Perempuan Pilihanku

Perempuan Pilihanku
Episode 62


__ADS_3

“Lepaskan perempuan itu! Jangan sakiti dia!” seru lelaki itu.


Ray memandang sosok lelaki yang berada beberapa meter dari haltenya. Dia terlihat sedikit gempal dengan pakaian seragam satpamnya.


Pak Budi berjalan menuju halte itu. Ia tadi mendengar suara perempuan menjerit, lalu pandangannya menuju pada lelaki yang memaksa Farah untuk ikut dengan lelaki itu.


“Tuan! Saya peringatkan, tolong jangan sakiti Mbak Farah!” seru Pak Budi.


Pak Budi langsung saja mendorong tubuh Ray, membuat Ray melepaskan cengkeraman tangan Farah ia tak takut dengan perawakan Ray yang menyeramkan. Pak Budi mengacungkan tongkat pentungan yang ia bawa.


“Pergi!” Pak Budi mengusir Ray dengan kasar hingga Ray terjatuh.


Ray menajamkan sorot matanya, aura iblis Ray menyelimuti dirinya. Kini Ray sudah tidak lagi memiliki kesantunan apakah ia berbicara dengan orang tua atau orang yang lebih muda.


Ray bangkit, ia berdiri di hadapan Pak Budi. Farah bersembunyi di balik punggung Pak Budi. Ia yakin bahwa Pak Budi akan menyelamatkannya.


“Aku tidak punya urusan denganmu Tua Bangka! Minggir!” Ray membentak tak kalah galak.


“Silakan pulang, jangan ganggu perempuan ini!” Pak Budi menatap galak.


Ray tersenyum licik. Dengan tiba-tiba ia melayangkan satu pukulan tinju ke arah Pak Budi, membuatnya jatuh terpental ke belakang.


“Kau jangan menghalangiku Tua Bangka, atau nasibmu bisa lebih buruk dari ini!” ancam Ray.


Pak Budi meringis kesakitan karena pukulan yang dilayangkan Ray untukknya. Farah mendekati Pak Budi, ia melihat kengerian yang diciptakan oleh Ray. Sudut mata Ray mengandung kebengisan.


“Pak Budi, Bapak tidak apa-apa?” tanya Farah panik. Ia melihat sudut bibir Pak Budi mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Ray menarik paksa tangan Farah, membuat Farah merasakan lagi kesakitan cengkraman Ray.


“Ikutlah denganku, jangan memberontak! Atau akan banyak orang yang aku sakiti!” Ray mengancam mendekatkan embusan suaranya ke dekat telinga Farah yang ditutupi hijab.


“Aku tidak mau ikut denganmu Ray!” Farah menangis, ia masih memberontak agar Ray melepaskannya. Untuk pertama kalinya ia melihat amarah Ray penuh dengan gemuruh yang bersahutan di atas awan.


Ray menyeret Farah untuk masuk ke mobilnya. Ia sedikit kesulitan karena Farah tetap berusaha melapaskan diri dari cengkeramannya.


“Cepat masuk ke mobil!” tegas Ray.


Ray memaksa Farah untuk masuk, ia sedikit kasar mendorong tubuh Farah. Dan Farah dengan terpaksa akhirnya masuk ke dalam mobil itu.


Ray bergegas menuju kursi kemudi, ia tersenyum puas membawa puan pujaannya pulang ke istananya.


Kau milikku, selamanya akan menjadi milikku. Tak peduli apapun itu.


“Pak Ray!” teriak Akmal.


Ray memandang sinis Akmal.


Lagi-lagi pengganggu datang! Tidak bisakah aku mewujudkan keinginanku!


“Aku mohon Pak Ray, jangan bawa Mbak Farah. Dia perempuan yang sudah bersuami!” Akmal menegaskan suaranya.


“Bukan urusanmu.” Ray menatap remeh Akmal. Satu pukulan lagi melayang ke pipi Akmal, bahkan Akmal belum memasang kuda-kuda. Akmal terjatuh, ia segera bangkit lalu membalas pukulan Ray.


Ray dengan lincah menghindari arah pukulan itu, ia terlatih untuk berkelahi dengan cara apapun. Seperkian detik, Ray telah melayangkan pukulan tinjunya yang kedua tepat di perut Akmal.

__ADS_1


Akmal tersungkur, ia meringis kesakitan karena perutnya mendapat tekanan yang menyakitkan dari Ray.


“Sudah aku bilang, ini bukan urusanmu.” Ray hanya berkata datar, ia segara mungkin masuk ke mobil dan mengemudikan kendaraan ini menuju istanannya.


Farah hanya menatap Ray penuh ketakutan. Ia merasa seperti akan di ajak ke tempat yang penuh dengan kemurkaan dari seorang Ray.


***


Mobil Ilham sudah memasuki lahan parkir kedainya. Ia sudah sampai di Milepolis menempuh perjalanan selama 5 jam. Ilham segera mungkin menemui Akmal, meminta penjelasan tentang kejadian selama beberapa hari saat ia tidak ada di kedai.


Ilham memasuki kedainya, ia terperanjat kaget melihat Pak Budi dan Akmal meringis kesakitan. Banyak luka di wajah mereka. Ilham menatap nanar.


“Siapa yang melakukan hal ini pada kalian?!” Ilham menegaskan pertanyaannya.


“Pak Ray. Dia juga berhasil membawa Mbak Farah entah ke mana.” Akmal menjawab pertanyaan bosnya, ia sedikit menahan sakit.


Mata Ilham membulat. Ada sengatan yang menjalar dari dada kirinya.


Apa yang akan Ray lakukan dengan istriku?


Tanpa memperdulikan Akmal dan Pak Budi, Ilham langsung berlari keluar menuju mobilnya. Ia harus segera membawa Farah kembali sebelum Ray melakukan hal-hal yang tidak pantas.


Ilham tahu bahwa Ray tidak segan jika harus menyiksa seorang wanita. Jika amarahnya semakin memuncak ia bisa saja melakukan hal-hal yang tidak wajar untuk dilakukan oleh manusia. Ilham sudah tahu tentang tabiat Ray.


Ilham melajukan mobilnya menuju rumah Ray. Ia tidak berhenti berdoa agar Farah dilindungi dari apapun yang menyakitinya.


Aku mohon selamatkan istriku, aku tidak ingin kehilangannya.

__ADS_1


__ADS_2