Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 203


__ADS_3

Episode 203: Penolakan


“Bisakah saya bertemu dengan Tuan Rayhan Wijaya? Ada hal yang ingin saya sampaikan.” Kinanti sedari tadi mendesak masuk ke rumah besar ini. Tapi, ia langsung dihadang dua penjaga yang memakai pakaian serba hitam.


“Maaf, Tuan Muda tidak bisa ditemui. Silakan membuat janji terlebih dahulu,” ucap salah satu penjaga dengan kumisnya yang tebal.


“Tapi ini keadaan darurat. Aku harus menemui Tuan Ray!” Kinanti masih ngotot ingin bertemu Ray. Ia harus memastikan apakah nyonya besanya ada di dalam sana.


“Maaf, Anda harus segera pergi!” Penjaga itu menampakkan wajah garangnya.


Kinanti menggigit bibir bawahnya. Ia berpikir keras untuk mengetahui keberadaan Anneline. “Apakah di dalam itu tidak ada perempuan berambut panjang dan berkulit putih?”


“Sekali lagi saya peringatkan, Anda tidak perlu tahu ada apa di dalam rumah itu! Silakan pergi dari tempat ini!” Petugas itu melenggang pergi. Gerbang tak jadi dibuka. Sia-sia Kinanti menuju kemari dengan hasil yang nihil.


Ponsel Kinanti berdering pelan, ada pesan masuk. Ia buru-buru mengambil dari celana jeans-nya dan langsung membuka dengan menggeser di bagian layarnya. Pesan itu dari Farah, Kinanti membaca dengan saksama.

__ADS_1


“Ternyata Nyonya di rumah Farah! Astaga!” tanpa pikir panjang, Kinanti langsung menuju mobilnya. Ia harus segera ke rumah Farah, mengingat jarak antara kawasan elit dengan perumahan yang tidak dekat.


“Sepertinya aku harus ngebut malam ini.”


****


“Ada yang ingin aku tanyakan padamu sebelum aku pergi.”


Farah menatap wajah perempuan yang ternyata pernah memiliki hubungan spesial dengan suaminya. Hatinya sakit, raganya ingin memberontak. Pikiranya kacau dan hanya dipenuhi bayangan-bayangan negatif.


“Aku tak ingin merusak rumah tanggamu ... tapi, izinkan suamimu menikah denganku, Farah. Jadikan aku istri kedua dari Ilham. Kau tak perlu takut posisimu terancam, kita bisa berbagi. Aku yakin Ilham setuju dengan hal ini, jika kau menyetujuinya.” Anneline masih bisa menampilkan senyumannya seakan tidak ada beban. Ia sadar jika ucapannya ini memang menusuk hati Farah. Tapi, ia tak peduli. Yang penting Ilham menikahinya.


“Kurang ajar? Kurang ajar yang bagaimana maksudmu, Farah? Aku tidak merebut suamimu, kita berbagi. Jika kau tak ingin tinggal serumah denganku, aku bisa menyewa tempat. Kau bisa bersama Ilham dari senin sampai rabu. Kamis sampai sabtu itu jatahku. Minggu, biarkan dia beristirahat. Bagaimana?" Anneline tertawa. Ia tak pernah sebahagia ini. Penawaran yang mungkin menjadi solusi.


“Tidak! Sekarang kamu pergi dari tempat ini!” Farah berteriak kalap. Kemarahanya sudah tidak bisa ditawar lagi. Baginya, Anneline adalah perempuan gila yang sedang mengubrak-abrik rumah tangganya. Farah bisa menerima jika suaminya pernah berhubungan dengan Anneline. Tapi ia tidak bisa menerima jika suaminya harus dibagi.

__ADS_1


“Berani sekali, kau mengusirku!” Bentakan dari Farah memantik kemarahan Anneline. Ia tidak suka penolakan. Ia sudah menunggu selama enam tahun dalam penyiksaan batin yang menyakitan. Ia tak mau lagi kembali kepada suaminya ataupun ke Kota Zen.


Anneline akhirnya membuka kado yang sudah ia siapkan. Sebuah pisau yang tajam terlihat mengkilat di bawah sinar lampu. “Kau telah menolakku Farah. Aku sudah mempersiapkan kematianmu malam ini.”


________________________


Hay, aku up lagi nih! Aku sebagai author lebih senang jika pembaca kisah ini meninggalkan jempol Like dan komentar, karena ini sangat penting untukku. Karena aku tahu mana pembaca yang memberikan apresiasinya. Hanya like dan komentar saja, kalau perlu spam aja biar up-nya gak kelamanaan, hahhahah! Kalo ada poin lebih jangan lupa vote yaaaa!


Follow igeh-ku yaa! @ilamyharsa. Untuk kejelasan tentang update ataupun bersilaturahmi dengan author yang super ngeselin. Hahahahaha!


Terima kasih telah membaca kisah ini.


Salam Hangat,


Ilamy Harsa

__ADS_1




__ADS_2