah. Setidaknya kamu harus mendapat perawatan.” Naresh memalingkan wajahnya. Ia sedikit muak dengan wanita yang ia gendong saat ini.
“Tidak perlu Tuan, cukup antarkan ke rumah saya saja.”
Naresh menurutinya. Ia meletakkan tubuh perempuan berjas hitam itu di tempat duduk samping kemudi. Ia harus segera mengantarkan perempuan ini agar ia bisa segera pulang. Tak banyak menggunakan kata lama, Naresh menekan pedal gas dan kendaraan beroda empat ini melaju.
Perempuan itu nampak tidak kesakitan, ia sengaja memakai baju yang sedikit terbuka di bagian atas untuk menarik perhatian Naresh. Terlihat sekali lekukan membelahnya itu menyembul dari baju yang ia kenakan.
“Nama saya, Sirena. Siapa nama Tuan?” perempuan itu tersenyum dengan gincu merah menggoda setiap hasrat lelaki yang memandangnya.
“Yori.” Naresh hanya menjawab singkat. Ia tidak ingin memusatkan perhatianya kepada gadis penggoda itu.
__ADS_1
“Tuan, setelah ada tugu itu, belok kiri dan ada gang kecil di sanalah rumah saya.” Perempuan itu tak henti-hentinya menerbar pesona. Ia sedikit menggeliatkan tubuhnya.
“Sepertinya kau tak merasa sakit setelah menyerempet mobil ini.” Naresh mulai mencurigai perempuan yang sedikit tidak benar ini.
“Berkat Tuan, luka-lukaku mungkin bisa sembuh.”
Naresh sudah tidak ingin mengajak perempuan ini bicara. Ia bisa mengetahui karakteristik seseorang dengan gelagat dan penampilan. Ia menyimpulkan jika perempuan ini membutuhkan uang dan mungkin pekerjaannya adalah melayani nafsu liar para lelaki di atas ranjang.
Mobil Naresh berhenti di gang kecil. Sekarang tugasnya yang terakhir adalah menggendongnya lagi untuk sampai ke rumahnya. Lagi-lagi hasrat lelaki dalam diri Naresh bergejolak. Ia adalah pria matang yang harusnya sudah merasakan hal itu, setidaknya pemandangan keindanahan Sirena cukup membuatnya merinding.
“Apakah ini rumahmu?” tanya Naresh ketika kakinya menginjak teras kecil rumah yang tidak seberapa besar namun sangat terawat. Ia kagum dengan pot-pot bunga yang tertata apik. Selera yang bagus.
“Tuan, kuncinya berada di saku jasku.”
Mendengar hal itu, Naresh terpaksa harus meletakkan tubuh perempuan itu di kursi berada di sudut teras. Sirena mengaduk-aduk saku jas hitam yang ia kenakan, tak berapa lama beda kecil itu ketemu.
“Ini Tuan Yori.” Sirena melempar senyuman yang menggoda itu. Sangat menggoda.
Naresh langsung mengambil kunci itu dan menancapkannya ke tempatnya. Pintu segera terbuka. Aroma khas melati tercium sangat segar hingga hidung Naresh merasakan sesuatu yang sangat nyaman.
Sirena berusaha berdiri, hingga tubuhnya ambruk menimpa Naresh. Dengan sigap pria itu menariknya agar tidak jatuh. Sirena sangat menyukai keadaan ini. Sejujurnya baru kali ini ia merasakan ada getaran yang berbeda. Korbannya kali ini sungguh menawan hati.
“Lain kali jangan paksakan dirimu untuk berdiri.” Naresh berkata dingin. Akhirnya ia harus menggendong tubuh Sirena agar segera masuk ke rumahnya.
“Maaf jika saya merepotkan, Tuan.”
Naresh tak menggubris pandangan yang menggoda itu. Ia berusaha kuat untuk menahan bisikan hawa nafsu yang keranjingan menyeret agar ia masuk lebih dalam.
“Sepertinya Tuan sangat terburu-buru? Tidakah Tuan bertamu barang sebentar saja?” Sirena bagai rubah putih yang cantik. Matanya berbinar bak permata yang kilaunya menawan.
“Sebaiknya saya lekas pergi dari rumah ini. Tak enak rasanya jika ada berada di rumah ini apalagi hari sudah malam sekali. Terima kasih atas kemurahan waktunya.” Naresh ingin segera pergi dari tempat ini. Sekarang yang ia khawatirkan adalah Kinanti. Mungkin di jam seperti ini, dia sudah tidur, tapi ia ingin segera kembali ke rumah.
“Tuan! Jangan pergi dulu.” Sirena meraih jas yang di kenakan Naresh. “Mohon bertamulah walau sebentar, bagaimana jika saya ambilkan minuman untuk Anda, Tuan Yori.”
Melihat Sirena yang akan bangkit dari tempat duduknya, Naresh mencegah agar perempuan itu tetap dalam posisinya. Ia tak mau jika perempuan itu terjatuh lagi dan ia harus menggendongnya lagi. Akan sangat memakan waktu.
“Tidak perlu bergerak dari tempat dudukmu. Biar aku yang mengambil sendiri minumanku.”
Sirena tersenyum. Jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah lemari pendingin. “Tuan bisa mengambil salah satu minuman yang menyegarkan di sana.”
Naresh mengembuskan napas panjangnya. Ia berjalan sejauh sepuluh langkah dari tempatnya berdiri menuju ke lemari pendingin itu dan membuka pintunya. Naresh amat terkejut dengan isi lemari pendingin itu, hanya ada air mineral dan beberapa minuman kemasan botol berperisa macam-macam. Namun yang ia ambil adalah air mineral itu dan segera meminumnya. Menyegarkan. Itu kata yang cocok untuk minuman dingin ini. Setidaknya dahaganya sedikit menghilang karena minuman ini. Menggendong seseorang ternyata membuang banyak keringatnya malam hari ini.
“Terima kasih.” Naresh menutup botol minuman yang isinya tinggal separuh.
“Saya yang berterima kasih Tuan.”
Naresh menatap Sirena dengan pandangan yang perlahan kabur. Kepalanya terasa berat dan mendadak sekali terasa sakit. Botol yang semua ia bawa sekarang jatuh menggelinding entah ke mana. Matanya sekali lagi menatap Sirena yang sudah bisa berdiri tegak berjalan ke arahnya.
“Apakah ada masalah Tuan Yori? Boleh Saya membantu Tuan?” Sirena menyentuh pipi Naresh dengan sangat lembut.
“Kau! Bisa berjalan?” Kesadaran Naresh hampir menghilang. Tubuhnya ambruk di lantai. Ia hanya melihat Sirena dengan ketidakpastian. Seketika matanya tertutup dan gelap.
__ADS_1
Sirena tertawa, mudah sekali menjebak seorang pria kaya. Ia telah memasukkan obat tidur di semua jenis minuman yang ada di dalam lemari pendinginya. Sepasang matanya berbinar melihat mangsanya kali ini adalah tuan tampan yang kaya raya. Ia patut berterima kasih dengan Nyonya Fernando yang telah memberikan tugas yang menyenangkan ini.
Sirena memang tidak merasakan sakit. Ia memiliki trik khusus seolah-olah ia terluka karena menyerempet mobil yang dikemudikan oleh Naresh. Luka dan darah di kakinya hanya hiasan yang sangat menipu. Jangan lupakan soal penampilannya yang kelewat menggiurkan lengkap dengan gincu meraah merona yang menyala nakal.
Sekarang ia harus menyeret tubuh Naresh ke kamar miliknya dan meletakkannya di ranjang yang empuk. Baginya ranjang ini adalah arena bermain yang menyenangkan untuk melakukan berbagai gaya dalam bercinta.
“Tuan Yori, mari kita bermain malam hari ini.”
Ia menanggalkan jas dan pakaian atasnya, sambil sesekali lidahnya menjilat pipi milik Naresh.
“Anda sangat menggiurkan Tuan.”
------------
Note :
Terima kasih telah setia menunggu cerita ini update. Maaf ya dua hari ini saya sakit karena suhu di kota saya mendadak sangat dingin. Apakah teman-teman juga mengalaminya? Seperti biasa deman anak-anak menyerang dalam tubuh rapuh yang berlagak tangguh ini, hehehhehe😅😅
Terima kasih yang telah mencari saya untuk menanyakan prihal kelanjutan novel ini. saya pikir novel ini mungkin akan sepi pembaca sama seperti biasanya, ternyata ini di luar dugaan saya.🤗
Terima kasih, sekali lagi terima kasih telah mengembalikan nyawa yang sempat hilang dalam novel pertama saya ini. Mungkin tak jarang banyak yang mencibir jika novel ini ceritanya kok makin lama makin jauh. Tak apa, memang saya ingin tokoh perempuan yang keluar mendapat porsi yang sepantasnya. Hihihihi😆
Hmm, bolehkah saya mengatakan hal yang sebenarnya? Mungkin akan banyak pihak yang tersinggung soal ini, tapi biarlah saya ingin teman-teman readers mengerti akan hal ini.
😶
Mungkin di antara kalian merasa sedikit kecewa dengan novel yang mendadak tamat atau tak jarang ditinggal authornya begitu saja pindah ke tempat lain. Saya sebagai teman sesama author juga merasakan hal itu.
Mengapa hal ini bisa terjadi?🤔
Saya akan menceritakannya sedikit. Banyak yang mengeluhkan soal kesenjangan pemasukan dana. Jadi ada banyak novel di sini yang terkontrak salah satunya Perempuan Pilihanku ini. Tak jarang author yang mendapat kontrak sampai saat ini mengeluhkan tentang banyaknya pembaca yang mampir tapi yang meninggalkan jejak komentar maupun like sangat sedikit, bahkan tidak ada sama sekali.😭
Saya juga merasakan hal itu. ini bocorannya, ada sekitar ribuan yang singgah di cerita ini, namun yang ngelike gak ada separuhnya, jangan tanya soal komentar. Rata-rata yang terjadi adalah setelah baca selesai lalu tidak ada yang meninggalkan jejak. Ini yang membuat hatiku sedi, gundah gulana😭😭
Author selalu memikirkan bagaimana kisah selanjutnya, berpikir keras memeras otak yang tak jarang mereka menemukan hal buntu. Belum lagi serangan komentar yang mungkin menginginkan alur ceritanya sesuai kehendak sendiri. Wkwkkw tak apa, saya memaklumi wkwkkw. 🤣
Untuk mengupload cerita ini mungkin harus membeli pake data internet, belum hal lain seperti camilan. (wkkw ketahuan kan sering ngemil saat nulis) 🤣
Author yang baik selalu menyajikan cerita yang membuat readersnya nyaman. tak jarang banyak author yang harus belajar dasar-dasar menulis sesuai aturan yang berlaku. Jadi Auhor itu ingin kualitasnya ceritannya makin baik agar pembaca setia dengannya.🤗
Di sini saya menuliskan hal yang sebenarnya. Like, komentar, rate, favorit, dan vote itu sangat berguna bagi author. Karena apa? ini akan meningkatkan kualitas novel dan bahkan pendapatan.😊
Jadi teman-teman readersku, jika kalian membaca novel ini dan novel author lainnya, mohon kasih like dan tinggalkan komentar. Kalian membaca cerita ini dengan “free” dalam artinya tidak ada pembayaran dulu. mungkin ditempat lain jika ingin membuka 1 episode harus membayar beberapa koin/sejumlah uang. 😳
Like dan meninggalkan komentar itu adalah bentuk apresiasi dari kalian terhadap penulis. Jika mungkin berkenan bisa menambakan poin/tips agar pendapatan Author juga bertambah.🤗
Terima kasih telah membaca cuitan keresahan saya sebagai author. Terima kasih sekali lagi. wkwkkw😆
Jika ada yang ingin ditanyakan bisa komentar atau ingin membaca cerita DERANA novel ketiga saya bisa kunjungi akun instagram saya, @ilamyharsa. 😁
Sekian.
__ADS_1
Terima cinta dan kasih sayang.😃